“Setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan melakukannya,

ia sama dengan orang yang bijaksana, yang mendirikan rumahnya di atas batu.

Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu,

tetapi rumah itu tidak rubuh sebab didirikan di atas batu.”

(Matius 7:24-25)

Jumat, 09 November 2012

MENUMBUHKAN SEMANGAT MELAYANI TUHAN


Menumbuhkan Semangat Melayani Tuhan
Oleh: Niken Nababan pada Persekutuan Doa SVT 4 Nopember 2012



Arti Melayani Menurut Alkitab

Kata “melayani” mempunyai beberapa makna berdasarkan ayat-ayat sebagai berikut:

a)   Melayani sebagai kewajiban hamba/budak (δουλοω: douloõ) dalam Mat 20:26

Pada zaman PB, seorang budak dapat dibeli atau dijual sebagai komoditi. Seorang budak sama sekali tidak memiliki hak untuk kepentingan dirinya sendiri. Dalam ketaatan penuh ia hanya bisa berkata dan bertindak atas perintah tuannya tanpa bisa membantahnya. Benar-benar menjadi orang yang tak berdaya. Sebagai orang percaya, kita sekarang adalah orang-orang yang telah dimerdekakan dari dosa, kemudian dibentuk untuk menjadi hamba/pelayan kebenaran (Roma 6:18) dan menjadi hamba Allah (Roma 6:22).

b)   Melayani di sekitar meja makan (διακονεω: diakoneõ) dalam Luk 17:8 dan Yoh 12:2. 

    Pelayan meja makan harus siap melayani orang-orang yang ikut jamuan makan, mulai dari menghidangkan makanan sampai membersihkan semuanya jika telah selesai. Pelayan harus bisa membuat semua yang dilayani merasa puas.

c)  Melayani sebagai kewajiban bawahan terhadap atasannya (υπηρετης: hupérètés) dalam Kisah 24:13.

Kita melihat sahabat-sahabat Paulus bertindak selaku hupérètés  terhadap Paulus, yaitu menolong hamba Tuhan lain agar pelayanannya menjadi lebih efektif. Seorang huperetes adalah seorang yang segera mengerjakan apa yang diperintahkan kepadanya dan tidak banyak bertanya tentang tugas-tugasnya. Contoh lain adalah Epafroditus yang melayani keperluan Paulus dan mengantar surat-suratnya (Filipi 2:25); Onesimus orang yang menyediakan semua kebutuhannya saat di penjara Roma (Filemon 1:10).

d)  Melayani orang banyak sebagai tanggung jawab jabatan (λιτουργικος: litourgikos).  

    Contohnya, petugas sipil, militer dan pegawai pengadilan (Bil 11:16); pekerja Bait Allah (Yer 20:1; Kisah 13:2; Luk 12:58; Yoh 7:32; 18:12).

Setiap pelayan Tuhan bisa menjalankan keempat peran di atas, yaitu: menjadi seorang hamba atau budak Kristus (doulos); menjadi seorang pelayan yang selalu setia dan siap menolong orang lain dalam memenuhi kebutuhannya (diakonos); menjadi seorang yang mungkin tidak diperhitungkan dan tidak terlihat namun pelayanannya amat penting (hupérètés); menjadi seorang yang melayani masyarakat atau jemaat sebagai petugas pemerintah atau Gereja (litourgikos). Namun peran yang menjadi dasar dari semua peran pelayan adalah menjadi hamba Kristus. Dalam Roma 6:18 dan 22 telah ditulis dengan sangat jelas bahwa seorang yang telah diselamatkan oleh Kristus otomatis dia menjadi hamba Kristus.
Yesus telah menyempurnakan dan mengembangkan arti ‘melayani’ yang sebenarnya. Dalam Matius 25:42-43 Yesus menyebutkan berbagai perbuatan seperti memberi makan, memberi minum, memberi penginapan, memberi pakaian, mengunjungi orang sakit dan menengok orang yang berada di penjara. Inilah maksud dan tujuan orang Kristen yang menggambarkan bagaimana caranya mengikut Kristus, yaitu dengan cara saling mengasihi sebagaimana Kristus mengasihi murid-murid-Nya (Yohanes 13:34}, yang diwujudkan dengan bentuk pelayanan yang nyata. Yesus memberikan pandangan ini sehubungan dengan tujuan hidup-Nya sendiri bahwa Anak Manusia tidak datang untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan memberikan nyawa-Nya sebagai tebusan bagi banyak orang (Matius 20:28). Melayani di sini mempunyai makna menyediakan segala yang diperlukan manusia untuk keselamatannya. 

Menjaga Konsistensi Melayani

Ketika kita menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat kita secara pribadi, pada saat itu juga sebenarnya kita harus berkomitmen untuk menjadi hamba kebenaran dan hamba Allah, yaitu menyerahkan tubuh kita menjadi persembahan yang hidup, kudus, dan berkenan kepada Allah (Gal 5:13; Roma 6:18, 22; 12:1). Sebagai ‘hamba Allah’ kita tidak boleh membantah apa yang Allah perintahkan. Itu berarti kita harus memiliki konsistensi dalam melayani. Yang dibutuhkan agar kita tetap konsisten melayani adalah ‘kesetiaan’ kepada Allah sebagaimana Allah setia mengasihi kita. Kesetiaan tidak dengan sendirinya terjadi dalam hidup kita tetapi harus dilatih terus-menerus. Supaya setia kepada Allah, kita dapat mengingat hal-hal berikut:

a)     Siapakah yang kita layani?
Sebagai pelayan Tuhan, kita harus sadar bahwa yang kita layani adalah Tuhan, Allah Pencipta langit dan bumi. Allah yang memelihara kita dalam kehidupan ini. Berapa banyak berkat-Nya yang telah tercurah mungkin tak akan dapat kita hitung. Masihkah kita enggan melayani Tuhan? Nabi Elia, misalnya, selalu mengatakan “Demi Tuhan yang kulayani” ketika ia menyampaikan firman Tuhan kepada umat-Nya (1 Raja 17:1; 18:15). Rasul Paulus pun mengatakan hal yang sama (Roma 1:9).

b)     Apa tujuan kita melayani?
Tujuan utama kita melayani adalah untuk menggenapi rencana Allah bagi seluruh umat manusia dan untuk memuliakan nama-Nya.
   
Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia. (Kol. 3:23)
  Apa pun yang Saudara lakukan  —  Saudara makan atau Saudara minum  —  lakukanlah semuanya itu untuk memuliakan Allah. (1 Kor 10:31)
                                                                                   
Jika kita telah memahami keberadaan kita sebagai hamba Allah, maka motivasi kita untuk melayani bukan lagi berpusat pada kepentingan diri sendiri melainkan bagi kemuliaan Allah. Motivasi kita untuk melayani Tuhan dapat dijabarkan sebagai berikut:
  •   Motivasi Ketaatan
Ketaatan melakukan perintah Tuhan untuk melayani Tuhan dan sesama.
Yesus menjawab, "Di dalam Alkitab tertulis, ‘Sembahlah Tuhan Allahmu dan layanilah Dia saja."—  (Luk 4:8)
  Layanilah seorang akan yang lain, sesuai dengan karunia yang telah diperoleh tiap-tiap orang sebagai pengurus yang baik dari kasih karunia Allah. (1 Petrus 4:10) 
  • Motivasi Kasih
Kasih kepada sesama seperti yang diperintahkan dan diteladankan oleh Tuhan Yesus sendiri.
  Jadi jikalau Aku membasuh kakimu, Aku yang adalah Tuhan dan Gurumu, maka kamupun wajib saling membasuh kakimu; sebab Aku telah memberikan suatu teladan kepada kamu, supaya kamu juga berbuat sama seperti yang telah Kuperbuat kepadamu. (Yoh 13:14-15)
  Saudara-saudara, memang kamu telah dipanggil untuk merdeka. Tetapi janganlah kamu mempergunakan kemerdekaan itu sebagai kesempatan untuk kehidupan dalam dosa, melainkan layanilah seorang akan yang lain oleh kasih. (Gal 5:13) 
  •  Motivasi Keteladanan
Meneladani apa yang Tuhan Yesus lakukan saat Ia berkata bahwa Ia datang untuk melayani (Mrk 10:45). Bahkan Ia mengatakan bahwa kita dimampukan melakukan pekerjaan yang lebih besar dari yang dilakukan-Nya (Yoh 14:12).
  •  Motivasi Misi
Menyadari bahwa kita dipilih dan diberi kuasa untuk mengerjakan misi Allah, serta mewariskan iman yang hidup itu kepada generasi yang kemudian.
  Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi." (Kis 1:8)
  Apa yang telah engkau dengar dari padaku di depan banyak saksi, percayakanlah itu kepada orang-orang yang dapat dipercayai, yang juga cakap mengajar orang lain.(2 Tim 2:2)
  •  Motivasi Zaman Akhir
Melayani sebagai tindakan berjaga-jaga untuk menyambut datangnya Kristus  yang kedua kali.
     Berbahagialah hamba-hamba yang didapati tuannya berjaga-jaga ketika ia datang. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya ia akan mengikat pinggangnya dan mempersilakan mereka duduk makan, dan ia akan datang melayani mereka. ... Hendaklah kamu juga siap sedia, karena Anak Manusia datang pada saat yang tidak kamu sangkakan." (Luk 12:37, 40) 

Kita telah mengerti bahwa kita harus melayani dengan motivasi yang benar, namun sebagai manusia, kita pun sangat terbatas dan dipengaruhi oleh kebutuhan-kebutuhan manusiawi kita.

Pada umumnya ada tiga bentuk motivasi manusia:
  • Motivasi Ketakutan (Fear Motivation), yaitu motivasi karena adanya rasa takut. Orang mau melakukan sesuatu karena takut akan adanya paksaan atau tekanan dari berbagai pihak. Ia takut akan akibatnya jika ia tidak melakukan hal itu.
  • Motivasi Imbalan (Incentive Motivation), yaitu motivasi karena adanya imbalan (intensif). Imbalan ini bisa berupa pujian, prestise, promosi atau penghargaan.
  • Motivasi Sikap (Attitude Motivation), yaitu motivasi yang berhubungan erat dengan tujuan-tujuan yang bersifat pribadi, bukan dari luar. Bentuk ini juga disebut Motivasi Diri (Self Motivation).
Motivasi-motivasi tersebut menggambarkan sifat manusia yang cenderung berpusat pada diri sendiri. Kita sebagai orang yang telah diselamatkan oleh darah Kristus harus berjuang untuk menanggalkan segala sifat egois kita dan belajar untuk hidup berpusat pada Kristus. Untuk dapat memiliki hidup yang demikian, tidak ada jalan lain selain dibutuhkan kesetiaan dan ketekunan. Hidup di dalam Kristus bukan hanya memberikan pengharapan untuk kelak menikmati kehidupan surga yang kekal, tetapi juga memberikan pengharapan akan pemeliharaan Tuhan selama kita hidup di dunia. Demikian indahnya janji Tuhan bagi kita seharusnya memperteguh kesetiaan kita melayani Tuhan.

  Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu. (Mat 6:33)

Menjaga Semangat Melayani

Ada tiga sumber semangat:
  • Semangat dari dalam diri sendiri.
Sejak awal orang seperti ini memang sudah aktif dan agresif. Ia mampu membangun motivasi diri dengan baik. Orang seperti ini memiliki prinsip hidup yang amat kuat, dan rasa percaya diri yang amat besar. Contoh Alkitab adalah Kaleb,
  Tetapi hamba-Ku Kaleb, karena lain jiwa yang ada padanya dan ia mengikut Aku dengan sepenuhnya, akan Kubawa masuk ke negeri yang telah dimasukinya itu, dan keturunannya akan memilikinya. (Bil 14:24)
  • Semangat yang timbul karena pengaruh lingkungan.
Seorang mahasiswa bersemangat mengerjakan tugas praktikumnya karena berada dalam satu kelompok dengan teman sahabatnya. Seorang atlit bersemangat latihan setiap hari karena dijanjikan hadiah yang besar jika dia menang. Contoh dalam Alkitab adalah ketika orang banyak bersemangat mengikuti Yesus. Semangat itu dipengaruhi oleh motivasi untuk menerima kesembuhan, mendapatkan makanan, dan berbagai mujizat lainnya.
   
Setelah Yesus turun dari bukit, orang banyak berbondong-bondong mengikuti Dia.  (Mat 8:1) 
  • Semangat dari Tuhan.
Contoh yang sangat jelas adalah semangat Rasul Paulus dalam memberitakan Injil.
  Sebab itu kami tidak tawar hati, tetapi meskipun manusia lahiriah kami semakin merosot, namun manusia batiniah kami dibaharui dari sehari ke sehari. (2 Kor 4:16)
  Sebab Allah memberikan kepada kita bukan roh ketakutan, melainkan roh yang membangkitkan kekuatan, kasih dan ketertiban. (2 Tim 1:7) 

Sinonim kata “semangat” adalah antusias, bergairah, menaruh minat besar, bergelora hati, berkemauan yang kuat untuk terus bekerja, berjuang. Semangat sangat penting dalam membangun apa saja, baik kuliah, pelayanan, pekerjaan, meraih cita-cita, dsb. Semangat dapat memberi kita kekuatan untuk bertahan, tetap berjuang, memberi pengharapan, memperluas visi, membuka jalan keluar dari masalah. Bukan semangat biasa saja yang kita butuhkan melainkan semangat yang datang dari Tuhan dan dari hati.

Seperti yang dialami Nehemia dan kawan-kawan di dalam membangun kembali kota Yerusalem yang sudah hancur. Secara manusia sudah tidak mungkin, tetapi Tuhanlah yang memberi semangat untuk tetap maju meskipun banyak tantangan dan serangan yang mengancam nyawa Nehemia. Demikian pula dengan Paulus yang ditindas, dianiaya, difitnah tetapi tetap bertahan memberitakan Injil sampai akhir hidupnya.

Apa yang membuat orang patah semangat untuk melayani Tuhan?
  • Sikap apatis = tidak peduli, masa bodoh (Roma 14:23).
  • Serangan/pekerjaan iblis untuk melumpuhkan iman kita dengan cara mengalihkan perhatian kepada kesenangan-kesenangan sesaat/sementara. Fokus kita untuk Tuhan dan pekerjaan-Nya dialihkan kepada hal-hal jasmani atau materi sehingga lupa dengan perjanjian yang disiapkan Tuhan bagi kita.
  • Egois, mencintai diri sendiri, memanjakan diri sendiri, mengasihani diri sendiri.
Bagaimana agar tetap semangat melayani Tuhan?
  •   Mengenal Allah.
Kita harus mengenal Allah  dengan jelas dan itu hanya bisa dicapai dengan komunikasi yang intensif melalui Saat Teduh, berdoa, dan membaca Alkitab setiap hari. Kita perlu mempunyai pengalaman pribadi dalam hidup bersama dengan Tuhan untuk bisa mengenal-Nya secara jelas.
Contoh dalam Alkitab: Yosua dan Kaleb sekembalinya dari tugas mengintai tanah Kanaan, mereka makin bersemangat dan bertambah yakin kepada janji Allah bahwa mereka akan merebut tanah perjanjian itu (Bil 13) karena mereka tahu dengan jelas bahwa Allah yang berjanji itu dapat dipercaya. Ketika Ia berjanji pasti digenapi. Jika kita mengenal siapa Allah yang kita layani, bahwa Ia tidak pernah salah dan tidak pernah lupa, kita akan makin bersemangat.
  • Memandang kepada Yesus
Yesus sudah menyelesaikan tugas-Nya menyelamatkan kita dengan mati di kayu salib. Jika kita mengingat segala pengorbanan dan penderitaan-Nya itu, masihkah kita tidak semangat melayani-Nya?
  • Memandang kepada kekekalan (Kol 3:1-2).
Paulus tidak tawar hati sebab ia memandang kepada kemuliaan yang akan datang (2 Kor 4:1, 6, 14). Janji kemuliaan yang akan diterima membuat Paulus tidak pernah tawar hati tapi terus bersemangat memberitakan Injil. Marilah kita belajar meneladaninya.  

Janganlah hendaknya kerajinanmu kendor,
biarlah rohmu menyala-nyala dan layanilah Tuhan.
Roma 12:11


Tidak ada komentar:

Posting Komentar