“Setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan melakukannya,

ia sama dengan orang yang bijaksana, yang mendirikan rumahnya di atas batu.

Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu,

tetapi rumah itu tidak rubuh sebab didirikan di atas batu.”

(Matius 7:24-25)

Jumat, 23 November 2012

THE COST OF BEING A DISCIPLE


THE COST OF BEING A DISCIPLE
Lukas 14:25-35
Oleh: Niken Nababan
(Persekutuan Umum PMK MIPA UGM – 17 Nopember 2012)
                                                                         
Syarat Menjadi Murid Yesus

25 ¶  Pada suatu kali banyak orang berduyun-duyun mengikuti Yesus dalam perjalanan-Nya. Sambil berpaling Ia berkata kepada mereka:
26  "Jikalau seorang datang kepada-Ku dan ia tidak membenci bapanya, ibunya, isterinya, anak-anaknya, saudara-saudaranya laki-laki atau perempuan, bahkan nyawanya sendiri, ia tidak dapat menjadi murid-Ku.
27  Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak dapat menjadi murid-Ku.
...
33  Demikian pulalah tiap-tiap orang di antara kamu, yang tidak melepaskan dirinya dari segala miliknya, tidak dapat menjadi murid-Ku.



ARTI MURID

Kata “murid” dalam bahasa Yunani adalah μαθητές - mathetes. Kata ini ditemukan dalam Alkitab hanya di Injil dan Kisah Para Rasul. Arti ’mathetes’ adalah seorang yang tidak hanya menerima pandangan gurunya, tetapi dia juga mempraktekkannya dalam kehidupan sehari-hari. Contohnya adalah murid-murid Yohanes pembaptis,  (Mat 9:14; Luk 7:18; Yoh 3:25); dan juga orang Farisi (Mat 22:16; Mrk 2:18; Luk 5:33). Kata “murid” dalam bahasa inggris ’disciple’ mempunyai akar kata yang sama dengan ’discipline’, sehingga proses pemuridan tidak pernah lepas dari disiplin.

Mula-mula kata murid dalam Alkitab diterapkan kepada murid-murid Yesus, tetapi setelah kebangkitan Yesus, setiap orang yang mengakui-Nya juga disebut sebagai murid (Kis 6:1,2,7; 9:36, 11:26). Di kemudian hari, para murid disebut atau dikenal sebagai Kristen yang artinya adalah pengikut Kristus.

SYARAT MENJADI MURID

1.    Memikul Salib

Salib Kristus merupakan lambang penderitaan (1 Pet 2:21; 4:13), kematian (Kis 10:39), kehinaan (Ibr 12:2), cemoohan (Mat 27:39), penolakan (1 Pet 2:4) serta penyangkalan diri (Mat 16:24). Apabila kita sebagai orang percaya mengangkat salib kita dan mengikut Yesus, maka kita menyangkal diri (Luk 9:23) dan bersedia masuk ke dalam empat macam pergumulan dan penderitaan:
a) Kita menderita dalam perjuangan seumur hidup melawan dosa (Rom 6:1-23; 1 Pet 4:1-2) dengan menyalibkan semua keinginan yang berdosa (Rom 6:1-23; 8:13; Gal 2:20; 6:14; Tit 2:12; 1 Pet 2:11,22-24).
b) Kita menderita dalam peperangan terhadap Iblis dan kuasa-kuasa kegelapan sewaktu kita menumbuhkan pengenalan akan Allah (2 Kor 10:4-5; 6:7; Ef 6:12; 1 Tim 6:12). Kita mengalami baik perseteruan dari Iblis dengan pasukan setannya (2 Kor 6:3-7; 11:23-29; 1 Pet 5:8-10) maupun penganiayaan yang datang dari perlawanan kita terhadap para guru palsu yang memutarbalikkan Injil yang benar (Mat 23:1-36; Gal 1:9; Fil 1:15-17).
c) Kita menanggung kebencian dan ejekan dari dunia (Yoh 15:18-25; Ibr 11:25-26) ketika bersaksi dengan kasih bahwa perbuatannya itu jahat (Yoh 7:7), dengan memisahkan diri kita dari dunia secara moral dan rohani.
d) Seperti Yesus, mungkin kita juga akan menerima ejekan dan penganiayaan dari orang-orang yang tidak percaya Yesus (Mrk 8:31).

2.        Mengikut Yesus
                                   
Frasa “datang kepada-Ku” dan “mengikut” dalam bahasa Yunani menggunakan kata yang sama: ἔρχομαι πρὸς - is coming to, mempunyai arti ‘datang’, ‘pergi bersama’, ‘berjalan’. Mengikut Yesus bukanlah suatu pilihan tetapi panggilan bagi setiap orang percaya. Kita tidak bisa memilih apakah mau mengikut Kristus atau mau mengikut dunia. Seorang yang sungguh-sungguh percaya Kristus seharusnya mengikut Kristus selama hidup dengan kepatuhan pada segala perintah-Nya.

Banyak orang menyamakan antara menjadi penganut agama Kristen dengan menjadi pengikut Kristus, padahal itu sesuatu yang berbeda sekali. Kita bisa saja memiliki agama Kristen tapi belum tentu menjadi pengikut Yesus. Seseorang bisa rajin ke Gereja tapi menjadi pegawai yang malas bekerja. Rajin melayani di Gereja tapi masih suka bergosip. Pandai mengucapkan ayat-ayat Alkitab tapi tidak pernah melakukannya (lih. Mat 7:21).

3.    Menyangkal diri

Ayat 33 bicara tentang “menyangkal diri” (lih. Luk 9:23).  Terjemahan untuk "menyangkal diri" adalah tidak lagi memikirkan kepentingannya sendiri (BIS), tidak memperhitungkan diri dan hak pribadi, tidak memusingkan diri terhadap kepentingan sendiri, tetapi lebih berorientasi kepada kepentingan orang banyak. Menyangkal diri berarti juga membungkam keegoan, sehingga yang nampak ke permukaan bukan penonjolan diri, tetapi sifat Kristus yang terpancar dari diri kita. Menyangkal diri juga berarti dapat menguasai diri, tidak serakah, tidak gila jabatan ataupun penghormatan. Walaupun murid-murid Yesus sudah cukup lama hidup dan pelayanan bersama-sama dengan Yesus, namun rupanya konsep mereka terhadap Yesus ini masih salah. Konsep pemikiran mereka itu masih duniawi. Bagi Yesus setiap orang yang mau menjadi murid-Nya harus melepaskan segala sesuatu yang bertujuan untuk kepentingan diri sendiri agar dapat memusatkan perhatian kepada Kristus. "Tiap-tiap orang" di sini berarti siapapun juga, tidak ada yang mendapat dispensasi atau pengecualian.

Dalam ayat 26 Yesus menyatakan kerasnya tuntutan-tuntutan yang terkandung dalam undangan-Nya kepada manusia. Yesus sengaja memilih ungkapan ini agar pendengarnya menyadari ada hal yang lebih penting dibanding hal-hal duniawi dan mereka dapat lebih dalam meresapkan ajaran pokok itu. Kita sering menekankan makna 'kebencian' dalam konotasi negatif. Namun kata "benci" dalam ayat di atas mempunyai makna lain, yaitu sikap memperbandingkan satu dengan lainnya.

Kata "membenci" (Yun: μισει - misei, dari kata μισεω - miseô) dalam ayat ini ditulis dalam bentuk verb - present active indicative - third person singular, berarti "kurang mengasihi" (to love less), "kurang suka" kepada sesuatu atau seseorang dari pada yang lain. Bandingkan teks ini dengan Mat 10:37 (mengasihi bapanya lebih dari pada mengasihi Yesus); Kej 29:31 (Lea tidak dicintai). Maksudnya adalah: barang siapa hendak menjadi murid Yesus harus bersedia meninggalkan semuanya, mengurbankan segala kepentingan duniawi, bahkan memutuskan pertalian-pertalian yang paling akrab dan mesra.  Yesus menuntut agar kesetiaan dan kasih kita kepada-Nya lebih besar daripada setiap hubungan kasih sayang yang lain, sekalipun kepada keluarga kita sendiri.

Menurut penafsiran banyak ahli, Tuhan Yesus berbicara dalam bahasa Aram, Lukas menerjemahkannya ke dalam bahasa Yunani, dan akhirnya kita membacanya dalam bahasa Indonesia. Dalam liku-liku panjang proses penerjemahan tersebut, makna asli dari kata benci yang terdapat dalam bahasa Aram, tak lagi tertangkap seluruhnya, baik dalam terjemahan bahasa Yunani maupun bahasa Indonesia. Jadi kata “membenci”  dalam ucapan Tuhan Yesus itu lebih tepat diartikan “mengenyampingkan” atau “menomorduakan”.

Seringkali keluarga justru menjadi penghalang antara kita dengan Kerajaan Allah. Bagi pengikut Tuhan Yesus, minat akan Kerajaan Allah haruslah yang utama. Segala urusan harus menjadi nomor dua, termasuk ikatan-ikatan keluarga. Orang bisa saja begitu terbelit oleh ikatan-ikatan keluarga, sehingga tidak ada waktu dan perhatian untuk hal-hal yang lebih besar. Dan tidak ada yang lebih besar daripada hal Kerajaan Allah. Suami atau ayah tentunya menjadi kepala keluarga, seseorang bisa memandang keluarganya sebagai hal yang paling utama di atas segalanya. Tuhan Yesus dengan keras mengecam sikap yang mengarah kepada diri-sendiri semacam itu.

Persiapan Menjadi Murid Yesus

28  Sebab siapakah di antara kamu yang kalau mau mendirikan sebuah menara tidak duduk dahulu membuat anggaran biayanya, kalau-kalau cukup uangnya untuk menyelesaikan pekerjaan itu?
29  Supaya jikalau ia sudah meletakkan dasarnya dan tidak dapat menyelesaikannya, jangan-jangan semua orang yang melihatnya, mengejek dia,
30  sambil berkata: Orang itu mulai mendirikan, tetapi ia tidak sanggup menyelesaikannya.
31  Atau, raja manakah yang kalau mau pergi berperang melawan raja lain tidak duduk dahulu untuk mempertimbangkan, apakah dengan sepuluh ribu orang ia sanggup menghadapi lawan yang mendatanginya dengan dua puluh ribu orang?
32  Jikalau tidak, ia akan mengirim utusan selama musuh itu masih jauh untuk menanyakan syarat-syarat perdamaian.

Kedua perumpamaan itu memiliki makna yang sama. Orang yang hendak membangun sebuah menara harus terlebih dahulu menghitung berapa banyak biaya yang dibutuhkan bagi pembangunan menara itu dan mempertimbangkan apakah uangnya cukup untuk membiayai seluruh pembangunan menara itu. Demikian pula halnya dengan raja yang hendak pergi berperang, ia harus terlebih dahulu menghitung dan mempertimbangkan berapa banyak jumlah pasukan yang diperlukan untuk mencapai kemenangan. Artinya, sebelum seseorang melakukan sesuatu, ia harus terlebih dahulu mempertimbangkan segala resiko yang mungkin terjadi.

Yesus mengajarkan bahwa barangsiapa mau menjadi murid-Nya harus memastikan lebih dahulu apakah ia telah siap untuk membayar harganya. Harga kemuridan yang sejati adalah mengorbankan semua hubungan dan harta milik, yaitu segala sesuatu yang kita miliki: barang materiel, keluarga, kehidupan, cita-cita, rencana dan kepentingan kita sendiri. Ini tidak berarti bahwa kita harus membuang semua yang kita miliki, tetapi segala yang kita miliki harus diserahkan untuk melayani Kristus dan berada di bawah tuntunan-Nya (lih. Mrk 13:24; Mat 7:14; Yoh 16:33; 2 Tim 3:12).

Kita harus menghitung segala tuntutan untuk menjadi murid Kristus sebelum memulai suatu perjalanan yang barangkali tak sanggup kita lanjutkan. Membangun gedung yang tak pernah terselesaikan karena kekurangan dana adalah suatu kebodohan. Betapa bodohnya juga panglima tentara yang tidak memperhitungkan kekuatan tentaranya sebelum maju ke dalam pertempuran.

Yesus tidak mencari orang yang sekedar ikut-ikutan dan asal-asalan. Menjadi murid Kristen bukan sekedar datang ke Gereja jika ada waktu atau karena ingin memperoleh layanan tertentu dari. Menjadi Kristen berarti siap mempertanggung jawabkan iman dan memberi jawab kepada mereka yang bertanya tentang imannya. Menjadi Kristen berarti juga siap dan mau mempelajari pengajaran Kristus dengan bertekun dalam firman, dan bersedia melakukan dalam kehidupannya, apapun resiko yang dihadapi. Kualitas iman Kristen teruji ketika menghadapi rintangan, tantangan dan tentangan.

Dalam perumpamaan ini, kita juga menemukan ajaran Tuhan Yesus tentang strategi atau perencanaan hidup.  Kalau kita mau berhasil, kita harus punya strategi atau perencanaan. Mau membuka usaha harus direncanakan, mau membangun rumah harus direncanakan, mau mendirikan gereja harus direncanakan, mau menikah harus direncanakan, mau mempunyai anak pun harus direncanakan.

Ciri Murid Kristus Sejati

34  Garam memang baik, tetapi jika garam juga menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan?
35  Tidak ada lagi gunanya baik untuk ladang maupun untuk pupuk, dan orang membuangnya saja. Siapa mempunyai telinga untuk mendengar, hendaklah ia mendengar!"

MENJADI GARAM

Garam menjadi salah satu bahan pokok dalam perekonomian Yahudi. Mereka memperoleh banyak garam dengan cara menguapkan air Laut Tengah di tambak-tambak dan mempunyai persediaan garam yang melimpah di pantai-pantai Laut Mati (Zef 2:9). Di bawah Antiokhus Epifanes, Siria menetapkan pajak garam yang dibayarkan kepada Roma. Di bukit Garam (Jebei Usdum) terdapat sebuah dataran tinggi seluas 4.000 hektar di sudut Barat Daya Laut Mati. Garam ini terjadi dari karang atau fosil. Karena ketidakmurnian dan perubahan-perubahan kimiawi, maka lapisan luarnya biasanya kurang sedap. Acuan dalam Mat 5:13 menunjuk pada hal yang terakhir ini, yang umumnya dibuang karena tidak ada harganya.

Macam-macam kegunaan garam:
  •      Garam sebagai sesuatu yang baik dan berguna (Mrk 9:50; Kol 4:6). 
  •      Di kalangan masyarakat Timur Dekat garam digunakan untuk mensahkan perjanjian, sehingga garam menjadi lambang kesetiaan dan kelanggengan (Bil 18:19; 2 Taw 13:5). 
  •     Dalam korban sajian imamat (Im 2:13) garam digunakan sebagai pengawet untuk menandai ciri langgeng dari ‘perjanjian garam’ antara Allah dan Israel. 
  •      Elisa menggunakan garam untuk menyehatkan air yang tidak baik di mata air Yerikho (2 Raj 2:19-22). 
  •     Garam digunakan untuk menguatkan bayi-bayi yang baru lahir dengan mengoleskan pada perutnya sebelum dibedung (Yeh 16:4). 
  •      Garam dipakai untuk penambah sedapnya makanan (Ayub 6:6). 
  •      Garam sebagai lambang kebinasaan (Hak 9:45). 
  •      Garam sebagai lambang penghakiman (Mrk 9:49).
Itulah gambaran pentingnya garam bagi manusia. Namun garam tidak berguna lagi jika sudah menjadi tawar. Meskipun garam sudah kehilangan rasa asinnya, ia masih tampak seperti garam, warnanya tetap putih, masih berbentuk butiran dan bubuk. Masih berbentuk seperti garam, tetapi saat kita merasakannya, tidak ada rasa garam lagi. Bentuknya memang seperti garam tetapi sudah kehilangan kualitas dari garam itu sendiri.

Pernyataan Yesus di dalam ayat 34-35 ditutup dengan frasa yang penting, "Siapa mempunyai telinga untuk mendengar, hendaklah ia mendengar." Tuhan ingin murid-murid-Nya menaruh perhatian tentang makna “garam” ini. Yesus ingin murid-murid-Nya jangan sampai kehilangan rasa asin dari garam, karena garam yang sudah menjadi tawar tidak dapat diasinkan kembali (bdk. Mat 5:13; Mrk 9:50). Bagaimana kita dapat mengasinkan garam yang sudah tawar? Tidak ada lagi yang dapat dilakukan dengan garam yang tawar. Tidak ada gunanya lagi selain dibuang dan diinjak orang.

Peringatan ini sangat penting dan kita harus memahami beberapa hal yang berkaitan dengan ayat itu. Dalam hal rohani, bagaimana garam itu menjadi tawar? Bagaimana orang Kristen tidak berfungsi lagi sebagai orang Kristen? Kita dapat membandingkan dengan pernyataan Paulus dalam 2 Timotius 3:5 bahwa akan ada orang yang "secara lahiriah menjalankan ibadah mereka, tetapi pada hakekatnya mereka memungkiri kekuatannya." Bandingkan juga dengan Ibrani 6:6, “namun yang murtad lagi, tidak mungkin dibaharui sekali lagi sedemikian, hingga mereka bertobat, sebab mereka menyalibkan lagi Anak Allah bagi diri mereka dan menghina-Nya di muka umum”.

Tuhan menghendaki kita berusaha dengan segenap hati dan tenaga untuk menjaga kualitas hidup kita sebagai murid-Nya. Sebab jika hati kita sudah menjadi tawar, kita tidak dapat lagi melakukan tugas kemuridan menurut kehendak Allah dan kita pun kehilangan karakter murid Kritus. Hingga pada hari terakhir Tuhan pun akan mengusir kita karena Tuhan tidak lagi mengenal kita sebagai murid-Nya (Mat 7:23). Bahkan keadaan tawar hati itu jika dibiarkan bisa saja membuat kita jadi menolak Kristus dan tidak dapat lagi diselamatkan.

Refleksi

Menyangkal diri, memikul salib, dan mengikut Yesus merupakan tiga hal yang tidak dapat dipisahkan sebagai syarat untuk menjadi murid Yesus. Seseorang yang mengaku sebagai murid Kristus harus mempunyai ketiga ciri itu di dalam dirinya. Siapkah kita membayar harga sebagai seorang murid Kristus? Jika selama ini kita mengaku sebagai murid Kristus, apakah kehidupan kita sudah mencirikan seorang murid? Seorang murid Kristus sejati adalah seorang yang mau tunduk pada tuntunan Sang Guru, seorang yang menghidupi ajaran Guru tersebut dalam kehidupan sehari-harinya, seorang yang yang menjadi berkat bagi setiap orang, seorang yang dapat mempertanggungjawabkan perbuatannya pada hari penghakiman kelak.

Kemuliaan hanya bagi Allah di tempat yang Maha Tinggi.
Amin.


Referensi       

Alkitab.
Ensiklopedi Alkitab Masa Kini.
Tafsiran Alkitab Masa Kini.                               
Kitab Penuntun Hidup Berkelimpahan.
Hasan Sutanto, Kitab Perjanjian Baru Yunani Interlinear, SAAT, Malang
Sarapan Pagi Biblika, Bible Study/Christian Library online.

Jumat, 09 November 2012

MENUMBUHKAN SEMANGAT MELAYANI TUHAN


Menumbuhkan Semangat Melayani Tuhan
Oleh: Niken Nababan pada Persekutuan Doa SVT 4 Nopember 2012



Arti Melayani Menurut Alkitab

Kata “melayani” mempunyai beberapa makna berdasarkan ayat-ayat sebagai berikut:

a)   Melayani sebagai kewajiban hamba/budak (δουλοω: douloõ) dalam Mat 20:26

Pada zaman PB, seorang budak dapat dibeli atau dijual sebagai komoditi. Seorang budak sama sekali tidak memiliki hak untuk kepentingan dirinya sendiri. Dalam ketaatan penuh ia hanya bisa berkata dan bertindak atas perintah tuannya tanpa bisa membantahnya. Benar-benar menjadi orang yang tak berdaya. Sebagai orang percaya, kita sekarang adalah orang-orang yang telah dimerdekakan dari dosa, kemudian dibentuk untuk menjadi hamba/pelayan kebenaran (Roma 6:18) dan menjadi hamba Allah (Roma 6:22).

b)   Melayani di sekitar meja makan (διακονεω: diakoneõ) dalam Luk 17:8 dan Yoh 12:2. 

    Pelayan meja makan harus siap melayani orang-orang yang ikut jamuan makan, mulai dari menghidangkan makanan sampai membersihkan semuanya jika telah selesai. Pelayan harus bisa membuat semua yang dilayani merasa puas.

c)  Melayani sebagai kewajiban bawahan terhadap atasannya (υπηρετης: hupérètés) dalam Kisah 24:13.

Kita melihat sahabat-sahabat Paulus bertindak selaku hupérètés  terhadap Paulus, yaitu menolong hamba Tuhan lain agar pelayanannya menjadi lebih efektif. Seorang huperetes adalah seorang yang segera mengerjakan apa yang diperintahkan kepadanya dan tidak banyak bertanya tentang tugas-tugasnya. Contoh lain adalah Epafroditus yang melayani keperluan Paulus dan mengantar surat-suratnya (Filipi 2:25); Onesimus orang yang menyediakan semua kebutuhannya saat di penjara Roma (Filemon 1:10).

d)  Melayani orang banyak sebagai tanggung jawab jabatan (λιτουργικος: litourgikos).  

    Contohnya, petugas sipil, militer dan pegawai pengadilan (Bil 11:16); pekerja Bait Allah (Yer 20:1; Kisah 13:2; Luk 12:58; Yoh 7:32; 18:12).

Setiap pelayan Tuhan bisa menjalankan keempat peran di atas, yaitu: menjadi seorang hamba atau budak Kristus (doulos); menjadi seorang pelayan yang selalu setia dan siap menolong orang lain dalam memenuhi kebutuhannya (diakonos); menjadi seorang yang mungkin tidak diperhitungkan dan tidak terlihat namun pelayanannya amat penting (hupérètés); menjadi seorang yang melayani masyarakat atau jemaat sebagai petugas pemerintah atau Gereja (litourgikos). Namun peran yang menjadi dasar dari semua peran pelayan adalah menjadi hamba Kristus. Dalam Roma 6:18 dan 22 telah ditulis dengan sangat jelas bahwa seorang yang telah diselamatkan oleh Kristus otomatis dia menjadi hamba Kristus.
Yesus telah menyempurnakan dan mengembangkan arti ‘melayani’ yang sebenarnya. Dalam Matius 25:42-43 Yesus menyebutkan berbagai perbuatan seperti memberi makan, memberi minum, memberi penginapan, memberi pakaian, mengunjungi orang sakit dan menengok orang yang berada di penjara. Inilah maksud dan tujuan orang Kristen yang menggambarkan bagaimana caranya mengikut Kristus, yaitu dengan cara saling mengasihi sebagaimana Kristus mengasihi murid-murid-Nya (Yohanes 13:34}, yang diwujudkan dengan bentuk pelayanan yang nyata. Yesus memberikan pandangan ini sehubungan dengan tujuan hidup-Nya sendiri bahwa Anak Manusia tidak datang untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan memberikan nyawa-Nya sebagai tebusan bagi banyak orang (Matius 20:28). Melayani di sini mempunyai makna menyediakan segala yang diperlukan manusia untuk keselamatannya. 

Menjaga Konsistensi Melayani

Ketika kita menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat kita secara pribadi, pada saat itu juga sebenarnya kita harus berkomitmen untuk menjadi hamba kebenaran dan hamba Allah, yaitu menyerahkan tubuh kita menjadi persembahan yang hidup, kudus, dan berkenan kepada Allah (Gal 5:13; Roma 6:18, 22; 12:1). Sebagai ‘hamba Allah’ kita tidak boleh membantah apa yang Allah perintahkan. Itu berarti kita harus memiliki konsistensi dalam melayani. Yang dibutuhkan agar kita tetap konsisten melayani adalah ‘kesetiaan’ kepada Allah sebagaimana Allah setia mengasihi kita. Kesetiaan tidak dengan sendirinya terjadi dalam hidup kita tetapi harus dilatih terus-menerus. Supaya setia kepada Allah, kita dapat mengingat hal-hal berikut:

a)     Siapakah yang kita layani?
Sebagai pelayan Tuhan, kita harus sadar bahwa yang kita layani adalah Tuhan, Allah Pencipta langit dan bumi. Allah yang memelihara kita dalam kehidupan ini. Berapa banyak berkat-Nya yang telah tercurah mungkin tak akan dapat kita hitung. Masihkah kita enggan melayani Tuhan? Nabi Elia, misalnya, selalu mengatakan “Demi Tuhan yang kulayani” ketika ia menyampaikan firman Tuhan kepada umat-Nya (1 Raja 17:1; 18:15). Rasul Paulus pun mengatakan hal yang sama (Roma 1:9).

b)     Apa tujuan kita melayani?
Tujuan utama kita melayani adalah untuk menggenapi rencana Allah bagi seluruh umat manusia dan untuk memuliakan nama-Nya.
   
Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia. (Kol. 3:23)
  Apa pun yang Saudara lakukan  —  Saudara makan atau Saudara minum  —  lakukanlah semuanya itu untuk memuliakan Allah. (1 Kor 10:31)
                                                                                   
Jika kita telah memahami keberadaan kita sebagai hamba Allah, maka motivasi kita untuk melayani bukan lagi berpusat pada kepentingan diri sendiri melainkan bagi kemuliaan Allah. Motivasi kita untuk melayani Tuhan dapat dijabarkan sebagai berikut:
  •   Motivasi Ketaatan
Ketaatan melakukan perintah Tuhan untuk melayani Tuhan dan sesama.
Yesus menjawab, "Di dalam Alkitab tertulis, ‘Sembahlah Tuhan Allahmu dan layanilah Dia saja."—  (Luk 4:8)
  Layanilah seorang akan yang lain, sesuai dengan karunia yang telah diperoleh tiap-tiap orang sebagai pengurus yang baik dari kasih karunia Allah. (1 Petrus 4:10) 
  • Motivasi Kasih
Kasih kepada sesama seperti yang diperintahkan dan diteladankan oleh Tuhan Yesus sendiri.
  Jadi jikalau Aku membasuh kakimu, Aku yang adalah Tuhan dan Gurumu, maka kamupun wajib saling membasuh kakimu; sebab Aku telah memberikan suatu teladan kepada kamu, supaya kamu juga berbuat sama seperti yang telah Kuperbuat kepadamu. (Yoh 13:14-15)
  Saudara-saudara, memang kamu telah dipanggil untuk merdeka. Tetapi janganlah kamu mempergunakan kemerdekaan itu sebagai kesempatan untuk kehidupan dalam dosa, melainkan layanilah seorang akan yang lain oleh kasih. (Gal 5:13) 
  •  Motivasi Keteladanan
Meneladani apa yang Tuhan Yesus lakukan saat Ia berkata bahwa Ia datang untuk melayani (Mrk 10:45). Bahkan Ia mengatakan bahwa kita dimampukan melakukan pekerjaan yang lebih besar dari yang dilakukan-Nya (Yoh 14:12).
  •  Motivasi Misi
Menyadari bahwa kita dipilih dan diberi kuasa untuk mengerjakan misi Allah, serta mewariskan iman yang hidup itu kepada generasi yang kemudian.
  Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi." (Kis 1:8)
  Apa yang telah engkau dengar dari padaku di depan banyak saksi, percayakanlah itu kepada orang-orang yang dapat dipercayai, yang juga cakap mengajar orang lain.(2 Tim 2:2)
  •  Motivasi Zaman Akhir
Melayani sebagai tindakan berjaga-jaga untuk menyambut datangnya Kristus  yang kedua kali.
     Berbahagialah hamba-hamba yang didapati tuannya berjaga-jaga ketika ia datang. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya ia akan mengikat pinggangnya dan mempersilakan mereka duduk makan, dan ia akan datang melayani mereka. ... Hendaklah kamu juga siap sedia, karena Anak Manusia datang pada saat yang tidak kamu sangkakan." (Luk 12:37, 40) 

Kita telah mengerti bahwa kita harus melayani dengan motivasi yang benar, namun sebagai manusia, kita pun sangat terbatas dan dipengaruhi oleh kebutuhan-kebutuhan manusiawi kita.

Pada umumnya ada tiga bentuk motivasi manusia:
  • Motivasi Ketakutan (Fear Motivation), yaitu motivasi karena adanya rasa takut. Orang mau melakukan sesuatu karena takut akan adanya paksaan atau tekanan dari berbagai pihak. Ia takut akan akibatnya jika ia tidak melakukan hal itu.
  • Motivasi Imbalan (Incentive Motivation), yaitu motivasi karena adanya imbalan (intensif). Imbalan ini bisa berupa pujian, prestise, promosi atau penghargaan.
  • Motivasi Sikap (Attitude Motivation), yaitu motivasi yang berhubungan erat dengan tujuan-tujuan yang bersifat pribadi, bukan dari luar. Bentuk ini juga disebut Motivasi Diri (Self Motivation).
Motivasi-motivasi tersebut menggambarkan sifat manusia yang cenderung berpusat pada diri sendiri. Kita sebagai orang yang telah diselamatkan oleh darah Kristus harus berjuang untuk menanggalkan segala sifat egois kita dan belajar untuk hidup berpusat pada Kristus. Untuk dapat memiliki hidup yang demikian, tidak ada jalan lain selain dibutuhkan kesetiaan dan ketekunan. Hidup di dalam Kristus bukan hanya memberikan pengharapan untuk kelak menikmati kehidupan surga yang kekal, tetapi juga memberikan pengharapan akan pemeliharaan Tuhan selama kita hidup di dunia. Demikian indahnya janji Tuhan bagi kita seharusnya memperteguh kesetiaan kita melayani Tuhan.

  Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu. (Mat 6:33)