“Setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan melakukannya,

ia sama dengan orang yang bijaksana, yang mendirikan rumahnya di atas batu.

Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu,

tetapi rumah itu tidak rubuh sebab didirikan di atas batu.”

(Matius 7:24-25)

Minggu, 23 Desember 2012

KELAHIRAN KRISTUS MEMBAWA PERUBAHAN HIDUP


KELAHIRAN KRISTUS MEMBAWA PERUBAHAN HIDUP
Oleh: Niken Nababan
(Ditulis untuk halaman FOKUS dalam Buletin PMKT UGM Edisi Desember 2012)

Kelahiran Yesus Kristus di muka bumi adalah wujud kasih-Nya yang tidak dapat diukur oleh apapun. Kelahiran-Nya merupakan kesukacitaan besar bagi umat Kristen karena Dia yang membebaskan manusia dari belenggu dosa. Yesus membawa perubahan besar karena jati diri-Nya dan cara-Nya dalam menyentuh hidup manusia. Yesus yang adalah Tuhan menyetarakan Diri-Nya dengan manusia untuk menyelamatkan kita, dan rela menjadi miskin untuk menjadikan kita kaya. Kelahiran-Nya di kandang domba yang hina dan kotor tidak mempengaruhi status keAllahan-Nya, sebaliknya Dia membawa pengaruh besar bagi dunia. 
Apakah fakta tersebut benar-benar telah kita pahami ataukah hanya sebatas pengetahuan yang telah diajarkan turun-temurun? Nampaknya kita perlu memperhatikan seruan Soren Kierkegaard (1813-1855), seorang pendeta Lutheran dari Denmark, “Yang aku pikirkan bukanlah apa yang harus aku ketahui, melainkan apa yang harus aku lakukan.” Jika kehadiran-Nya telah menggoncangkan kekuasaan Kaisar Romawi, mengubah pola pikir para pemimpin agama, dan membongkar tradisi bangsa Yahudi yang sangat ketat, tentulah Kristus juga akan mengubahkan hidup kita. Dapatkah perubahan itu datang dengan sendirinya? Tentu saja tidak. Lalu apa yang harus kita lakukan dalam menyambut kelahiran-Nya?
“Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus, yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, ...” (Fil. 2:5-6). Ayat ini ditulis Paulus dalam bentuk kalimat perintah, bukan sebuah saran. Kata “pikiran” (Yun. phroneo) dalam bahasa aslinya bisa berarti “pendirian” atau “sikap”. Di sini kita melihat suatu iman di mana Paulus membawa seluruh kehidupannya masuk ke dalam kehidupan Kristus. Segala hal yang ditunjukkan Yesus menjadi sangat penting bagi kita karena kita harus meneladani-Nya. Hidup kita adalah hasil dari pikiran dan perasaan kita, yang seharusnya merupakan hasil dari pengenalan kita akan Kristus. Iman kepada Kristus akan membawa kita kepada pikiran dan perasaan yang benar dan menjadikan hidup kita benar.
Kita perlu lebih dari sekedar membuat Yesus hidup di dalam diri kita. Kita harus mengadopsi pikiran Kristus melalui doa dan mempraktikkan disiplin rohani yang dicontohkan-Nya. Kita beralih dari berfokus kepada “aku” menuju berfokus kepada Kristus yang akan mengubah kehidupan kita dari hidup yang sia-sia menuju hidup yang diberkati. Dari manusia biasa saja menjadi manusia luar biasa. Jika Kristus ada dalam hati kita, memenuhi hidup kita, dan kita lakukan apa yang diajarkan-Nya, maka kita akan diubahkan menjadi seperti Dia dan dapat melakukan perkara yang besar bersama Dia. 

Natal bukan sekedar untuk dirayakan atau diperingati. Natal seharusnya menjadi momen setiap hari untuk memperteguh iman kita kepada Yesus agar kita diubahkan menjadi serupa dengan Kristus. Mari kita jadikan Natal untuk berubah menjadi semakin dewasa rohani, semakin mengasihi, semakin melayani, dan semakin menjadi berkat bagi sesama.
Tuhan memberkati kita. Amin.





Tidak ada komentar:

Posting Komentar