“Setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan melakukannya,

ia sama dengan orang yang bijaksana, yang mendirikan rumahnya di atas batu.

Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu,

tetapi rumah itu tidak rubuh sebab didirikan di atas batu.”

(Matius 7:24-25)

Rabu, 13 Juni 2012

PERTUMBUHAN KARAKTER DALAM KTB


PERTUMBUHAN KARAKTER DALAM KTB
Oleh: Niken Nababan 
(Week End PKTB/CPKTB PMKT, 9-10 Juni 2012)

Anggota sebuah Kelompok Kecil, atau juga dikenal sebagai Kelompok Tumbuh Bersama (KTB), terdiri dari bermacam-macam pribadi yang berbeda satu sama lain. Setiap orang yang mau masuk ke sebuah KTB, memiliki motivasi, harapan, latar belakang, dan karakter yang berbeda-beda. Sebagai pemimpin KTB (PKTB), menjadi tugas kita untuk mempersatukan semua perbedaan tersebut, sehingga setiap anggota KTB (AKTB) dapat memiliki visi dan misi yang sama bagi kelompoknya. Lalu bagaimana caranya kita dapat merubah para anggota dari pribadi yang bermacam-macam menjadi satu kelompok yang bersatu-padu?

Seperti halnya manusia bertumbuh dari masa bayi ke masa kanak-kanak, lalu ke masa remaja, kemudian ke masa dewasa, dan akhirnya ke masa tua, demikian juga suatu KTB haruslah mengalami proses pertumbuhan. Untuk dapat bertumbuh menjadi dewasa, maka PKTB perlu memahami keberadaan masing-masing AKTBnya.  Selain dalam kelompok, PKTB perlu memiliki hubungan pribadi dengan AKTB agar dapat memahami perasaannya, harapannya, karakternya, masalah yang dihadapinya, dan sebagainya. Pertumbuhan KTB sangat dipengaruhi oleh pertumbuhan AKTB.

Pertanyaan penting yang berkaitan dengan pertumbuhan adalah: Apa yang dimaksud dengan “menjadi dewasa”? Ada beberapa  jenis kedewasaan.:
·        Kedewasaan fisik: memiliki tubuh yang berkembang sehat.
·        Kedewasaan intelektual: memiliki pemikiran yang terlatih dan cara pandang yang selaras.
·        Kedewasaan moral: tahu membedakan mana yang baik dan mana yang jahat.
·        Kedewasaan emosional: memiliki kepribadian yang seimbang, sanggup untuk mengembangkan relasi-relasi dan melaksanakan tanggung jawab.
·        Kedewasaan rohani: kedewasaan di dalam Kristus; memiliki hubungan yang dewasa dengan Kristus.

Paulus menuliskan tentang kedewasaan Kristen dalam Kolose 1:28-29, ”Dialah yang kami beritakan, apabila tiap-tiap orang kami nasihati dan tiap-tiap orang kami ajari dalam segala hikmat, untuk memimpin tiap-tiap orang kepada kesempurnaan dalam Kristus. Itulah yang kuusahakan dan kupergumulkan dengan segala tenaga sesuai dengan kuasa-Nya, yang bekerja dengan kuat di dalam aku.”

Ada “di dalam Kristus” bukanlah seperti perabot yang ada di dalam rumah kita, atau dompet yang ada di dalam saku baju kita, melainkan seperti ranting yang melekat pada pokok anggur, atau otot-otot yang ada dalam tubuh manusia. Dengan demikian, “di dalam Kristus” berarti terhubung dengan Kristus secara personal, secara vital, dan secara organis. Dalam pengertian ini maka menjadi dewasa berarti memiliki sebuah hubungan yang dewasa dengan Kristus dalam penyembahan, iman, kasih, dan ketaatan kita kepada-Nya.

Kedewasaan diterjemahkan dari kata “kesempurnaan” (Yun. teleios), kata yang sama tertulis dalam Ibrani 7:11 dan 12:2, mempunyai makna pencapaian sebuah tahapan yang paling puncak, utuh, menyeluruh. Maka seseorang yang memiliki hubungan yang dewasa dengan Kristus berarti telah menjadikan Kristus sebagai Imam yang abadi seutuhnya atas hidupnya untuk selama-lamanya. Hal itu bisa terjadi jika ia bersedia menjadi murid Kristus yang mau diajar dan dibentuk menjadi serupa dengan-Nya. Pemuridan adalah satu-satunya yang dikerjakan oleh Yesus untuk menyatakan misi Allah bagi dunia.

Model Pemuridan Yesus

KTB adalah model pemuridan yang meneladani Tuhan Yesus. Secara etimologis, definisi dari murid adalah “pembelajar”. Pemahaman cultural sebagaimana yang ada pada abad pertama tentang murid adalah seorang “pengikut”. Definisi yang lain berfokus pada karakter dan perilaku. Menjadi murid Kristus berarti bersedia melakukan lima hal berikut:
1.    Menaklukkan diri untuk mengikuti ajaran Yesus.
2.    Mempelajari firman Yesus.
3.    Mempelajari bagaimana Yesus melayani.
4.    Mencontoh hidup dan karakter Yesus.
5.    Mencari dan mengajar murid-murid lain bagi Yesus.

Yesus memanggil kita untuk hidup dengan cara yang berbeda, melangkah keluar dari status quo, dan masuk ke dalam hidup yang Dia rencanakan bagi kita dalam kekekalan, yaitu hidup yang telah disediakan-Nya lewat karya kayu salib. Lukas 9:23 menulis, Kata-Nya kepada mereka semua: "Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku”. Iman tidak sekedar percaya di dalam kepala bahwa Yesus adalah Kristus melainkan harus dibuktikan dengan mengikuti-Nya. Dietrich Bonhoeffer berkata, “Kekristenan tanpa pemuridan adalah Kekristenan tanpa Kristus”.

Transformasi Dalam Pemuridan

Menjadi murid Kristus harus mengalami proses pertumbuhan. Di dalam proses pertumbuhan tentu terjadi perubahan atau transformasi. Tuhan menggunakan Firman, hubungan dengan sesama, dan segala keadaan sebagai kombinasi yang kuat untuk membentuk kita. Sementara keadaan jasmani kita berubah, Tuhan juga bekerja dalam hidup kita untuk membentuk kehendak kedagingan kita menjadi tunduk pada kehendak-Nya (Fil. 2:13). Apa yang kita inginkan saat ini, pasti berbeda dengan apa yang kita inginkan lima tahun yang lalu. Inilah bukti bahwa Tuhan telah mengubah kehendak kita seiring dengan makin dalam dan eratnya hubungan kita dengan Tuhan. Maka sangat penting bagi PKTB untuk memperhatikan setiap anggotanya agar terjadi perubahan pribadi atau transformasi seperti yang dikehendaki-Nya.

Bill Hull dalam buku Choose The life menulis lima jenis transformasi yang harus terjadi dalam pemuridan.
1.   Transformasi pikiran: percaya apa yang Yesus percayai, artinya meyakini bahwa hidup yang digambarkan-Nya dalam Khotbah di Bukit bisa dijalani saat ini juga (Mat. 5-7).
2. Transformasi karakter: bersedia diubahkan menjadi serupa dengan gambar-Nya, yaitu memancarkan karakter Yesus dan mempengaruhi orang-orang di sekitar kita dengan cara yang sama sebagaimana Yesus mempengaruhi orang-orang di sekitar-Nya (Fil. 2:5-8).
3.   Transformasi hubungan: mengasihi orang lain seperti Yesus mengasihi; ”supaya kamu saling mengasihi, seperti Aku telah mengasihi kamu.” (Yoh. 15:12).
4.  Transformasi pelayanan: melayani dengan kerendahan hati dan penaklukan diri; ”Sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.” (Mat. 20:28).
5.  Transformasi kepemimpinan: meniru model kepemimpinan Yesus, artinya mengambil peran sebagai pelayan yang mengorbankan segalanya dan menerima dengan rela untuk tidak dianggap penting oleh sekitarnya.

Transformasi Karakter dalam KTB

Karakter adalah salah satu bagian yang harus dibangun agar terjadi perubahan menuju ke arah serupa dengan karakter Yesus. Untuk dapat membangun karakter kita harus memahami terlebih dahulu tentang apa yang dimaksud dengan karakter.

Definisi karakter menurut English Dictionary:
·        Karakter adalah suatu kualitas yang dimiliki oleh seseorang yang membedakan dirinya dengan orang lain.
·        Kepribadian (personality) adalah seluruh karakter dan sifat alami yang dimiliki oleh seseorang.

Definisi karakter menurut Merriam Webster Online Dictionary:
·        Etymology:  Inggris: character; Latin: character mark, distinctive quality; Yunani: charaktÄ“r.
·        Karakter berasal dari kata benda Charassa yang berarti sebuah tukikan, lekukan, penajaman, penggoresan atau penulisan diatas batu. Semula digunakan sebagai tanda dimana satu hal terpisah dari yang lain.
·    Attributes or features:  atribut atau fitur yang membentuk dan membedakan individu satu dengan lainnya atau kelompok satu dengan lainnya (menyangkut masalah etnik atau suku dan bangsa).
·        Nature : sosok asli, sifat utama yang menandai seseorang secara menonjol.
·        Quality : kualitas diri kita, karakteristik yang khas.
·        Temperament : perangai, tabiat, watak
·        Inner Personality : kepribadian dalam diri kita
·        Disposition : kecenderungan kita, keunggulan moral
·        Spirit : hasrat, keinginan , kehendak, keteguhan

Psikolog Lawrence Pervin mendefinisikan karakter moral sebagai "disposisi untuk mengekspresikan perilaku dalam pola yang konsisten di berbagai situasi."

Melalui berbagai definisi tersebut maka dapat kita simpulkan, karakter berarti adalah kualitas/watak yang dimiliki seseorang sehingga dapat membedakan dirinya dengan orang lain. Lebih dalam lagi, pengertian karakter adalah jumlah keseluruhan dari sisi positif dan negatif dalam kehidupan seseorang yang diwakilli oleh pemikiran, nilai, motivasi, sikap, perasaan dan tindakan.

Karakter merupakan gabungan dari “pembawaan lahir” atau “temperamen" yang kita dapatkan dari orang tua (factor genetic) dan lingkungan kita, yang secara tidak sadar dapat mempengaruhi seluruh perbuatan, perasaan, dan pikiran kita.

Karakter Kristen adalah kualitas yang dimiliki oleh seorang Kristen yang mencerminkan dan memancarkan kemuliaan Kristus di dalam dirinya. Membentuk karakter Kristen berarti membentuk seseorang untuk memiliki kualitas/watak Kristus dengan cara menjadi serupa dengan Kristus dan meneladani Kristus dalam hidupnya, serta hidup sesuai dengan kebenaran Alkitab.

Setiap manusia pasti mempunyai karakter yang berbeda dengan yang lain. Manusia sebagai makhluk individu-sosialis mempunyai karakter sosial yang kuat berbeda dengan makhluk-makhluk hidup lainnya. Seorang pemimpin KTB bertanggungjawab untuk mengembangkan dan membentuk karakter Kristen di dalam diri anggota-anggotanya sebagai seorang pribadi, serta memadukan berbagai karakter anggotanya tersebut sehingga menjadikan sebuah KTB yang harmonis. 

Beberapa prinsip yang perlu kita ketahui dalam mengembangkan karakter adalah:
a.  Mengembangkan apa yang ada padanya, tetapi tidak memaksakan apa yang tidak ada padanya.
b.     Setiap anggota memiliki potensi yang sama untuk berkembang dan terus-menerus bertumbuh.
c.     Setiap anggota memerlukan keyakinan diri untuk berkembang.
d.     Menyerahkan setiap anggota pada kuasa Tuhan Yesus .
e.     Pemimpin perlu memiliki kasih, kesucian, kebajikan, keadilan, keberanian, kedisiplinan dan sebagainya.

Penyelarasan Karakter dalam Kelompok

Telah disebutkan di atas bahwa setiap anggota KTB pasti memiliki karakter yang berbeda satu sama lain. Untuk menjalin hubungan yang harmonis dalam KTB, pemimpin KTB harus menumbuhkan persahabatan di antara AKTB dengan cara menyelaraskan karakter anggota satu dengan lainnya. Karakter tentu saja tidak bisa disamakan melainkan dipadukan atau diselaraskan. Semua dimulai dari pemimpin yang harus menyelaraskan karakternya sendiri dengan karakter semua anggotanya, lalu menyelaraskan seluruh karakter anggotanya.  Bagaimana caranya? Mari kita bandingkan dua gambar di bawah ini. Seperti apa posisi kita agar dapat menyelaraskan semua karakter dalam kelompok kita? Jika kita sudah menjadi pemimpin KTB, mari kita periksa diri kita bagaimana kita memposisikan diri selama ini sebagai pempimpin KTB?

Apakah sebagai pemimpin yang menjalankan program, yang penting maju ke depan tanpa melihat kondisi anggotanya dan menempatkan diri lebih tinggi dari anggotanya?


Ataukah sebagai pemimpin yang menempatkan diri sama dengan anggotanya dan selalu memperhatikan kondisi setiap anggota?



Memimpin KTB bukanlah sekedar menjalankan kegiatan bersama, atau mengembangkan teknik-teknik hubungan antar personal, melainkan memberikan diri dan hati untuk menjadi berkat bagi anggota-anggotanya. David G. Benner dalam buku Sacred Companion (Sahabat Kudus) menulis, ”Persahabatan rohani adalah menjadi berkat dengan memberi keramahan, kehadiran, dan dialog”. Dengan demikian, sangat jelas bahwa pemimpin KTB harus memposisikan diri seperti pada Gambar A. Kita diciptakan untuk satu sama lain. Tidak ada seorangpun yang dapat hidup sendirian, bahkan jika ia seorang yang sangat tertutup sekalipun. Orang membutuhkan relasi dengan orang lain. Namun membuat relasi itu harmonis, apalagi membuatnya bertumbuh, kenyataannya sangat sukar dilakukan. Pemimpin bukan hanya bertanggungjawab menjadikan KTB yang harmonis, melainkan juga harus menjadikan KTB yang bertumbuh.

Cara Menumbuhkan Kepekaan Terhadap Karakter AKTB

Menemukan dan Membentuk karakter diri

Instropeksi dan penggalian diri merupakan suatu syarat utama di dalam membentuk karakter Kristen dalam diri sendiri. Seseorang yang hanya bisa melihat orang lain dan tidak menggali dirinya sendiri tidak akan pernah memiliki karakter yang agung. Jika kita bisa mengetahui kelemahan kita sendiri dan bukan kelemahan orang lain, maka kita bisa menghindarkan diri dari berbagai kesalahan. Seorang pemimpin KTB tidak mungkin dapat membangun karakter anggota-anggotanya tanpa mengenal karakter dirinya sendiri.

Langkah-langkah untuk menumbuhkan karakter ke arah Kristus:
1. Penemuan diri
Pemimpin yang tidak mengenal dirinya sendiri, tidak mungkin bisa menumbuhkan karakter secara sehat di hadapan Tuhan, baik bagi dirinya maupun bagi anggotanya.
2.    Penghargaan diri
Pemimpin yang tidak menghargai diri sendiri tidak mungkin bisa bertumbuh dengan sehat, apalagi menolong anggotanya bertumbuh.
3.    Kepercayaan diri
Setelah mengenal dirinya, pemimpin harus memiliki kepercayaan diri yang kuat untuk berkembang di atas dasar iman kepada Yesus.
4.    Pengembangan diri
Pemimpin harus tekun melatih diri untuk pertumbuhan pribadinya dan menjadi teladan yang memotivasi pertumbuhan anggotanya.

Mengasihi seperti Yesus mengasihi

Yesus memerintahkan, “Kasihilah seorang akan yang lain sama seperti Aku mengasihi kamu”. Jika Yesus mengasihi orang lain, maka kita sebagai pengikut-Nyapun harus mengasihi orang lain. Kristus ada demi kita. Maka kita sebagai pemimpin KTBpun ada demi anggota-anggota KTB, bukan untuk memuaskan keinginan kita sendiri.

Paulus menghidupi perintah Yesus dan mengajarkannya kepada Timotius, anak bimbingnya. “Tetapi engkau telah mengikuti ajaranku, cara hidupku, pendirianku, imanku, kesabaranku, kasihku dan ketekunanku. Engkau telah ikut menderita penganiayaan dan sengsara seperti yang telah kuderita di Antiokhia dan di Ikonium dan di Listra. Semua penganiayaan itu kuderita dan Tuhan telah melepaskan aku dari padanya. Tetapi hendaklah engkau tetap berpegang pada kebenaran yang telah engkau terima dan engkau yakini, dengan selalu mengingat orang yang telah mengajarkannya kepadamu.” (2 Tim. 10-11, 14)

Ayat-ayat di atas menunjukkan adanya sebuah jalinan relasi, yaitu mengerjakan pekerjaan bersama-sama, meluangkan waktu bersama-sama, mengenal satu sama lain dengan akrab, dan belajar bersama-sama untuk semakin teguh dalam iman. Inilah perwujudan kasih yang Yesus inginkan, bukan sekedar ada, melainkan hidup di dalam sebuah KTB. Pemimpin KTB harus  menghidupi kasih Yesus dan menghidupkan kasih itu dalam KTB. Perwujudan kasih yang dapat dilakukan pemimpin KTB terhadap AKTB adalah:
o   Memberikan diri bagi AKTB.
o   Menyediakan waktu luang.
o   Mau mendengar.
o   Mendoakan secara teratur.
o   Mengajar dan melatih AKTB.

Menaklukkan diri untuk menerima orang lain

”Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus, yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia” (Fil. 2:5-7).

Kalimat “menaruh pikiran” berasal dari kata phroneo (Yun), artinya “punyailah pikiran”; “bersikaplah”; let be (mentally) disposed . Dalam bahasa aslinya, ayat ini merupakan perintah, bukan saran atau anjuran. Paulus mengajar kita untuk menjadi pribadi yang tidak menuntut pengakuan dari orang lain; menjadi orang yang rela untuk dianggap tidak penting; atau dengan kata lain, mau merendahkan diri dan rela untuk diperlakukan tidak sebagaimana yang kita inginkan. Dengan sikap demikian seorang pemimpin KTB akan mampu menerima karakter apapun yang dipunyai anggota KTBnya dan lebih mudah untuk mendorong anggota-anggotanya bertumbuh.

Yesus telah mengosongkan diri-Nya, artinya Dia tidak menganggap popularitas-Nya pada saat itu sebagai hal yang penting untuk diperhitungkan. Yesus punya hak untuk berkuasa atas manusia namun tidak dipergunakan-Nya. Justru Dia merendahkan diri menjadi orang yang paling rendah di antara semua orang. Yesus meminta seorang pemimpin harus mau mengorbankan haknya untuk melayani orang lain. Keangkuhan bisa menjadi rintangan terbesar untuk meneladani kehambaan Yesus. Mari kita siapkan diri kita menjadi pemimpin yang berkarakter Kristus.


Referensi

Alkitab
Bill Crowder, Sorotan Iman (The Spotlight of Fath): Memahami Arti Berjalan Bersama Allah, Discovery House, Jakarta, Cet. 1, 2008.
Bill Hull, Choose The Life: Memilih Hidup Serupa Yesus, Literatur Perkantas Jawa Timur, Cet. 1, April 2012.
Bill Hybels, Becoming a Contagious Christian, Literatur Perkantas Jawa Timur, Cet. 1, Mei 2012.
David G. Banner, Sacred Companions (Sahabat Kudus), Literatur Perkantas Jawa Timur, Cet. 1, Maret 2012.
John Piper, Brother, We are not Professional: Suatu Permohonan bagi Para Gembala untuk Kembali Melayani dengan Radikal, Pionir Jaya, Cet. 1, Juli 2011.
Mary Setiawani dan Stephen Tong, Seni Membentuk Karakter Kristen, Lembaga Reformed Injili Indonesia, Surabaya, Cet. 4, 2005.
N. T. Wright, Hati & Wajah Kristen: Terwujudnya Kerinduan Manusia dan Dunia, Waskita Publishing, Jakarta, Cet. 1, 2012.
Steve Barker, Buku Pegangan Pemimpin Kelompok Kecil, Perkantas, Jakarta, 1982.

Minggu, 27 November 2011

KEKELUARGAAN DALAM KTB


Kekeluargaan dalam KTB
(Oleh: Niken Nababan, disampaikan pada Pertemuan PKTB PMKT – 19 Nopember 2011)

KTB adalah pelayanan pemuridan yang dicontohkan oleh Tuhan Yesus sendiri. KTB merupakan metode yang paling efektif dan masih relevan sampai saat ini dalam dunia pelayanan mahasiswa, untuk membentuk dan menghasilkan alumni yang takut akan Tuhan dan menjadi berkat bagi keluarga, gereja, masyarakat dan negara. KTB tidak hanya efektif bagi pembinaan mahasiswa, tetapi juga efektif untuk bagi pelayanan alumni. Semuanya berawal dari pertobatan individu, lalu berproses menjadikan Kristus sebagai pusat hidup, dan kesediaan menjalani hidup yang diperbarui. Diperlukan perjuangan dan ketekunan dari setiap anggota KTB untuk bertumbuh dengan baik, karena KTB bukanlah sekedar sarana beraktivitas ataupun bersosialisasi.

Setiap murid Kristus mengalami fase pertumbuhan sebagaimana yang digambarkan Petrus dalam 1 Petrus 2:1-17. Petrus memakai lima metafora untuk menggambarkan fase pertumbuhan seorang murid.
1.      Sebagai bayi yang baru lahir kita diberi tanggung jawab pribadi untuk bertumbuh secara individual dan datang mempersembahkan diri kepada Kristus. (ay. 2, 4, 5)
2.      Sebagai batu hidup kita dipanggil untuk bersekutu dengan saudara seiman dan memiliki tanggung jawab bersama-sama dalam pembangunan rumah Tuhan. (ay. 5)
3.      Sebagai umat Allah kita dipanggil untuk bersaksi memberitakan Injil kepada dunia. (ay. 10)
4.      Sebagai pendatang kita dipanggil untuk hidup dalam kekudusan. (ay. 11, 12)
5.      Sebagai hamba Allah kita dipanggil untuk tunduk dan takut kepada Allah. (ay. 15-17)

KTB menjadi sarana pembinaan yang sangat efektif untuk menolong setiap murid Kristus dalam proses melalui fase-fase pertumbuhan tersebut. KTB sendiri merupakan fase kedua dalam pertumbuhan murid. 

KTB sebagai ‘keluarga’
Mengenai “keluarga”, secara Alkitabiah terdapat dua pengertian. Yang pertama adalah keluarga dalam pengertian sekelompok orang yang terdiri dari ayah, ibu, anak, dan hambanya, sebagaimana yang tertulis dalam kitab Efesus 6:1-9. Yang kedua adalah keluarga Allah, yaitu sekelompok orang percaya yang bersekutu atau hidup bersama yang diikat oleh Roh Kudus.
Demikianlah kamu bukan lagi orang asing dan pendatang, melainkan kawan sewarga dari orang-orang kudus dan anggota-anggota keluarga Allah (Efesus 2:19).
Kesatuan dan kebersamaan orang-orang percaya di dalam Kristus disebut persekutuan. Kata yang dipakai untuk persekutuan dalam bahasa Yunani adalah Koinonia yang berasal dari kata dasar koinos yang berarti ‘lazim’ atau ‘umum’. Artinya berkaitan dengan kebersamaan.
Kedua pengertian keluarga tersebut memang jelas berbeda dalam hal wujud fisiknya, namun dalam hal perwujudan kasih Kristus, segala sesuatu yang ada di dalamnya memiliki kesamaan prinsip. Keduanya dapat diwujudkan dalam sebuah KTB, menjadi prinsip yang seharusnya dipertahankan untuk menjaga kehidupannya.
Kata lainnya yang seringkali dikaitkan dengan koinonia adalah allelous (berarti satu terhadap yang lain) . Kata ini dipakai dengan pengertian hubungan yang timbal balik. Yesus berkata:
Aku memberikan perintah baru kepada kamu yaitu, supaya kamu saling mengasihi sama seperti aku telah mengasihi kamu, demikian semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid-muridku, yaitu jikalau kamu saling mengasihi. (Yohanes 13:34-35)
Keluarga Allah, menurut Paulus, adalah persekutuan orang-orang percaya karena mereka dipersatukan oleh Kristus.
(19) Demikianlah kamu bukan lagi orang asing dan pendatang, melainkan kawan sewarga dari orang-orang kudus dan anggota-anggota keluarga Allah, (20) yang dibangun di atas dasar para rasul dan para nabi, dengan Kristus Yesus sebagai batu penjuru. (21) Di dalam Dia tumbuh seluruh bangunan, rapih tersusun, menjadi bait Allah yang kudus, di dalam Tuhan. (22) Di dalam Dia kamu juga turut dibangunkan menjadi tempat kediaman Allah, di dalam Roh. (Ef. 2:19-22)
Paulus memberikan gambaran kepada jemaat di Efesus mengenai keluarga Allah sebagai suatu bangunan yang indah dengan Kristus sebagai batu penjuru, yaitu batu yang menjadi fondasi, yang menyangga seluruh beban dalam bangunan. Prinsip ini seharusnya tertanam dalam hati semua anggota KTB di mana setiap orang memiliki iman yang sama sehingga semua mengalami pertumbuhan rohani menurut bagiannya masing-masing.
Dari pada-Nyalah seluruh tubuh, --yang rapih tersusun dan diikat menjadi satu oleh pelayanan semua bagiannya, sesuai dengan kadar pekerjaan tiap-tiap anggota--menerima pertumbuhannya dan membangun dirinya dalam kasih. (Ef. 4:16)
Seorang pemimpin KTB harus menanamkan dasar ini kepada semua anggotanya. KTB sebagai keluarga Allah adalah satu bangunan yang menjadikan Kristus dasar dari kehidupannya. Setiap anggota merupakan bagian yang berhubungan dan terikat dengan yang lainnya. Jika salah satu hilang atau rusak, dapat menyebabkan runtuhnya bangunan itu. Jika visi Paulus ini terpelihara dalam KTB, maka akan tercipta sebuah KTB yang mencerminkan sebuah keluarga di mana masing-masing anggotanya saling berhubungan, bergantung dan mendukung satu sama lain demi terciptanya pertumbuhan, kedamaian, kesejahteraan, dan suka cita dalam KTB.
Cara membangun kekeluargaan KTB
1.         Membangun kebersamaan kelompok
  • ·      Menekankan bahwa Kristus adalah dasar KTB dan Roh Kudus pengikatnya
  • ·      Melatih berkomunikasi yang baik
  • ·      Memotivasi keterbukaan dalam KTB
  • ·      Mau berkorban membagi hidup (menjadi gembala)
  • ·      Membuat perencanaan program KTB bersama
2.         Mendukung pengembangan potensi diri
  • ·      Mendukung pengembangan diri tiap anggota KTB dengan mengenali karunia dan menggunakannya
  • ·      Menjadi teladan bagi adik-adik KTB
3.         Menciptakan pengalaman-pengalaman bersama
  • ·      Mengerjakan suatu proyek bersama
  • ·      Rekreasi
  • ·      Belajar bersama
Hal-hal yang dapat merusak kelanggengan KTB
1.         Hati yang tidak sungguh-sungguh
Anggota KTB yang hatinya tidak sungguh-sungguh menginginkan ber-KTB akan terlihat dari ada atau tidaknya perubahan/pertumbuhan dalam dirinya. Jika ada anggota yang tidak sungguh-sungguh dan tulus ber-KTB suatu hari akan mundur karena tidak akan tahan berpura-pura terus.
2.         Mengingkari janji
Mengingkari janji terhadap kesepakatan bersama dalam hal waktu (menyangkut masalah memberi prioritas) dan menyimpan rahasia (menyangkut kepercayaan) merupakan perbuatan yang dapat melukai anggota KTB. Jika ada seorang yang selalu datang terlambat atau sering membatalkan waktu pertemuan akan menimbulkan rasa jengkel dan lama-kelamaan akan menumbuhkan rasa ketidakpercayaan. Hal ini tentu mempengaruhi suasana ber-KTB dan kasih di antara anggota. Terlebih jika ada anggota yang membocorkan rahasia pribadi saudara KTBnya, dapat menimbulkan luka yang teramat dalam.
3.         Melanggar batas etika hubungan keluarga
Betapapun dekatnya hubungan antar anggota KTB, tetap ada batas-batas kesopanan yang harus dijaga. Jika seseorang selalu melanggar batas hak pribadi yang dimiliki saudara KTBnya, tentu akan menimbulkan perasaan tidak nyaman dan lama-kelamaan akan terjadi penolakan dari saudara KTBnya. Suasana ber-KTB akan menjadi rusak dan lambat laun mungkin akan ada yang mundur.
4.         Egois
Setiap anggota KTB dapat memiliki sifat/karakter, prinsip, dan pandangan yang berbeda-beda. Jika masing-masing egois, tidak mau menerima yang lain, maka akan menimbulkan konflik yang mengakibatkan perpecahan KTB.

Kekuatan dari sebuah KTB untuk bertahan hidup
1.      Discipline
Tidak ada pertumbuhan tanpa disiplin. Disiplin adalah kunci kekuatan bagi pribadi, kelompok, maupun bangsa. Ada harga yang harus dibayar untuk menjadi orang yang disiplin. Disiplin yang kuat akan memberikan dampak positif yang luar biasa bagi seseorang, yaitu keseimbangan hidup, mampu mengontrol diri, konsisten, dan ada tujuan yang jelas dalam hidupnya. Untuk menjadi seorang yang disiplin perlu proses berlatih dengan tekun setiap hari tanpa batas waktu.
2.      Priority
Anggota harus mau memberikan prioritas dalam hal waktu dan focus/concern. Jika hanya waktu saja yang diberikan namun tidak focus/concern, maka KTB hanya berjalan seadanya, tanpa kesungguhan, tanpa persiapan, dan tanpa makna. Jika hanya focus saja tapi tidak memberikan waktu, perjalanan KTB juga akan tersendat-sendat, lambat, dan memungkinkan terjadi kekecewaan dan ketidakpercayaan.
3.      Belonging
Harus ada rasa memiliki sehingga merasa rugi jika KTB batal, apalagi sampai mati.
4.      Objectivity
Anggota harus memiliki kasih yang sama, tidak memihak atau lebih mengasihi yang satu dibanding lainnya.
5.      Acceptance
Anggota bisa menerima satu sama lain sebagaimana adanya, termasuk bisa menerima perbedaan suku, pendapat, social ekonomi, dll.
6.      Support
Anggota mau saling mendukung untuk pertumbuhan rohani masing-masing.
7.      Trust
Anggota saling mempercayai dan dapat dipercayai
8.      Reality
Anggota melakukan hal-hal yang real, masuk akal, dan sesuai kebenaran firman Tuhan. Bukan melakukan hal-hal yang tidak dapat dijangkau atau di luar kapasitasnya.
9.      Leaven
"Hal Kerajaan Surga itu seumpama ragi yang diambil seorang perempuan dan diadukkan ke dalam tepung terigu tiga sukat sampai khamir seluruhnya." (Matius 13:33).
Selain orang Yahudi, kebanyakan orang tidak mengenal kata leaven (adonan asam), dan karena alasan ini maka diterjemahkan sebagai yeast (ragi),  dari bahasa Yunani zume. Ragi adalah makanan yang bersih, segar, bermanfaat, dan bahkan lezat. Ragi dibuat dari pengolahan larutan mineral gula-garam yang ditambahi zat tepung. Sedangkan adonan asam diproduksi dengan menyimpan sejumlah adonan selama satu minggu dan ditambahkan sari buah untuk mempercepat proses fermentasi.
Yesus menggunakan konsep leaven atau yeast karena kekuatannya yang tersembunyi. Ragi dan adonan asam meresap ke dalam seluruh adonan sehingga menyebabkan adonan mengembang. Sesudah ragi atau adonan asam dicampur dengan tepung, ragi atau adonan asam tersebut tidak dapat diketemukan lagi, tersembunyi dan tidak terlihat. Ragi dan adonan asam tidak terlihat, tetapi pengaruhnya dapat dilihat oleh semuanya.

Penutup
Belajar dari orang lain dapat memperlengkapi dan memotivasi seorang pemimpin dalam mempertahankan KTB yang dipimpinnya. Salah satunya kita dapat belajar dari Billy Graham, pengkhotbah terkenal dan pemimpin handal, yang membentuk sebuah tim dalam membangun pelayanannya. Tim ini dikenal sangat solid dan langgeng. Kelanggengan ini tentu harus melewati medan yang sulit. Namun perlu kita simak kata-katanya berikut ini. “Pelayanan kami mengalir begitu saja, sepertinya bukan kami yang mengatur. Kami hanya bagian dari gerakan Roh Allah yang bekerja dengan luar biasa.” Suatu sikap rendah hati yang luar biasa ditunjukkan dengan pengakuannya terhadap kuasa Tuhan dan penghargaannya kepada anggota-anggotanya.
Dikatakannya juga bahwa hubungan antara orang-orang menjadi semakin kental kalau mereka melewati masa krisis atau menghadapi tantangan besar bersama-sama. Suatu komitmen luar biasapun diucapkan Billy, “Kita akan bersama-sama melayani Tuhan sampai Ia datang lagi atau sampai salah satu di antara kita dipanggil pulang ke surga”.
Satu kunci penting dalam kepemimpinan Billy adalah Billy selalu memimpin dengan kasih dan rendah hati. Kasih Tuhan yang ada pada Billy jelas terlihat, menyinari rekan-rekannya, juga menyinari dunia yang sedang mengamatinya. Demikianlah kesaksian dari banyak orang yang pernah dekat dengan Billy. Mengutip kalimat Mother Teresa, “Bukan berapa banyak yang kita lakukan, tetapi berapa banyak kasih yang kita sertakan dalam perbuatan kita”.
Mengandalkan Roh Kudus menjadi dasar utama dan pertama dari kelanggengan tim pelayanan Billy. Selanjutnya adalah memperlakukan anggota-anggota tim sebagai keluarga dan menumbuhkan nilai-nilai kasih di dalamnya. Tim pelayanan Billy memang bukan KTB, namun prinsip kepemimpinannya dapat menjadi contoh bagi setiap pemimpin KTB untuk menjaga agar KTB mampu bertahan hidup dengan menonjolkan nilai-nilai kasih sebagai sebuah keluarga.

Pertanyaan Diskusi
1.      Pikirkan apa saja yang dapat menghambat jalannya KTB, atau bahkan membuat KTB itu mati.
2.      Apakah membuat prioritas untuk ber-KTB itu perlu? Berikan alasannya.
3.      Kesulitan apa saja yang pernah saudara dihadapi dan bagaimana saudara mengatasinya?


Referensi

Dan William, Membangun dan Memelihara Kelompok Kecil, Literatur Perkantas, Jakarta, 2009.
G. Byron Deshler, The Power of the Personal Group, Tidings, Nashville, Tennessee, 1960.
Harold Myra, The Leadership Secret of Billy Graham (Rahasia Kepemimpinan Billy Graham), Yayasan Baptis Indonesia, Bandung, 2007.
J. Alex Kirk, Komunitas yang Diubahkan: Buku Pegangan Pemimpin Kelompok Kecil, Perkantas – Divisi Literatur, Jakarta, 2010.
John Stott, The Radical Disciples (Murid yang Radikal), Literatur Perkantas Jawa Timur, Surabaya, 2011.
Richard Shelley Taylor, The Disciplined Life: Studies in the Fine Art of Christian Disciplelsip, Beacon Hill Press, Kansas City, Missouri, 1962.

Sabtu, 05 November 2011

SPIRITUALITAS DAN KESIBUKAN

SPIRITUALITAS DAN KESIBUKAN
Oleh: Niken Nababan, disampaikan dalam PU Sekolah Vokasi Teknik UGM, 5 Nopember 2011


Pengertian Spiritualitas Kristen

Kata spiritual (Yun. pneumatikos), berarti “bersifat roh” atau “berkenaan dengan roh”. Dalam PB, kata ini banyak ditulis dan memiliki tiga arti yang berbeda. Sebagai contoh, yang tertulis dalam kitab Korintus:
·         1 Kor. 2:15; 3:1 à tentang manusia rohani;
·         1 Kor. 2:13; 9:11 à tentang hal-hal rohani;
·         1 Kor. 10:3-4; 15:44-46 à tentang benda-benda rohani.

Spiritualitas Kristen berhubungan dengan segala sesuatu dalam pengalaman hidup orang yang percaya Kristus.  Intinya adalah suatu kesatuan yang lebih intensif dengan Allah yang dinyatakan di dalam Yesus Kristus melalui Roh Kudus. 

Kehidupan spiritualitas orang percaya didasari oleh iman kepada Yesus Kristus. Dengan percaya dan beriman kepada Yesus Kristus sebagai Tuhan dan juruselamat yang telah menebus dosa-dosa dunia dan yang telah bangkit, maka mereka menerima karunia Roh, yaitu Roh Kudus tinggal di dalam kehidupan mereka. Berdasarkan karunia Roh yang diterima dan tinggal di dalam hidup orang-orang percaya, maka kehidupan mereka yang lamapun diperbarui. Mereka memiliki hidup yang baru, yang berada di dalam kasih Allah.

Sedikitnya ada tiga manifestasi Spiritualitas Kristen di dalam kehidupan orang-orang percaya. Ketiga manifestasi spiritualitas itu adalah:

·         Kehidupan spiritualitas yang merupakan persekutuan yang intim bersama dengan Allah;
·         Kehidupan spiritualitas yang ada di dalam komunitas orang percaya;
·         Kehidupan spiritualitas yang dinyatakan di dalam praktek hidup sehari-hari.

Ketiga manifestasi spiritualitas ini tidak dapat dipisahkan satu sama lainnya. Mereka saling menyatu, memperkaya, dan mengisi satu sama lainnya.  

Sangat sering terjadi pemahaman yang keliru mengenai spiritualitas di dalam kehidupan orang percaya. Di mana hal-hal yang menyangkut kehidupan spiritualitas orang-orang percaya hanya dipahami dalam kategori urusan-urusan batin atau rohani saja dan tidak kait-mengkait dengan soal fisik atau jasmani (tubuh). Akibatnya, penekanan spiritualitas yang demikian hanya fokus kepada aspek pengalaman spiritualitas yang berpusat kepada diri sendiri.

Dalam Roma 12:1, Paulus menasihatkan agar jemaat melakukan ibadah yang sejati, yaitu mempersembahkan tubuh sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah. Di sini Paulus mengajarkan bagaimana jemaat harus hidup beriman dalam kehidupan sehari-hari menurut ajaran Kristus. Maksud “mempersembahkan tubuh” adalah penyerahan diri kepada Allah secara rohani/batiniah, bukan penyerahan pada tata cara ibadah. “Persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan” menunjuk kepada segenap akal budi, jiwa, dan raga yang terus-menerus diubahkan (ay. 2), lalu dipersembahkan sepenuhnya kepada Allah dengan pengorbanan diri dan ketaatan melakukan perintah Allah.

Meskipun demikian, bukan berarti ibadah yang kita lakukan secara rutin itu tidak bermakna atau salah. Dalam Ibrani 10:25, dengan tegas Paulus memperingatkan agar jemaat tidak menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah. Jadi ibadah itu penting tapi harus ada keseimbangan antara menyembah kepada Allah (vertical) dan mempedulikan sesama kita (horizontal). Maka sesungguhnya kita tidak boleh memisahkan antara yang rohani dan yang jasmani.

Pentingnya Menjaga Spiritualitas Kristen

1 Petrus 5:8-11
(8) Sadarlah dan berjaga-jagalah! Lawanmu, si Iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya.
(9) Lawanlah dia dengan iman yang teguh, sebab kamu tahu, bahwa semua saudaramu di seluruh dunia menanggung penderitaan yang sama.
(10) Dan Allah, sumber segala kasih karunia, yang telah memanggil kamu dalam Kristus kepada kemuliaan-Nya yang kekal, akan melengkapi, meneguhkan, menguatkan dan mengokohkan kamu, sesudah kamu menderita seketika lamanya.
(11) Ialah yang empunya kuasa sampai selama-lamanya! Amin.

Petrus memberikan petunjuk dengan sangat jelas mengapa kita perlu menjaga spiritualitas. Alasan yang pasti adalah karena Iblis senantiasa menggoda kita untuk memutus hubungan dengan Kristus supaya kita dapat dibinasakannya (ay. 8). Satu-satunya cara untuk melawan Iblis hanya dengan iman yang teguh kepada Allah (ay. 9) karena Allah satu-satunya sumber segala kasih karunia (ay. 10) yang berkuasa terhadap segala sesuatu (ay. 11).

Akibat buruk jika kita tidak menjaga spiritualitas kita mencakup dua hal:

  1. KEJENUHAN ROHANI (Spiritual Burn Out)
  2. KEKERINGAN ROHANI (Spiritual Dehydration)

Kedua hal ini merupakan tanda awal seseorang yang menuju kepada kebinasaan.

Spiritual Burn out

Keadaan 'burn out' bisa diumpamakan sebagai sebuah motor, yang bensinnya habis, bannya kempes, atau businya tidak berfungsi sekalipun sudah dibersihkan. Seorang yang 'burn out' dapat mengalami keadaan yang sangat menekan (stressfull), depresi, dan hidupnya menjadi kacau. Dia dapat kehilangan keseimbangan dan kehilangan kendali ego.

Contoh Kasus Kejenuhan Rohani dalam Alkitab:
a.      Elisa (1 Raja-Raja 19:4) à Elisa merasa putus asa dan bosan hidup karena kehilangan kendali. Kejenuhan ini terjadi ketika Elisa mengandalkan diri sendiri.
b.      Daud (Mazmur 42:2-12; 2 Sam. 11:1-27) à Daud mengalami kejenuhan rohani ketika dia mulai tidak berharap kepada Allah dan bahkan jatuh dalam dosa ketika dia mengerjakan segala sesuatu menurut kehendaknya sendiri.

Jika ada satu bagian dari diri kita mengalami kerusakan atau burn out, harus segera dilakukan pemberesan atau perbaikan atau penyembuhan, agar kerusakan itu tidak merembet ke mana-mana, seperti virus kanker, yang akhirnya membinasakan kita.

Spiritual Dehydration

Seseorang yang mengalami dehydration diartikan sebagai keadaan di mana orang itu kehilangan terlalu banyak cairan dalam tubuhnya sehingga menjadi sangat lemah dan sakit. Pengertian dehydration  dalam konteks rohani adalah keadaan di mana seseorang kehabisan/tidak memiliki kekuatan rohani yang berasal dari Firman Tuhan sehingga keadaan kerohaniannya menjadi lemah dan tidak memiliki kuasa. Keadaan ini sering juga disebut sebagai ‘Kekeringan Rohani’.

Orang Kristen yang mengalami keadaan kekeringan ini seringkali merasakan kehampaan yang membuatnya sulit untuk merasakan sukacita dalam persekutuan dengan Tuhan. Namun demikian gejala-gejala ini kadang sulit dikenali karena mudah disembunyikan, yaitu dengan cara berpura-pura dan menganggap bahwa hal itu akan membaik dengan sendirinya dengan cukup aktif dalam kegiatan-kegiatan rohani.

Jika seseorang sudah mulai merasa kering rohani, harus segera dilakukan siraman rohani. Seperti tanaman yang layu karena kekurangan air, jika tidak segera disiram air lagi, lama-kelamaan dia akan menjadi kering, lalu mati. Maka terhadap seseorang yang mengalami tanda-tanda kekeringan rohani inipun harus segera dilakukan penyegaran rohani dan pemulihan, agar ia tidak semakin lemah imannya, lalu akhirnya mengalami kebinasaan.
  
Saran-saran Praktis Menjaga Spiritualitas

a.      Ambil waktu istirahat di tengah kesibukan kita sebelum menjadi terlalu lelah. (Perlu manajemen waktu)
b.      Ambil waktu rekreasi/retreat pribadi setelah tugas-tugas panjang untuk menyegarkan kembali hidup kita.
c.       Sadari bahwa kekuatan kita datangnya dari Allah sendiri.
d.      Prioritaskan waktu untuk persekutuan dengan Tuhan  (butuh penyerahan diri dan pengorbanan).
e.      Pujilah Tuhan dan ucaplah syukur senantiasa. (Akan membuat kita untuk selalu ingat Tuhan)
f.        Latihlah pola hidup teratur (makan, olah raga, kegiatan). (Kesehatan tubuh sangat penting!)
g.      Secara berkala lakukan evalusi terhadap tujuan dan prioritas hidup yang Tuhan tentukan bagi kita.
h.      Singkirkan rasa malu dan sombong untuk mengakui keadaan kita di hadapan Tuhan.
i.        Selain Alkitab, baca juga buku-buku rohani/ atau dengarkan lagu rohani. (Dapat menolong kita untuk bangkit dari kelemahan).
j.        Lakukan latihan dengan menolong masalah orang lain. (Saat menolong orang lain, kita dapat menemukan pemecahan masalah kita sendiri).
k.       Berhenti hanya mencari berkat-berkat Tuhan saja tapi carilah sang Pemberi berkat.

Penutup

Sebagai pengikut Kristus kita harus selalu menjaga spiritualitas kita setiap hari. Sesibuk apapun kita, sebanyak apapun kegiatan kita, kita harus menyediakan waktu untuk bersekutu dengan Tuhan dan dengan sesama kita. Segala yang kita punyai dan yang bisa kita capai adalah anugrah Tuhan semata. Tanpa Tuhan kita tidak akan bisa berbuat apa-apa. Karena itu kita harus selalu mengucap syukur, memuji Tuhan dan mendekatkan diri kepada Tuhan agar spiritualitas kita terjaga, sehingga kita dimampukan melawan godaan Iblis yang senantiasa menginginkan kita jatuh ke dalam dosa dan menuju kebinasaan.

Amin.


Referensi

1 Michael Downey, Current Trends Understanding Christian Spirituality: Dress Rehearsal for a Method, dalam http: //www.spiritualitytoday.org/.
2 Mark A. McIntosh, Mystical Theology: the Integrity of Spirituality and Theology (Malden, Massachusetts: Blackwell Publishers, 1998).
3 Jerry White, Kuasa Penyerahan Diri (Bandung, Yayasan Kalam Hidup, 1999).
4 Our Heritage: Keunikan & Kekayaan Pelayanan Mahasiswa (Jakarta, Perkantas, 2006).
5 Richard Lamb, Menjadi Murid Yesus di Kehidupan Nyata (Jakarta, Perkantas, 2009).