“Setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan melakukannya,

ia sama dengan orang yang bijaksana,

yang mendirikan rumahnya di atas batu.

Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir,

lalu angin melanda rumah itu,

tetapi rumah itu tidak rubuh sebab didirikan di atas batu.”

Matius 7:24-25

Sabtu, 30 Oktober 2010

KALEB: ORANG YANG TEGUH MEMPERTAHANKAN PRINSIP

KALEB: ORANG YANG TEGUH MEMPERTAHANKAN PRINSIP
Oleh: Niken Nababan

RIWAYAT HIDUP KALEB

Kaleb hidup pada masa Keluaran, kira-kira 400-450 tahun setelah Yakub dan putra-putranya pergi ke Mesir untuk menyelamatkan diri dari bahaya kelaparan di Kanaan. Selama periode ini, melalui Musa, Allah membebaskan umat Israel dari perbudakan di Mesir dan memimpin mereka melewati padang gurun untuk memiliki tanah Kanaan, tanah yang telah dijanjikan Allah kepada Abraham dan keturunannya berabad-abad sebelumnya. Kita mengenal Kaleb untuk pertama kalinya ketika bangsa Israel sampai di perbatasan Kanaan. Riwayat hidup Kaleb ditulis di kitab Bilangan 13, Bilangan 14, Bilangan 32, Ulangan 1, Yosua 14-15. Kaleb adalah orang Kenas, putra ketiga Hezron, anak Peres, adik bungsu Yerahmeel (1 Taw 2:9). Kaleb adalah pemimpin Yehuda, merupakan salah satu dari dua belas pengintai yang diutus Musa untuk mengintai tanah Kanaan. Waktu itu Kaleb berumur 40 tahun. Diceritakan di Bilangan 13:17-33, saat itu bangsa Israel berkemah di padang gurun Paran, Musa mengutus dua belas pengintai pergi ke tanah Kanaan, -yang jauhnya kira-kira 120 km dari padang gurun Paran-, untuk menyelidiki segala sesuatu tentang Kanaan, yaitu keadaan tanahnya, penduduknya dan bentuk kotanya. Pada masa itu sedang musim panen anggur kira-kira akhir bulan Juli. Mereka pulang dari tugas pengintaian dengan membawa setandan buah anggur, delima dan ara, sebagai bukti bahwa Kanaan adalah negeri yang subur dan makmur. Kota-kotanya besar, berkubu/berbenteng, dengan luas antara 2,5ha - 10 ha. Penduduknya terdiri dari campuran berbagai suku, yaitu suku keturunan Enak, Amalek, Het, Yebus, Amori, dan Kanaan. Orang-orang Enak berperawakan tinggi, kuat dan raksasa. Sekembalinya dari Kanaan, mereka memberikan laporan yang sama dengan respon yang berbeda mengenai Kanaan.

Laporan pertama, sepuluh pengintai mengatakan bahwa Kanaan memang negeri yang berlimpah susu dan madunya, dan respon mereka, "Tetapi orangnya besar-besar dan suka memakan orang. Kita tidak dapat maju. Kita tidak mungkin mengalahkan mereka!" (Bil 13:31-33)

Laporan kedua, Kaleb dan Yosua mengatakan hal yang sama, yaitu Kanaan yang berlimpah susu dan madunya, serta dihuni oleh orang Enak yang besar-besar dan kuat, tetapi respon Kaleb, "Kita akan maju dan menduduki negeri itu, sebab kita pasti akan mengalahkannya"(Bilangan 14:30). Dengan sikap imannya ini Kaleb menjadi salah satu yang diijinkan Tuhan masuk Kanaan Tuhan menjanjikan bahwa Kaleb dan anak-anaknya akan melihat dan mendapatkan negeri yang dijanjikan Allah (Ulangan 1:34-36).

Akhirnya pada umur 85 tahun Kaleb memperoleh tanah pegunungan yang dijanjikan Tuhan, yaitu Hebron, menjadi tanah milik pusakanya (Yosua 14:6-15). Bahkan Kaleb juga mendapatkan tanah lainnya yaitu Kiryat-Arba dan Debir/Kiryat-Sefer yang direbut oleh Otniel yang kemudian menjadi menantunya (Yosua 15:13-17).

KETELADANAN HIDUP KALEB

Kaleb adalah tokoh yang layak untuk dipelajari karena banyak sifat dan sikap positif yang pantas untuk kita teladani.

1. Iman yang teguh kepada Tuhan.

Keteguhan iman Kaleb terlihat dari sikap dan kata-katanya. la mengoyakkan pakaiannya sebagai tanda tunduk dan takut kepada Tuhan dan berkata, "Jika Tuhan berkenan kepada kita, maka la akan membawa kita masuk ke negeri itu .... " (Bilangan 14:6-9). Iman inilah yang memampukan Kaleb bersikap optimis dan berani mengambil sikap yang berbeda dengan sepuluh pengintai lainnya meskipun nyawanya terancam (Bilangan 14:10). Yaitu bahwa Allah yang mengutus mereka, Allah yang mereka sembah, Allah yang membebaskan mereka dati Mesir, pasti sanggup menolong mereka menghancurkan orang-orang Enak dan merebut tanah Kanaan yang sudah dijanjikan Allah. Inilah iman yang murni, iman yang tidak mempertanyakan ini dan itu, akan tetapi dengan penuh keyakinan percaya bahwa Tuhan yang memberikan tugas pasti sanggup menolong mereka menyelesaikan tugas tersebut. Sungguh suatu keteladanan iman yang tak tergoyahkan bagaimanapun sulit rintangan yang dihadapi.

2. Optimis atau berpikir positif.

Sikap ini ditunjukkan di Bilangan 13:30, di mana dia mengatakan, "Kita akan maju dan menduduki negeri itu, sebab kita pasti akan mengalahkan mereka". Sebagai contoh, jika kita melihat gelas yang berisi air setengahnya, pendapat apa yang muncul? Orang yang punya pola pikir positif atau optimis akan mengatakan sebagai gelas setengah penuh, sebaliknya orang yang punya pola pikir negatif atau pesimis akan melihatnya setengah kosong. Dua belas orang mengarah pada satu tempat yang sama selama 40 hari, kesimpulan akhir yang didapat berbeda bahkan bertolak belakang. Sayangnya suara terbanyak yang pesimislah yang didengar, akibatnya adalah sebuah keputusan fatal, yang membuat mereka harus berputar-putar di padang gurun selama 40 tahun sebelum akhirnya bisa memasuki Kanaan. Sikap optimis Kaleb menimbulkan akibat yang sangat baik bagi dirinya. Sikap optimis memberikan kekuatan dan motivasi untuk mencapai tujuan.

3. Berani mempertahankan prinsip kebenaran.

Iman yang dimiliki Kaleb mampu mengalahkan ketakutannya pada penduduk Kanaan yang berperawakan raksasa. Kaleb juga berani melawan bangsa Israel yang mengancam hendak melontarinya dengan batu. Meskipun nyawanya terancam, Kaleb berani melawan pendapat mayoritas dan dengan sekuat tenaga mempertahankan pendapatnya karena dia yakin akan kebenaran Allah dan perlindungan Allah kepadanya.

4. Tidak bersungut-sungut atau mengeluh.

Setelah mendengar laporan dari pengintai, bangsa Israel bersungut-sungut dan mengeluh berkepanjangan, bahkan menyalahkan Tuhan. Tetapi Kaleb tidak mengeluh karena ia dapat merasakan kasih Tuhan yang selalu menyertai umat semenjak keluar dari Mesir. Kaleb tahu bahwa segala penderitaan yang dialami bangsa Israel disebabkan mereka selalu berontak pada Tuhan sehingga membuat Tuhan murka. Kaleb tahu bahwa jika umat tidak berontak pada Tuhan maka Tuhan akan berkenan dan membawa mereka masuk ke Kanaan. Semua ini juga didasari oleh irnan Kaleb.

5. Mempunyai roh yang berbeda (Bilangan 14:24).

Kata 'roh' dalam bahasa aslinya Ibrani menggunakan kata 'ruwach' yang memiliki banyak definisi. Dalam konteks ayat ini, kata 'roh' dapat didefinisikan sebagai kepribadian dan karakter seorang Kaleb yang berbeda dengan orang lain. Terjemahan NIV menyebutnya 'different spirit' yang dapat diartikan Kaleb mempunyai semangat yang berbeda. Life Application Bible (The Living Bible) menterjemahkan sebagai 'different kind' yang dapat diartikan bahwa Kaleb mempunyai kebaikan hati yang berbeda dari orang lain.

6. Mengikut Tuhan dengan sepenuhnya (Bilangan 14:24).

Kaleb memiliki kesetiaan dalam mengikut Tuhan. NIV menterjemahkan sebagai, 'he follows Lord wholeheartedly' yang diartikan sebagai: mengikut Tuhan dengan sepenuh hati, tulus ikhlas dan sungguh-sungguh. Bayangkan ketika diri kita sedang jatuh cinta pada seseorang, maka kehidupan kita dipenuhi oleh sebuah energi yang sangat luar biasa untuk menyenangkan orang yang kita cintai tanpa mengharapkan balasan. Apalagi ketika orang yang kita cintai menyambut cinta kita. Seperti itulah kira-kira kesungguhan Kaleb dalam mengikut Tuhannya. Cintanya pada Tuhan membuatnya mempunyai loyalitas yang tinggi.

7. Mempunyai sifat melindungi dan peduli pada bangsanya (Bilangan 13:30; 14:1-9).

Sifat ini ditunjukkan saat Kaleb secara spontan mencoba menentramkan hati bangsa Israel yang bergejolak dan gundah karena mendengar laporan buruk dari sepuluh pengintai. Kaleb tidak mau bangsanya terus memberontak kepada Allah dan mendapat hukuman Allah. Kaleb ingin bangsanya bersama-sama dengan dia memiliki tanah perjanjian. Dia tidak memikirkan keselamatannya sendiri tetapi juga memikirkan bangsanya untuk berjuang bersama-sama menuju ke arah yang lebih baik seperti yang dijanjikan Tuhan kepada bangsa Israel. Dalam peristiwa ini sifat kepemimpinannya juga terlihat menonjol dibanding para pengintai lainnya.

8. Tegas dan teguh pada komitmen.

Kaleb mempunyai sifat tegas dan teguh pada komitmennya untuk mengikut Tuhan dengan sepenuh hati. Dia telah berkomitmen untuk menjalankan tugas yang diberikan kepadanya dan dia mau menjalankan tugas itu sampai selesai. Kaleb percaya bahwa Allah akan memenuhi janji-Nya kepada bangsa Israel.

9. Mental pemenang dan semangat yang tinggi.

Kaleb mempunyai mental pemenang. Mental ini dibangun oleh sikap optimisnya yang didasari oleh irnan yang kokoh. Keyakinan Kaleb bahwa bangsa Israel akan bisa mengalahkan orang-orang perkasa dan merebut tanah Kanaan, menunjukkan bahwa Kaleb punya mental pemenang atau juara sebelum maju berperang. Meskipun harus berjuang selama puluhan tahun untuk memasuki Kanaan, mentalnya tetap kuat. Saat ia berusia 85 tahun, kekuatan dan semangatnya masih sarna seperti saat ia berusia 40 tahun. Tidak ada kata menyerah dalam hidupnya. Semua ini karena pemeliharaan Tuhan dalam hidupnya.

HAL-HAL NEGATIF DALAM KEHIDUPAN KALEB

Sepanjang yang ditulis dalam Alkitab, tidak ditemukan adanya hal-hal negatif dalam hidup Kaleb. Kaleb hidup dengan benar dan taat kepada Tuhan.


PRINSIP ATAU PELAJARAN YANG BISA DIAMBIL DARI TOKOH KALEB

1. Iman yang teguh memampukan kita menghadapi berbagai masalah kehidupan.

Iman Kaleb kepada Tuhan telah memampukan Kaleb untuk melawan pendapat mayoritas. Yaitu bahwa Allah yang mengutus mereka, Allah yang mereka sembah, Allah yang membebaskan mereka dari Mesir, sanggup menolong mereka menghancurkan orang-orang Enak dan merebut tanah Kanaan yang sudah dijanjikan itu. Inilah iman yang murni, iman yang tidak mempertanyakan ini dan itu, akan tetapi dengan penuh keyakinan percaya bahwa Tuhan yang memberikan tugas sanggup menolong mereka menyelesaikan tugas yang diberikan, bagaimanapun sulitnya 'badai' yang ada di Kanaan, dan Allah akan memberikan tanah yang sudah dijanjikan itu. Sungguh suatu teladan dari iman yang tak tergoyahkan. Hal ini mengajarkan pada kita bahwa di dalam menghadapi situasi negara kita saat ini yang serba sulit, di mana orang-orang saling menyikut dan menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuannya, kita seharusnya meniru keteguhan iman Kaleb. Jangan patah semangat, jangan takut, tetapi tetap berusaha di dalam iman kepada Allah bahwa Allah akan memenuhi janji-Nya untuk menyediakan segala keperluan kita, menopang kita dalam menghadapi badai hidup, dan akan memberikan mahkota kehidupan kepada barang siapa yang tahan uji.

2. Tuhan memelihara kehidupan orang yang setia mengikut Tuhan dengan sepenuh hati.

Iman Kaleb adalah iman yang hidup, yang dinamis, yang dia nyatakan dalam kehidupannya, yaitu mengikut Tuhan dengan sepenuhnya. Kaleb memiliki kesetiaan yang besar dalam mengikut Tuhan sehingga dirinya memperoleh banyak berkat dari Allah dan Allah berkenan memelihara hidupnya dan seluruh keturunannya sampai akhir hidupnya dan Allah memberikan apa yang sudah dijanjikan-Nya. Jika kita ingin menikmati janji Allah, yaitu kehidupan yang dipelihara Allah dalam kasih setia-Nya dan dipenuhi suka cita sorgawi, maka kita harus setia mengikut Tuhan walaupun harus menghadapi berbagai kesulitan. Kita tidak perlu menghitung berapa lama harus beIjuang, tetapi seumur hidup kita hendaknya setia kepada Allah. Kita jangan memandang beratnya tantangan hidup dengan ukuran manusia, sebaliknya kita juga jangan hanya memandang berkat yang akan diperoleh, tetapi memandang Tuhan dan segala sesuatu dengan ukuran Tuhan, maka Tuhan akan memberikan lebih dari pada yang dapat kita pikirkan atau bayangkan sesuai dengan keperluan kita.

3. Tuhan menyertai orang yang teguh pada komitmen dan mempertahankan prinsip yang sesuai dengan kebenaran firman Tuhan.

Pelajaran lain yang kita dapat adalah dalam hal teguh pada komitmen dan berani mempertahankan pendapat yang benar menurut firman Tuhan meskipun kita termasuk dalam kelompok minoritas. Pendapat mayoritas tidak selalu benar, tetapi pendapat minoritaspun belum tentu benar. Yang menjadi ukuran pendapat kita benar atau tidak adalah frrman Tuhan. Jika pendapat kita benar menurut firman Tuhan, maka kita harus bersikap seperti Kaleb yang teguh pada komitmennya mengerjakan tugas yang diberikan kepadanya dan berani melawan pendapat mayoritas. Betapapun sulitnya kita harus percaya bahwa Allah akan menyertai dan menolong kita menghadapi setiap masalah.

4. Dekat dengan Tuhan membuat kita mempunyai visi hidup yang benar.

Kedekatan hubungan Kaleb dengan Tuhan membuat Kaleb dimampukan untuk memiliki visi hidup yang datangnya dari Allah. Jika kita dekat dengan Tuhan maka Tuhan akan senantiasa menolong kita untuk mampu menentukan tujuan hidup yang benar.

5. Bersikap optimis memotivasi kita untuk terus maju dan tidak mudah menyerah.

Dalam memandang hidup ini kita juga perlu meniru sifat Kaleb yang selalu bersikap optimis atau berpikir positif. Kita jangan hanya memandang masalah yang kita hadapi ataupun berita-berita negatif yang kita lihat dan kita dengar. Berita ini sering hanya akan membawa kita pada kekecewaan, kesedihan, keputus-asaan, depresi dan melemahkan kita. Kita harus belajar untuk selalu mengingat dan melihat anugrah Tuhan yang sudah diberikan kepada kita, serta membiasakan diri untuk membuka mata dan telinga selebar-lebarnya bagi hal-hal positif, hal-hal yang membangun dan semua berita baik. Sikap ini akan membawa kita untuk bergerak maju dan memotivasi kita untuk terus berjuang mencapai tujuan hidup kita. Sikap optimis ini juga akan membangun sikap selalu mengucap syukur dan melakukan segala pekerjaaan kita dengan tidak bersungut-sungut atau mengeluh.

6. Kita harus memberi dampak positif bagi orang lain.

Sikap-sikap Kaleb dalam menjalani kehidupannya berdampak besar bagi seluruh¬ keluarga dan keturunannya. Bukan hanya Kaleb yang dapat menikmati tanah perjanjian, tetapi seluruh keturunannya juga. Sebaliknya sikap yang diambil oleh sepuluh pengintai membawa dampak negatif yang sangat besar pula bagi seluruh keluarga dan keturunannya. Yang mendapat hukuman Tuhan bukan hanya sepuluh pengintai itu tetapi juga seluruh keturunannya. Maka kita harus selalu memohon hikmat Allah di dalam bersikap ataupun mengambil keputusan karena segala perbuatan kita dapat berdampak bagi orang lain. Kita harus dapat memberi dampak positif bagi orang lain sebagaimana yang dikehendaki Allah bahwa setiap orang Kristen harus menjadi garam dan terang dunia bagi orang lain di manapun berada.

7. Budaya yang tidak perlu ditiru.

Meskipun tidak ada hal negatif yang ditemukan dalam diri Kaleb sesuai konteks zamannya, namun ada satu hal yang tidak harus kita tiru, yaitu ketika Kaleb memberikan anak perempuannya untuk dijadikan istri oleh siapa saja yang dapat merebut tanah Debir/Kiryat-Sefer. Pada zamannya hal itu adalah biasa, tetapi untuk konteks zaman sekarang, mungkin banyak budaya masyarakat yang tidak dapat lagi menerima hal itu. Tetapi jika ada bangsa tertentu yang masih mempunyai budaya seperti itu dan mereka menjalankannya dengan damai sejahtera, maka kita harus menghargainya juga. Saya pribadi memiliki prinsip bahwa anak adalah manusia yang harus dihargai dan dikasihi sebagaimana Tuhan mengasihinya. Sebagai orang tua sebaiknya kita tidak menjadikan anak sebagai barang hadiah untuk dipertandingkan, atau untuk ditukarkan dengan harta dunia. Anak harus menemukan pasangan hidupnya di dalam perjuangan dan pergumulan doanya sendiri bersama Tuhan, yang kita dukung dengan penuh kasih. Prinsip yang harus kita pegang teguh adalah sungguh-sungguh mengarahkan anak-anak kita untuk mendapatkan pasangan hidup yang seiman (2 Kor. 6:14).


Buku Referensi:

1. “Alkitab”, Lembaga Alkitab Indonesia (LAI), Jakarta, 2005.
2. “New International Version Holy Bible”, The Zondervan Corporation, Grand Rapids, Michigan, U.S.A, Revised August, 1983.
3. Marilyn Kunz, “Pola Hidup Ilahi”, Perkantas, Jakarta, 1989.
4. “Life Application Bible The Living Bible”, Tyndale House Publishers, Inc. Youth For Christ/USA, Wheaton, Illinois, 1986.
5. “Tafsir Alkitab Masa Kini”, Yayasan Komunikasi Bina Kasih/OMF, Jakarta, 2000.
6. “Ensiklopedi Alkitab Masa Kini”, Yayasan Komunikasi Bina Kasih/OMF, Jakarta, 2002.
7. Donald C. Stamps, M.A., M.Div. dan J. Wesley Adam, Ph.D., “Alkitab Penuntun Hidup Berkelimpahan”, diterjemahkan dari Full Life Study Bible oleh Anthony E. Sorbo dan Clara Sorbo, Penerbit Gandum Mas, Jakarta, 2000.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar