“Setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan melakukannya,

ia sama dengan orang yang bijaksana, yang mendirikan rumahnya di atas batu.

Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu,

tetapi rumah itu tidak rubuh sebab didirikan di atas batu.”

(Matius 7:24-25)

Selasa, 12 April 2011

STRATEGI PAULUS UNTUK MENGHADAPI GLOBALISASI

Oleh : Niken Nababan


1.      Intercession (doa syafaat)

Doa adalah fondasi segala hal yang mau kita kerjakan. Yesus memulai pekerjaan pelayanan-Nya dengan doa dan Dia menginginkan kita untuk mengikuti teladan-Nya ini. Doa penuh kuasa karena kita mengundang Allah untuk bekerja di dalam segala aspek kehidupan kita. Doa membawa arah dan suka cita di dalam hidup kita. Doa memperkuat kita dalam hal iman, pengharapan dan kasih, dan Alkitab mengajarkan bahwa di antara ketiga hal ini, yang paling besar adalah kasih.

Dengan alasan semua itu maka doa berada di tempat pertama yang harus dikerjakan terlebih dahulu sebelum melakukan pekerjaan penginjilan. Kita mendoakan orang-orang yang akan kita temui secara khusus dengan menyebut nama mereka. Ketika kita mendoakannya, kita memikirkan hal yang baik dan berharap Tuhan menjamahnya, maka Tuhan akan menumbuhkan kasih di hati kita kepada orang tersebut. Jika kita ditolak, dimusuhi atau bahkan disakiti, Tuhan akan menolong kita untuk tetap dapat mengasihi dan mengampuni orang itu. Dan kasih itu sendiri memiliki kuasa melunakkan hati yang keras dan memadamkan api amarah yang membakar jiwa.

Kita juga harus mendoakan semua orang Kristen agar mereka menjadi saksi Kristus di manapun mereka berada dan di dalam profesinya masing-masing. Tugas penginjilan bukan hanya tugas pendeta atau majelis tetapi tugas semua orang Kristen. Maka setiap orang Kristen harus menjadi “saksi Kristus” yang artinya bukan hanya bisa memberitakan Injil, tetapi menunjukkan sikap yang mencerminkan karakter Kristus. Sering kali orang dimenangkan bukan dari kata-kata kita tetapi dari sikap dan perbuatan kita. Semuanya bisa terjadi karena kuasa doa.

2.      Identifikasi

Di bagian ini kita belajar mengerti orang lain, memahami kebutuhannya, cara berpikirnya, pandangan-pandangannya. Ketika masuk ke dalam lingkungan yang baru, kita harus beradaptasi terlebih dahulu sampai menemukan kesempatan dan saat yang tepat untuk memberitakan Firman. Kita perlu membina hubungan yang baik dengan orang-orang yang berpengaruh di lingkungan itu agar kita lebih cepat diterima oleh semua orang.
3.      Intermingling (pembauran)

Kita harus berani menembus batasan-batasan yang ada setiap kita memasuki sebuah komunitas. Batasan itu antara lain, faktor budaya, suku, agama, usia, kebiasaan dan hobi. Kita harus mau mengurangi bagian kita dan membaur dengan mereka. Inisiatif harus datang dari kita, tidak menunggu mereka yang datang pada kita. Konsekuensi pembauran adalah kita mungkin akan merasa kurang nyaman karena harus melakukan hal-hal yang belum atau tidak kita sukai. Mungkin juga kita mengalami sakit hati karena benturan-benturan tertentu. Tapi Yesus berkata, “barang siapa mengikut Aku, harus menyangkal diri dan memikul salib”. Kita hanya perlu tunduk dan taat pada perintah-Nya, dan Dia akan menguatkan kita. Jika kita sabar, kita akan melihat karya Allah yang luar biasa indah pada waktunya, yaitu perubahan terjadi pada orang-orang yang kita layani lebih daripada yang dapat kita bayangkan.

4.      Infusi (penanaman paham)

Jika ketiga hal di atas sudah terjadi, di saat inilah kebenaran Firman Tuhan dapat diberitakan. Kita harus membelokkan mereka agar melihat dan menuju ke arah kebenaran sejati.

Pelajaran penting bagi kita pada bagian ini:
  • Belajar terus untuk menyangkal diri dengan mendoakan Muslim dan orang-orang yang menyakiti kita agar Tuhan menumbuhkan kasih di hati kita bagi orang itu.
  • Belajar terus untuk menumbuhkan karakter Kristus dalam diri kita sehingga orang melihat kita ‘berbeda’ dengan orang non Kristen karena kita memancarkan terang Kristus.
  • Siap menderita di dalam penginjilan.
  • Tidak kuatir karena Tuhan membentengi kita dengan kasih setia-Nya.

CIRI-CIRI GLOBALISASI

  1. Individuisme
Orang cenderung egois, mementingkan diri sendiri, tidak peduli pada orang lain. Dahulu orang menonjolkan suku atau kelompok dalam memperkenalkan identitasnya. Tetapi sekarang sudah bergeser lebih menonjolkan dirinya sendiri.

  1. Identitas individu tergoyang
Pada saat orang menonjolkan suku sebagai identitasnya, perubahannya lambat. Tetapi ketika orang lebih menonjolkan dirinya sendiri, maka akan ada perubahan terus dan bisa terjadi secara cepat. Misalnya, orang menunjukkan identitas dirinya dengan profesi, maka jika profesi berganti, berubah pula identitasnya.

  1. Kapitalisme didukung pasar bebas
Pada kondisi ini, orang cenderung menganggap keberhasilan seseorang adalah jika ia mempunyai banyak uang. Mereka berpikir, dengan uang akan bisa membeli apa saja yang sama dengan orang lain atau bahkan lebih bagus dari kepunyaan orang lain, dan mereka akan menjadi lebih dihormati. Uang bahkan bisa membeli kekuasaan, jabatan dan pendidikan. Ini fenomena di Indonesia.

  1. Perdagangan bebas
Terjadi pasar global yang membuat suatu negara harus punya ciri khas untuk bisa bersaing dengan negara lain. Contoh: Swiss unggul dengan jam tangan. Perancis unggul dengan mode dari mulai dari pakaian, sepatu, tas dan parfum. Jepang unggul di bidang otomotif sampai produk Jepang menjadi raja di Indonesia. Orang akan cenderung memilih produk-produk unggulan meskipun harganya mahal karena dapat meningkatkan gengsi.

  1. Materialisme dan konsumerisme
Harga diri, keberhasilan dan kebahagiaan ditentukan oleh uang dan barang yang dapat dikumpulkan. Nilai-nilai rohani sudah menurun. Banyak orang memakai atribut tertentu hanya sekedar untuk menunjukkan bahwa dia seorang Muslim. Namun di dalam kenyataan hidup sehari-sehari dia tidak pernah melakukan ajaran Islam.

  1. Stratifikasi oleh prestasi
Dahulu orang dihargai dari status keturunan. Misalnya di Jawa, mereka akan dihargai karena keturunan bangsawan. Tapi sekarang hal itu sudah bergeser. Orang lebih menghargai mereka yang berprestasi dibandingkan yang keturunan bangsawan namun hanya menjadi ‘orang biasa’.

   Globalisasi telah membuat banyak perubahan besar-besaran pada diri setiap orang. Dari sisi agama di Indonesia hal ini sangat menonjol. Banyak orang menjual agama untuk mendapatkan keuntungan besar. Misalnya majalah-majalah yang menampilkan trend mode baju Muslim. Musik, film dan lagu yang berbau rohani tetapi ternyata orang yang menampilkannya punya moral yang tidak sesuai ajaran agamanya. Buku-buku rohani yang dari luar menawarkan ajaran unggul tapi sebenarnya isinya dangkal. Hal ini bukan hanya terjadi pada orang Muslim, tetapi banyak terjadi juga pada orang Kristen. Kita menghadapi kenyataan, banyak hamba Tuhan yang mencari kekayaan dengan menjual kotbah atau menampilkan tata ibadah yang spektakuler.

   Kita harus punya benteng yang kuat untuk menghadapi globalisasi dengan benteng iman yang terus diperteguh agar kita sendiri tidak terseret arus globalisasi. Sangat sulit melakukan penginjilan dalam masa seperti ini karena nilai-nilai rohani sudah sangat menurun. Mengembalikan perhatian orang kepada hal yang bersifat kekal perlu perjuangan keras. Namun jika kita tekun dan membiarkan Tuhan bekerja pada diri kita sesuai dengan rencana-Nya, maka semua bisa terjadi dengan kehendak-Nya. Yang penting adalah  kita mengerjakan bagian kita dengan sebaik-baiknya, hasilnya adalah bagian Tuhan yang memberikannya bagi kita dan bagi kemuliaan-Nya.

ETIKA KRISTEN DALAM MENGHADAPI GLOBALISASI

ETIKA KRISTEN DALAM MENGHADAPI GLOBALISASI

Refleksi dari Matius 13:31-32.

            Biji sesawi, benih yang sangat kecil, tapi kemudian tumbuh menjadi pohon yang sangat besar, dan pohon itu menjadi tempat perlindungan bagi burung-burung. Demikianlah seharusnya setiap orang percaya, terus-menerus bertumbuh, dari semula merupakan bayi yang hanya bisa menangis, seiring dengan pertumbuhan tubuhnya, bertumbuh pula kerohaniannya, dan menjadi seorang dewasa yang menjadi berkat bagi orang lain selama hidupnya.  Pertumbuhan rohani ini merupakan suatu proses yang tidak pernah berakhir. 

            Di dalam pertumbuhan pasti mengalami jatuh dan bangun. Namun prosesnya harus menunjukkan suatu peningkatan. Seperti seorang yang sedang naik gunung, di dalam usaha mencapai puncaknya dia akan mengalami peristiwa terpeleset dan terpaksa turun dua langkah, tapi dia harus naik lagi tiga langkah. Maka pertumbuhannya menunjukkan kenaikan menuju ke arah puncak. Jadi, perubahan yang harus dialami oleh setiap orang Kristen untuk menjadi lebih baik tidaklah selalu merupakan jalan yang mulus tanpa hambatan. Prinsipnya, di dalam bertumbuh, setiap orang Kristen harus meletakkan dirinya di bawah otoritas Tuhan sebagai Sang Pencipta agar selalu ditolong untuk bertumbuh ke arah yang benar.

            Globalisasi adalah penyebab perubahan hebat yang sudah dialami manusia berabad-abad lamanya. Sebagian manusia dengan cepat mengikuti perubahan ini. Tapi sebagian lain lambat atau bahkan tidak mau berubah. Beberapa alasan penyebab manusia sukar berubah, yaitu 1) tidak mau meninggalkan kenyamanan yang sudah dimiliki, 2) takut menghadapi hal yang baru, 3) budaya yang mengikat, 4) malas atau tidak mau repot.

            Manusia adalah pembentuk budaya. Budaya dibentuk supaya ada peraturan agar manusia bisa hidup bersama dan berhubungan satu sama lain dengan harmonis. Tapi manusia sering menjadi terikat dengan budaya ini dan sulit untuk melepaskan diri dari budayanya. Kita sering lupa pada hakikat dibentuknya budaya itu. Selama budaya itu masih relevan untuk membangun hidup kita ke arah yang lebih baik, maka kita boleh tetap mempertahankannya. Namun jika budaya itu sudah mengganggu pertumbuhan rohani kita, atau bahkan merusaknya, maka seharusnya kita meninggalkannya dan membentuk budaya yang baru atau masuk ke dalam budaya yang lain. Berubah memang bukan sesuatu yang mudah dilakukan. Tetapi bukan tidak bisa. Semua bergantung pada diri kita sendiri apakah kita mau berubah. Tuhan sudah memberikan kuasa kepada kita untuk mengelola dunia ini, kita tinggal memilih mau atau tidak.

            Bagaimana kita menyikapi alat-alat globalisasi? Jika kita mengalami dampak yang baik dari alat-alat globalisasi itu, maka kita akan memujinya. Tapi jika kita mengalami dampak yang buruk, kita juga  menyalahkannya. Alat-alat globalisasi tidak ada yang salah. Benar atau salah, baik atau buruk dampaknya, semua adalah tanggung jawab kita sendiri. Maka, di dalam menyikapi alat-alat globalisasi, seperti komputer, handphone, televisi, dan lain-lain, kita harus selalu minta hikmat Roh agar kita mendapat perlindungan dari Tuhan untuk bisa menyaring mana yang harus diterima dan mana yang harus ditolak, serta diberi kemampuan untuk menahan diri menghadapi tawaran-tawaran yang nampaknya indah namun menyesatkan.

            Bagaimana kita menerapkannya dalam konteks Indonesia? Indonesia adalah negara dengan banyak suku sehingga beragam pula budayanya. Kita bisa membuat perubahan yang baik dengan pencampuran/perkawinan budaya. Contohnya, budaya Batak dikawinkan dengan budaya Jawa. Jika hal yang baik dari kedua budaya itu disatukan dan yang buruk dibuang, maka akan timbul suatu perubahan yang baik. Orang Batak dengan karakternya yang tegas dan prinsip yang kuat, jika ia mau belajar bersikap lemah lembut seperti orang Jawa, akan menghasilkan karakter manusia yang lebih baik. Pemberian marga kepada orang Jawa yang sering dilakukan karena perkawinan antar budaya ini, bisa membuat perubahan yang semakin baik jika dia menerimanya dengan sikap terbuka dan mau berubah untuk menjadi lebih baik. Sifat orang Jawa yang suka berbasa-basi sehingga tidak menampilkan dirinya yang sesungguhnya, dapat dirubah menjadi lebih baik jika ia mau belajar berbicara sesuai isi hatinya seperti orang Batak. 

            Agama mayoritas di Indonesia adalah Islam. Fakta sejarah di Indonesia, kelompok ini nampaknya telah memberi tekanan yang keras pada orang Kristen. Mengapa? Karena Kristen, walaupun minoritas, tetap mempunyai pengaruh yang besar dan eksis dalam pembentukan budaya di Indonesia sehingga menjadi komunitas yang disegani Islam, bahwa jika tidak dibatasi pergerakannnya, budaya Kristen akan menyingkirkan Islam. Setidaknya, itulah  mungkin yang banyak kita rasakan sebagai kelompok minoritas di negara ini. Sebagai orang percaya kita harus bisa menyikapi hal ini dengan bijak. Sikap yang terbuka dan mau berbaur akan memberi peluang bagi kita untuk menyampaikan nilai-nilai yang baik dan menjadi terang di antara mereka. Bukan malah bersikap memusuhi yang akan berpotensi memicu konflik.