“Setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan melakukannya,

ia sama dengan orang yang bijaksana, yang mendirikan rumahnya di atas batu.

Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu,

tetapi rumah itu tidak rubuh sebab didirikan di atas batu.”

(Matius 7:24-25)

Minggu, 15 Oktober 2023

 

BAHAN PEMAHAMAN ALKITAB

Yakobus 1:2-3

PENCOBAAN

2 Saudara-saudaraku, anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila kamu jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan, 3 sebab kamu tahu, bahwa ujian terhadap imanmu itu menghasilkan ketekunan. 

Dalam bahasa Yunani kata ujian diterjemahkan dari kata dokimion (kata benda) yang artinya sebuah ujian, percobaan dan apa yang asli. Kata ini juga berarti yang ditemukan dan disetujui asli setelah pengujian dengan fokus pada hasil yang tak terhindarkan atau pembuktian. Dari kata sifat dokimos atau dexomai yang artinya diterima dengan benar keasliannya setelah lolos atau lulus ujian. Dapat divalidasi atau dinyatakan sah; benar; sempurna; tiada cela (dusta, palsu); sesuai dengan hukum/peraturan. Dapat diverifikasi atau diperiksa tentang kebenaran laporan dan pernyataannya. Kata ini berasal dari kata dasar dokimazo dan dokime, kata yang digunakan untuk membuktikan (menguji, memeriksa, meneliti) dan mengkorfimasi (menyetujui dan menganggap layak) keaslian sesuatu. Kata itu semua berasal dari akar kata dokeo yang artinya menganggap dan menyatakan benar.

Sementara kata pencobaan diterjemahkan dari kata Yunani peirasmois yang artinya uji coba atau coba-coba. Kata ini berasal dari kata peirasmos yang artinya percobaan, godaan, masa percobaan, pengujian, dicobai, dan musibah atau penderitaan. Kata ini ada di antara godaan atau ujian, tergantung konteksnya (bdk. Kej. 4:7, Rm. 12:17-18). Jika itu perasaan positif, maka disebut ujian dan jika perasaan negatif maka itu godaan. Jika itu positif, maka ini adalah ujian atas kesetiaan, integritas, kebajikan atau keteguhan seseorang. Secara umum kata ini berarti percobaan dan membuktikan karakter dan ketabahan iman seseorang melalui kesulitan dan kesengsaraan.

Kata ini berasal dari kata dasar peirazo yang artinya untuk membuktikan, mencoba, menguji dan menggoda. Kata ini diartikan menggoda (arti negatif, bdk. Mat. 16:1, 19:3, 22:18, 35, Mrk. 8:11, 10:2, 12:15, Luk. 11:16, Yoh. 8:6, Yak. 1:13, 14). Kata ini diartikan menguji (arti positif, bdk. Mat. 4:1, Luk. 22:28, 1Kor. 10:13 dan Yak. 1:12)

Memperhatikan perikop Yakobus 1:2-3, pengertian tersebut menolong kita untuk memahami bahwa ada sebuah kebahagiaan jika seseorang jatuh (peripesete = mungkin jatuh ke dalam, dari kata peripipto = jatuh ke tengah-tengah, terlibat dalam, benar-benar dikelilingi oleh) ke dalam berbagai pencobaan (peirazo). Mengapa disebut bahagia? Karena jika dapat melihat pencobaan itu dari perasaan atau sudut pandang positif, maka itu adalah sebuah ujian (dokime) dan bukan godaan. Lebih tepat melihat hal itu dari sudut pandang iman sehingga menjadi ujian iman. Ujian atas iman ini menghasilkan (memproduksi) ketekunan (daya tahan, ketabahan dan kesabaran, bdk. Roma 5:3-4 dan 2Ptr. 1:5-8).

Dalam rangka membedakan peirazo sebagai godaan dan ujian dibutuhkan hikmat (sophias, sophia) yaitu kebijaksanaan, wawasan, keterampilan dan kecerdasan yang dari Allah (bdk. Dan. 1:4). Hikmah itu bersumber bukan hanya dari pengalaman iman tetapi juga ketajaman membedakan apa yang baik dan yang jahat (bdk. Rm. 12:2). Hikmat yang lahir dan bersumber dari hidup yang saleh di hadapan Allah pendamai, peramah, penurut, penuh belas kasihan, dan buah-buah yang baik [bdk. Gal. 5:22-23], tidak memihak dan tidak munafik [3:17]) serta yang tidak lahir dari nafsu manusia, dari setan-setan, dari iri hati, dari mementingkan diri sendiri dan dari dusta (bdk. 3:14-16). Hikmah yang dimaksud adalah hikmat yang ada dalam Kristus Yesus (bdk. 1 Kor. 1:30-31, 2 Korintus 13:5).

Karena ini adalah ujian iman, maka selain melihat hal itu dari sudut pandang iman, dibutuhkan hikmah dari Allah yang murah hati dengan cara meminta hal itu dengan iman, dengan kesungguhan dan tidak dalam kebimbangan.

DISKUSI:

1.  1. Jika penulis surat Yakobus menganggap sebuah kebahagiaan jika jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan, bagaimana perasaan Saudara? Ceritakanlah pengalaman Saudara sendiri!

2. Bagaimana membedakan peirazo sebagai godaan dan peirazo sebagai ujian? Berikanlah contoh nyata yang pernah Saudara alami atau Saudara lihat melalui pengalaman orang lain!

3. Berdasarkan pengalaman dan cara pandang  Saudara, apa yang membuat Saudara menjadi tekun dan mengalami kematangan iman? (Iman yang matang = dewasa, bdk. Ef. 4:12-15, 1 Korintus 13:11-12 dan Ibrani 5:12-14).