“Setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan melakukannya,

ia sama dengan orang yang bijaksana, yang mendirikan rumahnya di atas batu.

Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu,

tetapi rumah itu tidak rubuh sebab didirikan di atas batu.”

(Matius 7:24-25)

Jumat, 27 Februari 2015

BANGGA MENJADI ANAK ALLAH

Bangga Menjadi anak Allah
Niken Nababan
Ditulis untuk halaman Fokus Buletin PMKT 2013
 

Dan jika kita adalah anak, maka kita juga adalah ahli waris, maksudnya orang-orang yang berhak menerima janji-janji Allah, yang akan menerima bersama-sama dengan Kristus, yaitu jika kita menderita bersama-sama dengan Dia, supaya kita juga dipermuliakan bersama-sama dengan Dia. (Roma 8:17)

Si A sangat bangga mengaku sebagai anak dari B karena bapanya ini seorang yang sangat kaya. Betapa tidak bangga, di manapun A berada pasti akan mendapat perlakuan yang sama dengan bapanya. Kehormatan dan sanjungan selalu diterima A karena orang melihat kewibawaan bapanya. Lebih dari pada itu, kelak A akan mewarisi seluruh harta bapanya. A larut dalam kemewahan, kehormatan dan kekuasaan sehingga dia melupakan pesan bapanya, yaitu harus mempunyai cara hidup yang baik seperti bapanya. Hingga suatu hari dia terjebak dalam sindikat ‘narkoba’ yang mengantarkannya ke penjara, bahkan akhirnya dia mati sia-sia dengan penderitaan yang luar biasa tanpa dapat menikmati lagi harta warisan bapanya.

Begitu bangganya kita mengaku sebagai anak Allah karena Allah kita yang ‘kaya’ itu akan melimpahkan berkat-berkat-Nya kepada kita. Namun kita sering melupakan satu hal, yaitu konsekuensi menjadi anak Allah. Allah mau anak-anak-Nya hidup dipimpin oleh Roh Allah (Roma 8:14). Bahkan lebih keras lagi peringatan Allah bagi anak-anak-Nya, bahwa Dia hanya memberikan warisan-Nya kepada anak-anak yang mau ‘menderita’ bersama-sama dengan Kristus. Paulus mengingatkan kepada kita bahwa hidup yang dipimpin oleh Roh bukan suatu jalan yang mudah. Yesus menderita dan kita yang mengikuti-Nya juga akan menderita bersama dengan Dia. Ini merupakan akibat hubungan kita dengan Allah sebagai anak. Allah ingin hidup kita serupa dengan Kristus (Filipi 3:10).

Maka hendaknya janganlah kita hanya mengharapkan berkat-berkat Allah dan bangga mengatakan kepada orang-orang: “Aku anak Tuhan”, tanpa mau mengerti apa yang Tuhan inginkan bagi hidup kita. Sebagai anak-Nya, Tuhan menghendaki kita berusaha menjadi sama dengan Dia; memiliki kualitas hidup yang berintegritas, yaitu hidup tanpa cacat, sempurna dan tanpa kedok. Orang yang memiliki integritas akan menjadi kotbah yang hidup bagi orang-orang di sekitarnya karena mereka melihat Kristus di dalam dirinya. Dengan demikian dia layak disebut sebagai anak Tuhan. 

Do everything for Jesus Christ

Tidak ada komentar:

Posting Komentar