“Setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan melakukannya,

ia sama dengan orang yang bijaksana, yang mendirikan rumahnya di atas batu.

Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu,

tetapi rumah itu tidak rubuh sebab didirikan di atas batu.”

(Matius 7:24-25)

Sabtu, 05 November 2011

SPIRITUALITAS DAN KESIBUKAN

SPIRITUALITAS DAN KESIBUKAN
Oleh: Niken Nababan, disampaikan dalam PU Sekolah Vokasi Teknik UGM, 5 Nopember 2011


Pengertian Spiritualitas Kristen

Kata spiritual (Yun. pneumatikos), berarti “bersifat roh” atau “berkenaan dengan roh”. Dalam PB, kata ini banyak ditulis dan memiliki tiga arti yang berbeda. Sebagai contoh, yang tertulis dalam kitab Korintus:
·         1 Kor. 2:15; 3:1 à tentang manusia rohani;
·         1 Kor. 2:13; 9:11 à tentang hal-hal rohani;
·         1 Kor. 10:3-4; 15:44-46 à tentang benda-benda rohani.

Spiritualitas Kristen berhubungan dengan segala sesuatu dalam pengalaman hidup orang yang percaya Kristus.  Intinya adalah suatu kesatuan yang lebih intensif dengan Allah yang dinyatakan di dalam Yesus Kristus melalui Roh Kudus. 

Kehidupan spiritualitas orang percaya didasari oleh iman kepada Yesus Kristus. Dengan percaya dan beriman kepada Yesus Kristus sebagai Tuhan dan juruselamat yang telah menebus dosa-dosa dunia dan yang telah bangkit, maka mereka menerima karunia Roh, yaitu Roh Kudus tinggal di dalam kehidupan mereka. Berdasarkan karunia Roh yang diterima dan tinggal di dalam hidup orang-orang percaya, maka kehidupan mereka yang lamapun diperbarui. Mereka memiliki hidup yang baru, yang berada di dalam kasih Allah.

Sedikitnya ada tiga manifestasi Spiritualitas Kristen di dalam kehidupan orang-orang percaya. Ketiga manifestasi spiritualitas itu adalah:

·         Kehidupan spiritualitas yang merupakan persekutuan yang intim bersama dengan Allah;
·         Kehidupan spiritualitas yang ada di dalam komunitas orang percaya;
·         Kehidupan spiritualitas yang dinyatakan di dalam praktek hidup sehari-hari.

Ketiga manifestasi spiritualitas ini tidak dapat dipisahkan satu sama lainnya. Mereka saling menyatu, memperkaya, dan mengisi satu sama lainnya.  

Sangat sering terjadi pemahaman yang keliru mengenai spiritualitas di dalam kehidupan orang percaya. Di mana hal-hal yang menyangkut kehidupan spiritualitas orang-orang percaya hanya dipahami dalam kategori urusan-urusan batin atau rohani saja dan tidak kait-mengkait dengan soal fisik atau jasmani (tubuh). Akibatnya, penekanan spiritualitas yang demikian hanya fokus kepada aspek pengalaman spiritualitas yang berpusat kepada diri sendiri.

Dalam Roma 12:1, Paulus menasihatkan agar jemaat melakukan ibadah yang sejati, yaitu mempersembahkan tubuh sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah. Di sini Paulus mengajarkan bagaimana jemaat harus hidup beriman dalam kehidupan sehari-hari menurut ajaran Kristus. Maksud “mempersembahkan tubuh” adalah penyerahan diri kepada Allah secara rohani/batiniah, bukan penyerahan pada tata cara ibadah. “Persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan” menunjuk kepada segenap akal budi, jiwa, dan raga yang terus-menerus diubahkan (ay. 2), lalu dipersembahkan sepenuhnya kepada Allah dengan pengorbanan diri dan ketaatan melakukan perintah Allah.

Meskipun demikian, bukan berarti ibadah yang kita lakukan secara rutin itu tidak bermakna atau salah. Dalam Ibrani 10:25, dengan tegas Paulus memperingatkan agar jemaat tidak menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah. Jadi ibadah itu penting tapi harus ada keseimbangan antara menyembah kepada Allah (vertical) dan mempedulikan sesama kita (horizontal). Maka sesungguhnya kita tidak boleh memisahkan antara yang rohani dan yang jasmani.

Pentingnya Menjaga Spiritualitas Kristen

1 Petrus 5:8-11
(8) Sadarlah dan berjaga-jagalah! Lawanmu, si Iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya.
(9) Lawanlah dia dengan iman yang teguh, sebab kamu tahu, bahwa semua saudaramu di seluruh dunia menanggung penderitaan yang sama.
(10) Dan Allah, sumber segala kasih karunia, yang telah memanggil kamu dalam Kristus kepada kemuliaan-Nya yang kekal, akan melengkapi, meneguhkan, menguatkan dan mengokohkan kamu, sesudah kamu menderita seketika lamanya.
(11) Ialah yang empunya kuasa sampai selama-lamanya! Amin.

Petrus memberikan petunjuk dengan sangat jelas mengapa kita perlu menjaga spiritualitas. Alasan yang pasti adalah karena Iblis senantiasa menggoda kita untuk memutus hubungan dengan Kristus supaya kita dapat dibinasakannya (ay. 8). Satu-satunya cara untuk melawan Iblis hanya dengan iman yang teguh kepada Allah (ay. 9) karena Allah satu-satunya sumber segala kasih karunia (ay. 10) yang berkuasa terhadap segala sesuatu (ay. 11).

Akibat buruk jika kita tidak menjaga spiritualitas kita mencakup dua hal:

  1. KEJENUHAN ROHANI (Spiritual Burn Out)
  2. KEKERINGAN ROHANI (Spiritual Dehydration)

Kedua hal ini merupakan tanda awal seseorang yang menuju kepada kebinasaan.

Spiritual Burn out

Keadaan 'burn out' bisa diumpamakan sebagai sebuah motor, yang bensinnya habis, bannya kempes, atau businya tidak berfungsi sekalipun sudah dibersihkan. Seorang yang 'burn out' dapat mengalami keadaan yang sangat menekan (stressfull), depresi, dan hidupnya menjadi kacau. Dia dapat kehilangan keseimbangan dan kehilangan kendali ego.

Contoh Kasus Kejenuhan Rohani dalam Alkitab:
a.      Elisa (1 Raja-Raja 19:4) à Elisa merasa putus asa dan bosan hidup karena kehilangan kendali. Kejenuhan ini terjadi ketika Elisa mengandalkan diri sendiri.
b.      Daud (Mazmur 42:2-12; 2 Sam. 11:1-27) à Daud mengalami kejenuhan rohani ketika dia mulai tidak berharap kepada Allah dan bahkan jatuh dalam dosa ketika dia mengerjakan segala sesuatu menurut kehendaknya sendiri.

Jika ada satu bagian dari diri kita mengalami kerusakan atau burn out, harus segera dilakukan pemberesan atau perbaikan atau penyembuhan, agar kerusakan itu tidak merembet ke mana-mana, seperti virus kanker, yang akhirnya membinasakan kita.

Spiritual Dehydration

Seseorang yang mengalami dehydration diartikan sebagai keadaan di mana orang itu kehilangan terlalu banyak cairan dalam tubuhnya sehingga menjadi sangat lemah dan sakit. Pengertian dehydration  dalam konteks rohani adalah keadaan di mana seseorang kehabisan/tidak memiliki kekuatan rohani yang berasal dari Firman Tuhan sehingga keadaan kerohaniannya menjadi lemah dan tidak memiliki kuasa. Keadaan ini sering juga disebut sebagai ‘Kekeringan Rohani’.

Orang Kristen yang mengalami keadaan kekeringan ini seringkali merasakan kehampaan yang membuatnya sulit untuk merasakan sukacita dalam persekutuan dengan Tuhan. Namun demikian gejala-gejala ini kadang sulit dikenali karena mudah disembunyikan, yaitu dengan cara berpura-pura dan menganggap bahwa hal itu akan membaik dengan sendirinya dengan cukup aktif dalam kegiatan-kegiatan rohani.

Jika seseorang sudah mulai merasa kering rohani, harus segera dilakukan siraman rohani. Seperti tanaman yang layu karena kekurangan air, jika tidak segera disiram air lagi, lama-kelamaan dia akan menjadi kering, lalu mati. Maka terhadap seseorang yang mengalami tanda-tanda kekeringan rohani inipun harus segera dilakukan penyegaran rohani dan pemulihan, agar ia tidak semakin lemah imannya, lalu akhirnya mengalami kebinasaan.
  
Saran-saran Praktis Menjaga Spiritualitas

a.      Ambil waktu istirahat di tengah kesibukan kita sebelum menjadi terlalu lelah. (Perlu manajemen waktu)
b.      Ambil waktu rekreasi/retreat pribadi setelah tugas-tugas panjang untuk menyegarkan kembali hidup kita.
c.       Sadari bahwa kekuatan kita datangnya dari Allah sendiri.
d.      Prioritaskan waktu untuk persekutuan dengan Tuhan  (butuh penyerahan diri dan pengorbanan).
e.      Pujilah Tuhan dan ucaplah syukur senantiasa. (Akan membuat kita untuk selalu ingat Tuhan)
f.        Latihlah pola hidup teratur (makan, olah raga, kegiatan). (Kesehatan tubuh sangat penting!)
g.      Secara berkala lakukan evalusi terhadap tujuan dan prioritas hidup yang Tuhan tentukan bagi kita.
h.      Singkirkan rasa malu dan sombong untuk mengakui keadaan kita di hadapan Tuhan.
i.        Selain Alkitab, baca juga buku-buku rohani/ atau dengarkan lagu rohani. (Dapat menolong kita untuk bangkit dari kelemahan).
j.        Lakukan latihan dengan menolong masalah orang lain. (Saat menolong orang lain, kita dapat menemukan pemecahan masalah kita sendiri).
k.       Berhenti hanya mencari berkat-berkat Tuhan saja tapi carilah sang Pemberi berkat.

Penutup

Sebagai pengikut Kristus kita harus selalu menjaga spiritualitas kita setiap hari. Sesibuk apapun kita, sebanyak apapun kegiatan kita, kita harus menyediakan waktu untuk bersekutu dengan Tuhan dan dengan sesama kita. Segala yang kita punyai dan yang bisa kita capai adalah anugrah Tuhan semata. Tanpa Tuhan kita tidak akan bisa berbuat apa-apa. Karena itu kita harus selalu mengucap syukur, memuji Tuhan dan mendekatkan diri kepada Tuhan agar spiritualitas kita terjaga, sehingga kita dimampukan melawan godaan Iblis yang senantiasa menginginkan kita jatuh ke dalam dosa dan menuju kebinasaan.

Amin.


Referensi

1 Michael Downey, Current Trends Understanding Christian Spirituality: Dress Rehearsal for a Method, dalam http: //www.spiritualitytoday.org/.
2 Mark A. McIntosh, Mystical Theology: the Integrity of Spirituality and Theology (Malden, Massachusetts: Blackwell Publishers, 1998).
3 Jerry White, Kuasa Penyerahan Diri (Bandung, Yayasan Kalam Hidup, 1999).
4 Our Heritage: Keunikan & Kekayaan Pelayanan Mahasiswa (Jakarta, Perkantas, 2006).
5 Richard Lamb, Menjadi Murid Yesus di Kehidupan Nyata (Jakarta, Perkantas, 2009).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar