“Setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan melakukannya,

ia sama dengan orang yang bijaksana, yang mendirikan rumahnya di atas batu.

Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu,

tetapi rumah itu tidak rubuh sebab didirikan di atas batu.”

(Matius 7:24-25)

Rabu, 26 Februari 2014

KESELAMATAN: KASIH KARUNIA DAN IMAN



KESELAMATAN: KASIH KARUNIA DAN IMAN



Keselamatan manusia datang karena kasih karunia Allah, namun hanya bisa diterima oleh tanggapan manusia melalui iman. Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, (Efesus 2:8). Maka untuk mengerti proses keselamatan, ada dua hal yang harus kita mengerti, yaitu “kasih karunia” dan “iman”.



Dalam Perjanjian Lama, Allah menyatakan diri-Nya sebagai Allah kasih karunia dan kemurahan yang mengasihi umat-Nya bukan karena mereka layak tetapi karena keinginan-Nya sendiri untuk tinggal setia kepada perjanjian-perjanjian yang dibuat dengan Abraham, Ishak dan Yakub. Sedangkan dalam Perjanjian Baru, kasih karunia adalah kehadiran Allah melalui Yesus Kristus, yang diberikan kepada orang percaya oleh Roh Kudus, yang memberikan kemurahan, pengampunan, keinginan serta kuasa untuk melakukan kehendak Allah (Yoh. 3:16; 1 Kor. 5:10; Fil. 2:13).



Iman berarti percaya dengan sungguh-sungguh kepada Kristus yang tersalib dan bangkit sebagai Tuhan dan Juruselamat pribadi kita (Roma 1:17).[1] Iman kepada Yesus adalah satu-satunya syarat yang diminta Allah untuk keselamatan kita. Iman bukan saja suatu pengakuan kepada Yesus Kristus, melainkan harus juga diikuti dengan suatu tindakan sebagai konsekuensi orang percaya yang mau mengikut Kristus. Iman meliputi pertobatan manusia dari dosa dan berbalik kepada Allah melalui Kristus. Maka iman harus diikuti dengan penyerahan diri kepada pengudusan yang dijalani dengan ketaatan pada perintah Allah. Keselamatan di dalam Kristus ditawarkan kepada semua orang dan menjadi nyata pada orang-orang tertentu yang telah dipilih-Nya (Ef. 1:4-5), namun tergantung pada pertobatan dan iman kita sewaktu menerima kasih karunia Allah tersebut.

           

Keselamatan (Yun. soteria) berarti “pembebasan”, “mengantar dengan aman melalui”, dan “menjaga dari bahaya”. Kristus adalah satu-satunya jalan bagi manusia untuk menuju kepada Bapa di surga. Dalam Rom 1:16 Paulus menulis keyakinannya bahwa Injil adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan setiap orang percaya. Manusia yang mengalami keselamatan akan menerima pengampunan dosa (Kis 10:43; Rom 4:6-8) dan mengalami proses perpindahan, yaitu:

·       Berpindah dari kematian rohani ke kehidupan rohani (1 Yoh. 3:14);

·       Berpindah dari kuasa dosa ke kuasa Tuhan (Roma 6:17-23);

·       Berpindah dari kekuasaan Iblis ke kekuasaan Allah (Kis. 26:18).



Keselamatan disediakan bagi kita oleh kasih karunia Allah, yang diberikan-Nya dalam Yesus Kristus dengan cara penebusan. Akar kata “penebusan” (Yun. apolutrosis) berarti penebusan dengan pembayaran suatu harga (lih. Ef. 1:7 mengenai jual beli budak). Untuk dapat membebaskan manusia dari ikatan dosa serta memindahkannya ke dalam kuasa Tuhan, maka manusia harus ditebus dengan membayar suatu harga tertentu. Kristus membayar harga penebusan ini dengan mencurahkan darah-Nya serta menyerahkan nyawa-Nya (Mat. 20:28; Mark. 10:45; 1 Kor. 6:20;). Oleh karena upah dosa adalah maut, berarti untuk pembebasan dari dosa harus ada penumpahan darah (Ibr. 9:22). Melalui kematian-Nya di kayu salib, Kristus menjadi Korban yang Sempurna untuk selama-lamanya dan dengan demikian kita ditebus dari upah dosa yaitu maut.[2]











[1] Stamps Donald C., Alkitab Penuntun Hidup Berkelimpahan, Penerbit Gandum Mas, Malang, Cet. 11, 2006, 1848.


[2] McCroskey Robert D., Theologia Sistematis Dari Sudut Pandang Wesley – Arminian: Penuntun Bagi Gembala Sidang dan Kaum Awam, Kabar Kekudusan, Yogyakarta, Ed. 1, 2004, 35.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar