“Setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan melakukannya,

ia sama dengan orang yang bijaksana, yang mendirikan rumahnya di atas batu.

Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu,

tetapi rumah itu tidak rubuh sebab didirikan di atas batu.”

(Matius 7:24-25)

Kamis, 27 Januari 2011

ESAU: MENYIA-NYIAKAN KASIH KARUNIA TUHAN


ESAU: MENYIA-NYIAKAN KASIH KARUNIA TUHAN

Belajar Dari Tokoh Esau

ALASAN MENGAPA ESAU PANTAS DIJADIKAN CONTOH KEHIDUPAN

Kisah Esau tertulis di Kejadian 25:29-34; 27:27-45; 33:1-16; Ibrani 12:14-17. Kesalahan Esau menjadi contoh bagi kita untuk tidak meniru perbuatannya itu. Esau telah menukar hal yang sangat penting dalam hidupnya, yaitu hak kesulungannya, hanya dengan masakan kacang merah. Ini menunjukkan Esau tidak menghargai karunia Tuhan. 

Pada masa itu hak kesulungan sangat penting karena menyangkut warisan dan berkat yang akan diterima sebagai anak sulung. Esau telah menyepelekan anugrah Tuhan terbesar, yaitu bukan hanya hak kesulungannya tapi juga kehidupan yang diterimanya. Akibat dari perbuatan itu maka diapun gagal memperoleh berkat yang seharusnya diberikan kepada anak sulung. Yakub adiknyalah yang akhirnya memperoleh berkat Tuhan. Tipu daya Yakub inipun membuat Esau menjadi sangat marah dan dendam mau membunuh Yakub. Dan karena itu Yakub harus pergi jauh dari rumah supaya jangan dibunuh Esau. Terjadilah perpecahan hubungan keluarga. 

Kesalahan Esau yang pertama akhirnya menimbulkan kesalahan-kesalahan yang lain, yaitu iri hati, benci dan dendam sampai mau membunuh, perpecahan keluarga dan yang lebih fatal adalah dia kehilangan berkat Tuhan. Pada akhirnya bertahun-tahun kemudian hati Esau dipulihkan Tuhan dan ia mau mengampuni Yakub.

PELAJARAN YANG DAPAT KITA AMBIL

1.      Menghargai karunia kehidupan yang diberikan Tuhan.
Kejadian 25:32-34; Esau telah menyepelekan karunia Tuhan sebagai anak sulung, maka kita jangan menirunya.

2.      Jangan mudah hanyut oleh hawa nafsu..
Kejadian 25:30,33,34; Ibrani 12:15,17; Esau tergoda makan masakan kacang merah untuk melepas lelah, diartikan sama dengan memuaskan nafsu untuk kesenangan dunia.

3.      Sekali jatuh dalam godaan hawa nafsu akan cenderung muncul godaan-godaan yang lain untuk berbuat dosa.
Kejadian 27:41; Ibrani 12:15; Esau menjadi dendam kepada Yakub karena merampas berkatnya sebagai anak sulung. Kepahitan muncul sebagai akibat dari kesalahan yang dibuat pertama kali.

4.      Jangan mengorbankan karunia terbesar, yaitu keselamatan dari Allah, demi menikmati kesenangan sesaat.
Kejadian 27:34-35; Ibrani 12:14,16-17; Kita dapat kehilangan berkat Allah, bahkan kehilangan pengurapan Allah jika kita menyia-nyiakan karunia keselamatan yang Tuhan berikan kepada kita dengan cara hidup yang tidak kudus. 


KESIMPULAN DAN PENERAPAN

Kita telah menerima anugerah keselamatan dari Tuhan dengan penebusan oleh darah yang sangat mahal. Janganlah kita menyia-nyiakannya tetapi mari kita memeliharanya dengan menjaga kekudusan hidup kita. 

Ibrani 12:14,17; Kita harus menjaga hidup kita tetap kudus agar tetap dapat melihat Allah, maksudnya adalah: tetap berada dalam otoritas Allah sehingga kita diperkenan Allah dan menikmati berkat-berkat-Nya. Hidup tidak kudus merusakkan hubungan kita dengan Tuhan. Bahkan Tuhan dapat mengambil urapan itu dari kehidupan kita tanpa kita punya kesempatan lagi untuk memperbaikinya.

Sabtu, 15 Januari 2011

ABIGAIL, PEREMPUAN YANG MENYELAMATKAN KELUARGANYA

ABIGAIL, PEREMPUAN YANG MENYELAMATKAN KELUARGANYA


Belajar Dari Tokoh Abigail

Kisah Abigail ditulis di kitab 1 Samuel 25:2-42. Abigail memiliki sifat yang pantas untuk ditiru oleh setiap istri. Abigail adalah istri dari Nabal, seorang yang bebal, kasar dan jahat kelakuannya. Namun demikian hal itu tidak mengubah sifat Abigail yang cantik. Ia tetap menjadi istri yang bijak, taat dan hormat kepada suaminya serta rendah hati kepada setiap orang. Nabal orang kaya yang sombong, kikir dan mementingkan diri sendiri. Nabal menghina Daud sehingga Daud menjadi murka dan hendak membinasakan semua laki-laki di Maon. Tetapi Abigail memikirkan keselamatan suaminya dan seluruh orang di rumahnya. Ia mengambil alih peran Nabal tanpa menjatuhkan harga diri Nabal di depan orang lain. Bahkan ia mau mengambil resiko dengan menghadap Daud yang sedang murka dan merendahkan diri sujud pada kaki Daud untuk meredakan kemarahan Daud. Saat itu Abigail menyatakan bahwa kesalahan suaminya adalah kecerobohannya sebagai istri dan ia mau menanggung kesalahan itu. Abigail bukan hanya bijak tetapi juga sangat mengasihi suaminya dengan tulus. Ketika Nabal meninggal, Abigail memperoleh kemuliaan Tuhan dengan menjadi istri Daud raja Israel.

PELAJARAN YANG DAPAT DIAMBIL DARI TOKOH ABIGAIL (1 Samuel 25)

1. Mau mendengarkan saran atau teguran dari orang lain walaupun posisi kita lebih tinggi dari orang tersebut.
Ayat 17  Abigail mau mendengarkan nasihat bujangnya/pelayannya, menggambarkan sifatnya yang rendah hati.

2. Rela berkorban demi keselamatan suami dan keluarga.
Ayat 23-24  Abigail mau menanggung kesalahan Nabal dengan merendahkan dirinya di kaki Daud yang sedang marah kepada Nabal. Abigail mau menanggung resiko kemungkinan Daud akan marah kepadanya, bahkan bisa saja membunuhnya.

3. Menjaga kehormatan suami.
Ayat 28  Abigail menjaga kehormatan suaminya dengan mengakui kesalahan suami sebagai kesalahannya juga. Didasari prinsip bahwa suami istri adalah satu daging (Kejadian 2:24).

4. Pandai memilih waktu kapan harus berkata-kata, kapan harus diam dan kapan harus bertindak dalam menghadapi masalah dengan suami maupun keluarga.
Ayat 36-37  Abigail menahan diri dan memilih waktu yang tepat untuk menyampaikan permasalahan mereka yaitu di saat suaminya sudah tenang dan tidak mabuk lagi.

5. Istri yang bijak akan mendapat pujian dan perlindungan Tuhan.
Ayat 32-34  Tuhan melindungi Abigail dan membuat Daud luluh karena sikapnya yang bijak. Daudpun memujinya dan terus mengingatnya.

6. Istri yang mengikut Tuhan akan mendapatkan berkat-Nya lebih dari pada yang diharapkan.
Ayat 26,32,41,42  Abigail mengikut Tuhan sepenuh hati maka ia diberi hikmat Tuhan di dalam perannya sebagai istri dan pada akhirnya ia mendapat kemuliaan dari Tuhan dengan diambil istri oleh raja Daud. Pada konteks jamannya, hal ini adalah kemuliaan bagi para wanita.

UNTUK DIRENUNGKAN PARA ISTRI:

Jadilah istri yang berperan sebagai penolong suami, bukan sebaliknya malah merongrong suami. Berbuat baik bukan karena kebaikan suami tapi karena ketaatan kepada Tuhan, dan jalanilah peran ini dengan sukacita dan ketulusan hati karena upahnya besar di surga.

Jumat, 14 Januari 2011

ETIKA KRISTEN DALAM MENERAPKAN ADAT BATAK

ETIKA KRISTEN DALAM MENERAPKAN ADAT BATAK
Oleh: Niken Nababan
(Ditulis sebagai tugas paper mata kuliah Etika Terapan, 
Program Pasca Sarjana, STT Nazarene Indonesia - Anggota Persetia)


I. PENDAHULUAN

Kata ‘etika’ berasal dari beberapa kata Yunani yang hampir sama bunyinya, yaitu ethos dan éthos atau ta ethika dan ta éthika. Kata ethos artinya kebiasaan, adat. Kata éthos dan éthikos lebih berarti kesusilaan, perasaan batin, atau kecenderungan hati dengan mana seseorang melaksanakan sesuatu perbuatan.

Dalam bahasa Latin istilah-istilah ethos, éthos dan éthikos itu disebutkan dengan kata mos dan moralitas. Oleh sebab itu kata ‘etika’ sering pula diterangkan dengan kata ‘moral’. Etika tidak hanya menyinggung perbuatan lahir saja, tetapi menyinggung juga kaidah dan motif-motif perbuatan seseorang yang lebih dalam.

Dalam bahasa Indonesia, istilah ‘etika’ dinyatakan dengan kata ‘kesusilaan’. Kata ‘sila’ terdapat dalam bahasa Sansekerta dan kesusasteraan Pali dalam kebudayaan Buddha, mempunyai banyak arti. Pertama, sila berarti: norma (kaidah), peraturan hidup, perintah. Kedua, kata itu menyatakan pula keadaan batin terhadap peraturan hidup, hingga dapat berarti juga: sikap, keadaban, siasat batin, perilaku, sopan-santun dan sebagainya. Kata su berarti: baik, bagus. Kata ini pertama, menunjukkan norma dan menerangkan bahwa norma itu baik. Kedua, menunjukkan sikap terhadap norma itu dan menyatakan bahwa perilaku harus sesuai dengan norma.

Etika termasuk golongan ilmu pengetahuan normatif yang mempunyai tujuan untuk menerangkan hakikat kebaikan dan kejahatan. Hukum-hukum di dalamnya adalah hukum-hukum normatif yang meminta kita membuat suatu pilihan keputusan jawaban “ya” atau “tidak”. Dunia manusia senantiasa dikuasai oleh gagasan-gagasan mengenai yang benar dan yang salah, yang baik dan yang jahat. Percakapan kita sehari-hari kebanyakan berisi penilaian mengenai apa saja yang kita lihat maupun kita dengar. Cara orang bertindak dipengaruhi oleh keyakinannya mengenai apa yang baik dan yang jahat. Manusia sebagai makhluk individual, hidup di dalam sebuah komunitas yang mempengaruhi pola pikir dan perilakunya. Kita senantiasa diperhadapkan dalam berbagai situasi yang membuat kita harus memilih bagaimana kita harus bersikap dan berhubungan dengan sesama. Karl Popper, Conjectures and Refutations, menulis: “Tradisi diperlukan untuk membentuk hubungan antara lembaga-lembaga, maksud-maksud, dan penilaian-penilaian manusia individual ….. tak ada sesuatupun yang lebih berbahaya daripada penghancuran kerangka tradisional ini”.

II. KEBUDAYAAN DAN MAKNANYA BAGI MANUSIA

A. Pandangan Umum tentang Kebudayaan

Kata “kebudayaan” sangat sulit didefinisikan. The Willowbank Report dalam paper Lausanne Occasional tahun 1978, memberikan definisi sebagai berikut: “Kebudayaan adalah suatu sistem terpadu dari kepercayaan-kepercayaan (mengenai Allah, atau kenyataan, atau makna hakiki), dari nilai-nilai (mengenai apa yang benar, baik, indah, dan normatif), dari adat-istiadat (bagaimana berperilaku, berhubungan dengan orang lain, berbicara, berpakaian, bekerja, bermain, berdagang, bertani, makan, dan sebagainya, dan dari lembaga-lembaga yang mengungkapkan kepercayaan-kepercayaan, nilai-nilai, dan adat-istiadat ini (pemerintahan, hukum, pengadilan, kuil dan gereja, keluarga, sekolah, rumah sakit, pabrik, toko, serikat, klub, dan sebagainya), yang mengikat suatu masyarakat bersama-sama dan memberikan kepadanya suatu rasa memiliki jati diri, martabat, keamanan, dan kesinambungan”.

Clifford Geertz mendefinisikan kebudayaan sebagai suatu sistem simbol dari makna-makna, yaitu kebudayaan adalah sesuatu yang dengannya kita memahami dan memberi makna pada hidup kita. Geertz mengatakan bahwa kebudayaan mengacu pada suatu pola makna-makna yang diwujudkan dalam simbol-simbol yang diturunkan atau diwariskan secara historis, di mana dengannya manusia menyampaikan, melestarikan, dan mengembangkan pengetahuan serta sikap mereka mengenai kehidupan.

Pengalaman hidup manusia membuat kenyataan bahwa nilai-nilai kita sendiri dibentuk dan ditentukan oleh kebudayaan. Tidak ada sesuatupun yang kita pikirkan, katakan atau lakukan, bebas dari pengaruh ras, kelas, usia, dan jenis kelamin. Iman tidak membuat kita bebas dari kebudayaan karena kebudayaan adalah lingkungan yang di dalamnya apa yang kita percayai terbentuk. Tidak ada tempat yang bukan merupakan tempat budaya. Bukan hanya tindakan-tindakan pribadi kita, tetapi juga lembaga-lembaga sosial kita, kebijakan-kebijakan ekonomi kita dan praktek-praktek politik kita, memcerminkan dan mempengarhi kepercayaan-kepercayaan dari kebudayaan kita.

B. Kebudayaan dalam Perspektif Alkitab

Segera setelah manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah (Kej. 1:26), Allah memberi perintah kepada manusia untuk menguasai dan mengatur dunia. Dalam Kej. 1:28 tertulis, –Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka: “Beranak-cuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan takhlukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi”–. Kitab Kejadian mencatat dimulainya segala sesuatu yang ada di bumi, termasuk dimulainya kebudayaan yang diciptakan manusia sebagai penerima mandat budaya dari Allah. Dengan demikian, kebudayaan merupakan hasil karya manusia yang sejalan dengan perintah Allah. Budaya memberikan pengaturan supaya manusia bisa tinggal di suatu lingkungan bersama dengan sesama. Kita adalah makhluk sosial yang saling berhubungan dan membutuhkan orang lain.
Ketika kita mengamati hasil karya manusia, yang merupakan wujud dari kebudayaan, kita tidak hanya menemukan sisi positif serta keagungannya, tetapi juga sisi negatif serta cacat celanya. Hal ini merupakan akibat wajar dari kondisi manusia yang telah jatuh ke dalam dosa (Kej. 3). Sebagai contoh, dalam budaya Batak terdapat tradisi membangun tugu untuk mengumpulkan tulang-belulang para leluhur, yang diungkapkan dengan pepatah: “Ditaruh tulang-tulang bapa kita ke dalam makam yang lebih tinggi. Semogalah meningkat kemakmuran/kesuburan, meningkat kesejahteraan. Itu dilaksanakan kepada kita oleh nenek moyang kita, Dewata yang berbahagia, Disokong oleh roh para raja (yang sudah meninggal) yang hadir di sini”. Pepatah ini memperlihatkan dengan singkat corak dan makna pemujaan nenek moyang atau roh orang mati. Melalui pemindahan, diberikanlah kuasa kepada orang mati tersebut menjadi bapa leluhur yang dapat membagi-bagikan berkatnya kepada keturunannya. Hal ini jelas bertentangan dengan iman Kristen.

Iman alkitabiah senantiasa membuat pernyataan-pernyataan universal dan mutlak. Kita percaya bahwa Allah telah menjadi manusia di dalam suatu zaman dan tempat tertentu demi kepentingan seluruh dunia. Dialah Yesus, seorang manusia sempurna suku bangsa Yahudi dari Nazareth; diakui sebagai penyataan Allah, yang menjadi suatu contoh keteladanan hidup untuk setiap orang di dunia.

Alkitab penuh dengan ajaran moral yang ditulis dengan maksud dan tujuan untuk “mendidik orang dalam kebenaran” (1 Tim. 3:16-17). Yesus sendiri memerintahkan para pengikut-Nya untuk menjadi sempurna –bukan sempurna menurut suatu ukuran budaya yang relatif sesuai situasi manusia pada saat-saat tertentu–, melainkan sempurna seperti Allah (Mat. 5:48). Hal ini meneguhkan otoritas Alkitab sebagai firman Allah yang menjadi sumber kekuatan kebudayaan dalam membentuk dan menentukan segala pengetahuan dan sikap kita. Terang firman Allah membuka semua budaya, menjadikannya transparan, bisa melihat yang tersembunyi, yang benar dan yang salah.

ADAT SEBAGAI BAGIAN DARI BUDAYA

A. Pandangan Umum tentang Adat

Kata “adat” berasal dari kata kerja âda (bahasa Arab), yang artinya berbalik kembali, datang kembali. Sinonim lain dalam kebudayaan Indonesia ialah, “biasa” yang berasal dari kata Sansekerta abhaysa, yang mempunyai beberapa arti sebagai berikut:

a. sebagai sediakala, sebagai yang sudah-sudah, yang tidak menyalahi yang dahulu, tidak aneh, tidak menarik perhatian;
b. sudah lazim, sudah tersebar luas;
c. berulang-ulang, telah dialami orang.

Dari terminologi ini maka pengertian adat adalah tata kelakuan, perbuatan, tindakan yang biasa dilakukan di suatu daerah, yang diwariskan turun-temurun dari generasi ke generasi. Tujuan dibuat adat adalah untuk mengatur dan menata kehidupan manusia, untuk dapat aman, nyaman dan damai. Adat adalah salah satu sarana untuk menyejahterakan manusia agar dapat hidup dalam kerukunan dan kedamaian.

B. Adat dalam Perspektif Alkitab

1. Adat dalam Perjanjian Lama

Kata yang berhubungan dengan adat dalam Perjanjian Lama adalah kata Ibrani choq, chuqqah dan mishpat, yang mempunyai arti: undang-undang, hukum, tata-tertib, kebiasaan, adat-istiadat, keputusan atau ketetapan. Dalam beberapa nas, antara lain Keluaran 15:25; Yosua 24:25; Ezra 7:10; Yehezkiel 20:18; 1 Samuel 30:25, yang berhubungan dengan kata choq adalah ketetapan dan peraturan, baik yang dibuat oleh manusia maupun dibuat oleh Tuhan, yang berguna untuk melindungi dan menjaga kehidupan manusia agar tertib, aman, tentram dan sejahtera.

Kita dapati juga adat atau kebiasaan yang dilarang dan tidak diijinkan Tuhan untuk dilakukan oleh umat-Nya. Dalam 2 Raja 17:8; Tuhan melarang umat Israel meniru dan mempraktekkan adat-istiadat bangsa-bangsa lain, yaitu perlakuan untuk menyembah berhala dan pola hidup yang bertentangan dengan kehendak Allah. Dalam Imamat 18:3,30; Tuhan melarang umat-Nya untuk melakukan kebiasaan masyarakat Mesir. Dalam Yeremia 10:2; umat Tuhan dilarang untuk mengikuti kebiasaan bangsa-bangsa sekitar, yaitu penyembahan berhala, mempercayai kuasa dari benda-benda tertentu melebihi kuasa Tuhan, penyembahan patung dan segala bentuk kesia-siaan lainnya.

Dalam penjelasan di atas maka Perjanjian Lama menegaskan kepada kita:

a. Allah memberikan hukum, undang-undang, adat, kebiasaan dan berbagai ketetapan bagi umat-Nya. Allah mengijinkan bahkan memberkati manusia untuk melaksanakan adat yang tidak bertentangan dengan ketetapan Allah, untuk memelihara keharmonisan hubungan kita dengan Allah dan dengan sesama.
b. Allah melarang umat-Nya untuk mengikuti adat dari luar Israel, seperti penyembahan berhala, karena itu bertentangan dengan kehendak Allah, serta dapat merusak kebiasaan baik yang sudah dimiliki oleh umat Allah.

2. Adat dalam Perjanjian Baru

Kata “adat” dalam Perjanjian Baru adalah terjemahan dari kata paradosis yang mempunyai arti “adat-istiadat” (Mat. 15:2,6; Markus 7:3,5,8,9,13; Gal. 1:14), dan kata ethos yang mempunyai arti “kebiasaan” (Yoh. 19:40; Kis. 6:14). Sebegitu jauh, pemakaian itu adalah seragam dan jelas. Di kitab-kitab lainnya, “adat” itu merupakan terjemahan dari sejumlah istilah-istilah Yunani. Misalnya, entaphizein untuk adat penguburan (Mat. 26:12); eithismenos untuk kebiasaan pengudusan anak lelaki di Bait Suci (Luk. 2:27); synätheia untuk kebiasaan pergaulan (1 Kor. 11:16); anastrophe dalam 1 Pet. 1:18

Perjanjian Baru menunjukkan bahwa masyarakat Yahudi mempunyai adat-istiadat atau kebiasaan yang diwarisi dari nenek moyang mereka. Dasar timbulnya adat ini adalah hukum Taurat dan kebiasaan-kebiasaan yang mereka serap dari suku bangsa di sekitar mereka. Adat atau kebiasaan ini adalah ketentuan manusia yang dipahami secara legalitas serta dipandang kudus di kalangan orang-orang Farisi pada zaman Yesus. Orang Farisi menuntut penaatannya secara mutlak seperti orang memenuhi perintah Allah. Dari Injil kita mengetahui bagaimana sikap Yesus terhadap adat Yahudi ini.
Yesus mengikuti hukum yang diatur oleh Musa, di mana setiap anak sulung berumur 8 hari harus dibawa ke Bait Allah untuk diserahkan kepada Allah (Luk. 2:22-23). Pada saat memulai pelayanannya Yesus mengikuti dan menghargai adat Yahudi tentang perjamuan kawin di Kana (Yoh. 2:1-11).

Dalam Matius 12:1-8; orang Farisi dan ahli Taurat mengecam murid-murid Yesus yang dianggap melanggar adat Yahudi, di mana murid-murid memetik dan memakan bulir-bulir gandum pada hari Sabat, dan seolah-olah Yesus tidak mempedulikan pelanggaran tersebut. Yesus dengan tegas menampik tuduhan itu dengan mengambil contoh apa yang dilakukan Daud (1 Sam. 21:1-6). Ini menunjukkan bahwa Yesus menghargai adat tetapi Dia tidak menghendaki pengagungan adat di atas penyelamatan kehidupan manusia.

Fakta-fakta dalam Perjanjian Baru memberikan kesimpulan:

a. Dalam seluruh pelayanan-Nya, Yesus tidak pernah mengabaikan adat.
b. Yesus menghargai adat tetapi Dia menolak adat yang menghalangi, menggagalkan atau membatalkan kebenaran firman Allah. Adat tidak boleh melampaui anugrah dan keselamatan yang diberikan Yesus bagi manusia.
c. Adat yang boleh dipelihara dan dikembangkan adalah adat yang dapat membantu orang untuk menghayati dan memperteguh imannya kepada Tuhan, serta menyejahterakan hidup manusia.

III. ADAT SEBAGAI HUKUM DAN TATA TERTIB
DALAM SUKU BATAK

Lahirnya adat Batak disebabkan oleh beberapa hal berikut:

a. Adat diciptakan agar ada hukum yang berlaku untuk mengatur dan menata semua kehidupan. Pada dasarnya manusia memiliki sifat bebas, maka jika tidak ada ketentuan yang mengatur dan menata kehidupan mereka, akan menimbulkan kekacauan.
b. Adat lahir karena adanya keinginan dan kesepakatan bersama. Suatu aturan tertentu menjadi adat jika telah diterima dan disepakati bersama untuk dilakukan.
c. Adat tercipta karena adanya janji (padan) dan ikrar (uasiat) dari sekelompok orang, sekelompok marga, sekelompok kampung atau wilayah.
Di dalam adat Batak terdapat aturan-aturan atau perintah-perintah yang disebut patik. Patik berfungsi sebagai batasan tatanan kehidupan untuk mencapai nilai-nilai kebenaran. Patik ditandai dengan kata unang, tongka, sotung, dang jadi. Untuk menghindari penyimpangan tatanan kehidupan yang dimaksud dibuatlah uhum atau hukum. Uhum ditandai oleh kata aut, suru, baliksa, hinorhon, laos, tolon, bura, dan sebagainya. Peringatan untuk tidak melanggar patik itu ditegaskan dengan kata sotung. Dan mengharamkan segala aturan untuk dilanggar dinyatakan dengan kata subang.

Tata nilai kehidupan suku Batak di dalam proses pengembangannya merupakan pengolahan dan perkembangan dalam satu sistem komunikasi, meliputi:

a. Sikap mental (Hadirion),
b. Nilai kehidupan (Ruhut-ruhut ni parngoluon).

Sikap mental meliputi:
a. Cara berpikir (Paniangon),
b. Cara bekerja (Parulan),
c. Logika (Ruhut, raska, risa),
d. Etika (Paradaton),
e. Estetika (Panimbangon).

Suku Batak mempunyai sistem kekerabatan yang dikenal dan hidup hingga kini yakni partuturon. Setiap orang dari suku Batak mempunyai nama Marga/Family yang menunjukkan garis keturunannya terhadap Si Raja Batak dan anggota masyarakat Batak lainnya. Budaya Batak juga mengatur hubungan seseorang dengan orang lain, bagaimana cara memanggil dan menghormatinya. Dasar utama hubungan seseorang dengan lainnya disebut Dalihan Na Tolu atau Tungku Yang Tiga, yaitu pola kekerabatan dengan teman semarga, kakak beradik seibu, dan keluarga dari pihak istri. Orang Batak memelihara dan mengingat silsilahnya terhadap leluhur marganya dan hubungannya dengan saudara-saudara marganya. Untuk memudahkan mencari hubungan dengan saudara semarganya, maka orang Batak menomori generasinya terhadap leluhur pertama marganya. Misalnya, marga Nababan nomor 19 adalah generasi ke 19 dari Nababan yang pertama; anak ketiga dari marga Sihombing; saudara-saudaranya adalah marga Silaban, Lumbantoruan dan Hutasoit. Sihombing bersaudara dengan Simamora; keturunan dari Toga Sumba. Toga Sumba keturunan dari Tuan Sorimangaraja yang merupakan keturunan dari Raja Isumbaon, anak kedua dari Si Raja Batak.

Pada umumnya orang Batak sangat kuat menjaga kekerabatan ini dan memegang adat budayanya meskipun sudah merantau jauh dari kampungnya. Sebagai contoh, sampai sekarang orang Batak masih memegang aturan tidak boleh menikah dengan saudara semarga atau bahkan satu rumpun marga. Misalnya, dari keturunan Parsadaan Nai Ambaton (PARNA) yang terdiri dari 54 marga, tidak boleh menikah satu dengan lainnya. Demikian pula penyelenggaraan upacara-upacara adat, tetap dilakukan di perantauan meskipun sudah mulai sedikit disederhanakan untuk memperkecil biaya dan waktu. Kuatnya memegang adat ini adalah wujud dari kebanggaan orang Batak pada budayanya yang tentu saja sangat mempengaruhi perilaku kehidupannya sehari-hari. Di samping itu juga karena adanya sanksi jika mereka melanggar adat-adat tertentu. Misalnya, orang Batak akan dikucilkan jika menikah dengan orang semarga. Ini merupakan sanksi hukum adat yang berlaku dalam budaya Batak. Contoh lain, jika tidak melaksanakan adat membuat tugu bagi orang meninggal, maka itu akan dianggap sebagai hutang yang akan terus ditagih. Predikat sebagai orang tak beradat akan terus disandangnya. Ini merupakan sanksi moral bagi orang Batak.

NILAI-NILAI RELIGI DALAM BUDAYA BATAK

Suku Batak sejak dahulu sudah percaya kepada Tuhan yang pertama ada dan berkuasa. Dia adalah sosok yang menjadi tempat manusia meminta pertolongan di dalam menghadapi bencana atau malapetaka besar, dan sosok yang mempunyai kekuatan melampaui roh-roh alam, melampaui kematian dan melampaui kehidupan. Sosok ini disebut Ompu Tuan Mula Djadi na Bolon, atau pendeknya, Debata. Ada tiga sebutan yang lain: sebagai penguasa yang ada di atas bumi, disebut dengan Tuan Bubi na Bolon; sebagai penguasa yang ada di bumi, disebut dengan nama Ompu Silaon na Bolon; sebagai penguasa yang ada di bawah bumi, laut dan halilintar, disebut dengan nama Tuan Pane na Bolon.

Agama lama Batak ini hanya mengenal satu Yang Maha Kuasa, walau kadang di sisi lain ada juga yang animisme dan dinamisme, seperti adanya kegiatan membuat persembahan kepada penghuni-penghuni suatu tempat. Diperkirakan agama Hindu lama cukup mempengaruhi perkembangan budaya Batak, seperti dapat dilihat dari kosa kata yang diserap dari bahasa Hindi dalam banyak kosa kata bahasa Batak, serta terdapatnya candi-candi Hindu di Padang Bolak. Di zaman sekarang, mayoritas orang Batak menganut dua agama besar, yaitu Kristen dan Islam di mana perbandingan jumlah penganutnya hampir sama besar. Perkembangan pesat dua agama ini dimulai sekitar 200-300 tahun yang lalu. Kedua agama baru ini dapat dengan mudah diterima sebab masih dapat menunjang aspirasi yang ada di adat Batak.

ETIKA KRISTEN DALAM MENANGGAPI ADAT BATAK

Kita percaya bahwa Alkitab adalah pedoman utama dan berwibawa bagi iman dan kehidupan. Adat istiadat kebudayaan tidak memiliki kewibawaan yang mengatasi Alkitab. Di dalam Alkitab sendiri penuh dengan cerita tentang berbagai budaya suatu suku bangsa. Segala sesuatu yang tertulis di dalam Alkitab ditempatkan di dalam pengalaman budaya penulis atau penyuntingnya.

Namun Alkitab bukan suatu buku etika. Alkitab tidak berisi banyak risalah sistematik mengenai etika. Etika dibicarakan dengan jelas di dalam konteks suatu cerita. Hukum-hukum Perjanjian Lama diceritakan dalam konteks kisah-kisah mengenai keluarnya bangsa Israel dari Mesir. Khotbah di bukit adalah suatu bagian terpadu dari kisah tentang Yesus. Kita belajar etika dari suatu cerita dengan cara membiarkan cara cerita itu memandang dunia menjadi struktur simbolik makna-makna kita sendiri.

Di dalam kisah Alkitab kita dapat melihat suatu pandangan moral mengenai kehidupan yang diungkapkan dalam banyak cerita, puisi, sejarah, berita kenabian, khotbah-khotbah, doa-doa, kebaikan dan kejahatan disingkapkan dan disimbolkan dalam konteks budaya tertentu. Cerita Alkitab, bila dipahami dalam konteksnya, mengajarkan kita bagaimana menjadi baik pada saat kita melihat hidup kita sendiri sebagai bagian dari cerita yang sama. Cerita Alkitab menuntun kita untuk mengalami kenyataan dengan cara yang sejalan dengan karya Allah dalam dunia.

Kita telah mengetahui bahwa adat Batak merupakan hasil karya manusia yang memiliki dua sisi, yaitu sisi yang baik dan yang buruk. Hal itu sesuai dengan doktrin penciptaan manusia sebagaimana tertulis dalam Kitab Kejadian. Di satu sisi, kondisi atau keberadaan manusia tersebut adalah sangat mulia, di mana dia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah (Kej. 1:26-27). Tapi di sisi lain, manusia telah jatuh ke dalam dosa (Kej. 3:6-8) sehingga menciptakan adat yang buruk, yang tidak sesuai dengan kehendak Tuhan, bahkan sebagian di antaranya mengandung unsur kuasa gelap atau iblis.

Di dalam Perjanjian Baru telah jelas digambarkan bagaimana sikap Yesus terhadap adat Yahudi. Yesus melampaui adat kebudayaan dan telah memperbaruinya ke arah kebenaran firman Tuhan. Cara pandang dari sudut manusia yang telah mengagungkan adat melebihi kebesaran Allah, dipatahkan-Nya dengan mengajarkan bahwa firman Allah berkuasa di atas segala kehendak manusia, termasuk adat yang diciptakannya. Di samping firman Allah yang disampaikan langsung kepada para nabi dan hakim di zaman Perjanjian Lama, Yesus sendiri telah menjadi contoh, bagaimana sikap kita seharusnya dalam menghadapi adat. Jelaslah bahwa sikap yang benar terhadap adat Batak bukanlah menolak adat tersebut atau menerima semuanya, tetapi kita harus bersikap selektif. Dengan sikap selektif tersebut, kita akan menerima semua praktek dalam adat Batak yang sesuai dengan friman Allah dan menolak berbagai praktek yang bertentangan dengan firman Allah. Selain itu, kita juga perlu membangun sikap aktif dan kreatif untuk terus-menerus memperbarui adat Batak tersebut demi kemuliaan Allah dan demi kesejahteraan kita bersama.

“Tidak seorangpun menambalkan secarik kain yang belum susut pada baju yang tua, karena jika demikian, kain penambal itu akan mencabik baju itu, lalu makin besarlah koyaknya. Begitu pula anggur yang baru tidak diisikan ke dalam kantong kulit yang tua, karena jika demikian kantong itu akan koyak sehingga anggur itu terbuang dan kantong itupun hancur. Tetapi anggur yang baru disimpan orang dalam kantong yang baru pula, dan dengan demikian terpeliharalah kedua-duanya” (Mat. 9:16-17).

Ayat di atas menunjukkan pembaruan yang dibawa oleh Tuhan Yesus. Adat bukanlah suatu hal yang tak berubah. Kita perlu memikirkan suatu prinsip agar tidak merelatifkan atau meniadakan perbedaan yang ada antara adat dan firman Tuhan, melainkan memelihara ketegangan di antara keduanya secara positif, kreatif dan konstruktif, demi untuk mempertinggi kualitas rohani maupun kualitas kultural orang Batak Kristen. Di sisi lain kita terus-menerus bertanya dan menilai sejauh mana adat-istiadat itu kita hayati dan ungkapkan secara mendalam dan mendasar, bukan sekedar kulit dalam wujud upacara dan formalitas, serta sejauh mana adat itu menopang kita untuk memajukan iman kita dan meningkatkan kualitas kehidupan kita.

Melakukan hal itu sungguh tidak mudah. Untuk dapat bersikap selektif dan terus-menerus memperbarui adat, dibutuhkan kualitas kerohanian dan kemampuan tertentu.

Ada empat kriteria penting sebagai berikut:

a. Kita harus memiliki hubungan yang benar dengan Yesus Kristus.

Ini merupakan syarat yang pertama. Kepada jemaat di Roma (Rom. 8:5-8), rasul Paulus menegaskan bahwa keinginan Roh adalah hidup dan damai sejahtera, sedangkan keinginan daging adalah perseteruan dengan Allah. Mereka yang hidup dalam daging, tidak mungkin berkenan kepada Allah. Itu sebabnya kita perlu serius meresponi seruan firman Tuhan agar kita bertumbuh menjadi dewasa, sebagaimana tertulis di Efesus 4:13; “…sampai kita semua mencapai kesatuan iman dan pengetahuan yang benar tentang Anak Allah, kedewasaan penuh, dan tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus”.

b. Kita harus memahami adat Batak dengan benar.

Pemahaman adat dengan benar merupakan syarat kedua untuk dapat bersikap selektif terhadap adat. Ada kelompok yang jelas dan tegas menyatakan penolakannya terhadap adat Batak. Kita perlu mengamati apakah mereka telah memahami adat Batak dengan benar, sehingga memiliki alasan yang kuat untuk menolak adat tersebut.

c. Kita harus memahami Alkitab dengan benar.

Agar dapat menyeleksi adat Batak mana yang sesuai dengan Alkitab dan mana yang tidak, maka berita dan pesan Alkitab harus dipahami dengan baik dan benar.

d. Kita harus dapat menyelaraskan pemahaman adat dan firman Tuhan dengan benar.

Kita tidak perlu mempertentangkan antara adat dan firman Tuhan, yang sebenarnya tidak bertentangan. Dan sebaliknya, kita juga jangan menyamakan antara adat dan firman Tuhan, yang sebenarnya tidak sama.

Jika kita memiliki keempat kriteria ini, maka kita akan dapat bersikap dengan benar terhadap adat, karena kita memiliki hikmat Roh selain dari pengetahuan kita tentang adat. Beberapa adat Batak yang bertentangan dengan firman Tuhan haruslah kita tolak dengan tegas tanpa harus menimbulkan permusuhan dengan keluarga. Justru di sinilah peran kita untuk memperbarui penerapan adat yang salah.

Sebagai contoh, bagaimana sikap kita terhadap adat Batak dalam hal pendirian tugu untuk orang yang sudah meninggal, yang berhubungan dengan pemujaan nenek moyang. Jika hal itu dilakukan untuk mengenang kebaikan mereka yang sudah meninggal, maka kita dapat menerimanya sebagai pelajaran bagi kita terhadap hal-hal baik yang sudah dilakukan oleh para pendahulu kita. Namun jika sudah terdapat praktek penyembahan atau pemujaan terhadap nenek moyang, misalnya memohon berkat dari roh para orang mati tersebut, maka kita harus dengan tegas menolaknya. Kita tidak perlu takut akan resiko mendapatkan sanksi hukum adat maupun sanksi moral karena Yesus Kristus melampaui segala adat yang ada di bumi. Roh Kudus akan memberikan hikmat kepada kita untuk menolak dengan cara yang bijaksana, sehingga penolakan itu tidak perlu menimbulkan ketegangan dalam hubungan keluarga.

IV. KESIMPULAN

Orang Batak hidup di dalam sebuah lingkungan yang sarat dengan adat. Dalam menerapkan adat tersebut, kita harus selalu waspada agar tidak terjebak ke dalam praktek adat yang menghambat pertumbuhan iman kita, atau bahkan menyesatkan. Kita menerima dan menghargai adat sebagai karya nenek moyang kita yang sangat berharga. Bagaimanapun juga kita harus menyadari bahwa Allah juga bekerja di zaman para nenek moyang kita. Karya yang baik itu tidak lepas dari penyertaan Allah terhadap umat ciptaan-Nya, namun kita harus selektif dalam menerapkan adat tersebut. Kita menerima adat yang sejalan dengan firman Tuhan, dan menolak adat yang bertentangan dengan firman Tuhan. Kedewasaan rohani menjadi kunci bagi kita untuk dapat bersikap dengan benar, seturut dengan keteladanan Yesus.

Adat Batak nampaknya tidak mungkin berlalu, melainkan akan terus hidup di dalam setiap orang Batak. Namun adat selalu berubah seiring dengan perubahan zaman. Di sinilah kesempatan kita untuk melakukan pembaruan adat ke arah yang benar sejalan dengan firman Tuhan. Kita tidak dapat membuang adat namun kita dapat menyelaraskan adat dengan kebenaran firman Tuhan. Adat Batak, sebagai tata-tertib kehidupan dapat kita praktekkan tanpa harus jatuh ke dalam praktek-praktek adat yang menimbulkan dosa. Pengajaran firman Tuhan tidak menghasilkan adat Kristen yang meniadakan adat suku bangsa Batak, melainkan adat orang-orang yang menghayati persekutuan mereka di dalam kasih karunia Allah. Persekutuan yang kuat dengan Yesus Kristus akan memampukan kita bersikap dengan benar terhadap adat.


DAFTAR PUSTAKA

1. ________, Alkitab Terjemahan Bahasa Indonesia, LAI, 2005.
2. Adeney, Bernard T., Etika Sosial Lintas Budaya, Penerbit Kanisius, Yogyakarta, cet. 5, 2004.
3. Administrator, Budaya Batak, Artikel Google Blog, ________.
4. Marbun M. A., Kamus Budaya Batak Toba, Balai Pustaka, Jakarta, cet. 1, 1987.
5. Sagala, Mangapul, Pdt., Ir., D.Th., Injil dan Adat Batak, Yayasan Bina Dunia (YBD), Jakarta, cet. 2, 2008.
6. Sarumpaet J. P., M.A., Kamus Batak Indonesia, Penerbit Erlangga, Jakarta, cet. 1, 1994.
7. Schreiner, Lothar, Adat dan Injil - Perjumpaan Adat dengan Iman Kristen di Tanah Batak, BPK Gunung Mulia, Jakarta, cet. 6, 2002.
8. Siregar, Eliezer O.S.T., Pdt., S.Th., Adat Batak Ditinjau dari Segi Alktitab – Makalah Seminar Adat Perkawinan Batak Ditinjau dari Teologi Kristen, Adat Toba, Adat Samosir, Adat Silindung, Adat Humbang, Gereja HKBP Resort Yogyakarta, 6 Oktober 2007.
9. Tobing, O. L., Ph., The Structure of The Toba-Batak Belief in The High God, South and South-East Celebes Institute of Culture, Jakarta, cet. 3, 1994.
10. Teichman, Jenny, Etika Sosial, Penerbit Kanisius, cet. 10, 1998.
11. Vergouwen, J.C., Masyarakat dan Hukum Adat Batak Toba, Pustaka Azet, Jakarta, cet. 1, 1986.
12. Verkuyl, J., Dr., Etika Kristen Bagian Umum, BPK Gunung Mulia, Jakarta, cet. 19, 2004.
13. West, Larry, MA., C. PhD., Globalisasi dan Misi, Diktat Kuliah Program S2, Sekolah Tinggi Theologia Nazarene Indonesia, Yogyakarta, Februari 2009.
14. __________, Toba Indo – Kamus Elektronik, ___________.



Selasa, 21 Desember 2010

DASAR MEMBANGUN KEHIDUPAN ORANG KRISTEN

Oleh: Niken Nababan
Disajikan dalam tugas presentasi mata kuliah Teologi Perumpamaan Yesus, 
STTNI Yogyakarta Program Studi Magister Teologi.
Dosen: Robert D. McCroskey, Ph.D.

Eksposisi Matius 7:24-27 dan Lukas 6:47-49
PERUMPAMAAN DUA DASAR

A. PERBANDINGAN AYAT

1. Perbandingan perumpamaan
(Perbandingan cara mendirikan rumah)

Matius

Cara mendirikan rumah pertama:
• Mendirikan rumah di atas batu.
• Akibat saat datang musibah: rumah tidak rubuh.
Cara mendirikan rumah kedua:
• Mendirikan rumah di atas pasir
• Akibat saat datang musibah: rumah rubuh dan hebat kerusakannya.

Bentuk musibah yang datang: hujan, banjir, dan angin.

Lukas

Cara mendirikan rumah pertama:
• Menggali lebih dulu dalam-dalam lalu meletakkan dasarnya di atas batu.
• Akibat saat datang musibah: rumah kokoh dan tidak dapat digoyahkan
Cara mendirikan rumah kedua:
• Mendirikan rumah di atas tanah tanpa dasar
• Akibat saat datang musibah: rumah rubuh dan hebat kerusakannya.

Bentuk musibah yang datang: air bah dan banjir

2. Perbandingan Penjelasan Perumpamaan
(Perbandingan tentang dua kriteria pembangun rumah)

Matius

a) Orang yang mendengar perkataan Yesus dan melakukannya, sama dengan orang yang bijaksana.
b) Orang yang mendengar perkataan Yesus dan tidak melakukannya, sama dengan orang yang bodoh.

Lukas

a) Orang yang datang kepada Yesus dan mendengarkan perkataan-Nya serta melakukannya.
b) Orang yang mendengar perkataan Yesus tetapi tidak melakukannya.


B. LATAR BELAKANG

1. Pada zaman Yesus, rumah-rumah di pedesaan biasanya dibangun dari lumpur yang mengeras. Pencuri bisa melubangi tembok rumah semacam itu karena terbuat dari bahan yang rapuh (Matius 6:19).

2. Di Israel cuaca dapat berubah dengan cepat. Selama musim panas yang sering terjadi sangat lama, sungai-sungai banyak yang kering. Di musim dingin, hujan lebat membuat sungai kering bisa berubah menjadi aliran air yang sangat deras dan kadang-kadang merubah daratan secara drastis. Di padang gurunpun bisa terjadi banjir yang menyapu bersih perkemahan, menghilangkan nyawa manusia dan ternak.

3. Saat musim kering, orang-orang yang berdiam di lembah mengambil kesempatan bercocok tanam di tepi-tepi sungai, bahkan mendirikan pondok-pondok di situ, di atas tanah pasir. Mereka hanya memikirkan hasil yang akan mereka peroleh, tanpa memikirkan bahaya yang akan mereka alami jika sewaktu-waktu datang hujan.

4. Perumpamaan ini adalah penutup khotbah di bukit (Mat. 7:28; 8:1).

5. Matius menulis untuk pembaca bangsa Yahudi yang tinggal di Israel. Teknik-teknik pembangunan sebagaimana yang ditulis Matius dalam perumpamaan ini mudah dipahami. Matius menulis tentang hujan yang turun, aliran yang naik, dan angin yang bertiup.

6. Lukas menulis untuk bangsa Yunani dan Helenis. Jadi Lukas mengganti prosedur cara membangun yang berbeda dengan cara membangun di Israel. Tukang bangunan menggali fondasi rumah dalam-dalam dan meletakkannya di atas batu karang. Lukas menunjukkan adanya banjir yang datang dan aliran air yang deras.

7. Orang yang mendengar perumpamaan ini sangat mudah mengerti maksudnya karena merupakan kejadian yang sering mereka lihat maupun mereka alami.

8. Matius memunculkan perbandingan antara orang bijaksana yang membangun di atas batu dan orang bodoh yang membangun di atas pasir. Lukas menekankan pada dasar untuk membangun. Kedua bagian diawali dengan pernyataan (teguran) Yesus mengenai orang-orang yang pandai berseru ‘Tuhan’ tetapi tidak melakukan perkataan-Nya. Fokus pelajaran dari perumpamaan ini adalah mengenai ‘dasar untuk membangun’.

C. PERSOALAN

1. Tuhan menegur orang-orang yang menyerukan nama Tuhan tetapi tidak melakukan apa yang dikatakan Tuhan. Mengapa Yesus menyatakannya sebagai penutup khotbah-Nya? Apakah hal itu merupakan kesimpulan dari pengajaran-Nya pada hari itu?

2. Terjadi musibah banjir yang menyebabkan kerusakan hebat pada rumah jika rumah dibangun di atas pasir. Sebaliknya rumah tetap kokoh jika dibangun di atas batu. Mengapa orang tetap membangun rumah di atas pasir jika sudah tahu akan rusak jika datang banjir? Apakah mereka memang orang yang bodoh dan malas? Ataukah karena mereka orang yang miskin?

D. AJARAN PERUMPAMAAN

1. Hujan, angin dan banjir

a. Musibah banjir yang sering terjadi di Palestina, bisa menyebabkan kerusakan hebat pada bangunan rumah, bahkan meruntuhkannya. Namun jika fondasi rumah itu kokoh (fondasinya adalah batu) maka rumah itu tidak akan goyah, rusak atau runtuh.

b. Musibah alam ini menggambarkan berbagai masalah yang sering dihadapi manusia. Ketika dihadapkan dengan berbagai masalah hidup yang berat, orang Kristen tidak akan goyah imannya jika dia mempunyai dasar yang kokoh pada saat membangun kehidupannya. Dasar yang kokoh agar tahan menghadapi berbagai masalah dalam kehidupan adalah datang kepada Yesus, mendengar perkataan-Nya serta melakukannya. (Mat 7:24; Luk 6:47). Masalah yang dihadapi dapat merupakan cobaan dari iblis; atau karena kesalahan yang kita buat; atau karena Tuhan mau menguji iman kita dengan membiarkan kita menghadapi berbagai masalah.

2. Pembangun yang bijaksana

a. Batu adalah fondasi yang keras dan kuat. Rumah yang dibangun di atasnya tidak mudah goyah pada saat datang banjir atau angin.

b. Lukas menggambarkan caranya membangun adalah dengan menggali dalam-dalam dan meletakkan dasarnya di atas batu karang. Tidak disinggung secara jelas soal tempat yang digali itu, apakah itu berupa tanah atau batu karang itu sendiri. Jika tanah, tentunya yang dimaksud adalah tanah keras yang di dalamnya ada batu karang. Kemungkinan lain, yang digali adalah batu karang itu sendiri. Apapun itu, menggali adalah pekerjaan yang berat, terlebih jika yang digali adalah batu. Berat, sulit, memakan waktu yang lama, membutuhkan tenaga yang besar dan harus mau bekerja keras serta pantang menyerah jika ingin berhasil.

c. Pembangun rumah ini memikirkan tujuan jangka panjang. Dia memperhitungkan bahwa sewaktu-waktu akan datang hujan, angin dan banjir, yang dapat merobohkan rumah jika rumah tidak kokoh. Maka ia harus membangun rumah di atas batu supaya rumah itu kokoh. Meskipun memerlukan waktu yang lama, tetap akan ditempuhnya karena ia mau memakai rumah itu untuk jangka waktu yang lama. Apa yang telah dikorbankannya tidak akan sia-sia.

d. Matius menyebutnya sebagai orang yang bijaksana, karena ia mendengar perkataan Yesus dan melakukannya. Orang yang melakukan perkataan Yesus sama dengan melakukan kehendak Bapa, dan dialah yang akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga (Mat 7:21). Lukas menulis, orang seperti ini adalah orang yang datang kepada Yesus dan mendengarkan perkataan Yesus serta melakukannya (Luk 6:46).

e. Dasar yang kuat untuk membangun kehidupan adalah datang kepada Yesus, mendengarkan firman-Nya dan melakukannya. Kehidupan akan menjadi kuat, tidak akan mudah goyah imannya, dan siap setiap saat menghadapi berbagai persoalan yang berat. Hasilnya adalah keselamatan.

3. Pembangun yang bodoh

a. Matius menulis tentang membangun rumah di atas pasir, sedangkan Lukas, membangun di atas tanah tanpa dasar. Sifat pasir adalah: mudah digali, mudah tergerus air, dan mudah bergeser karena angin. Karena sifat-sifatnya ini, maka jika membangun rumah di atas pasir rumah tersebut tidak akan kokoh, melainkan mudah rusak bahkan runtuh saat dilanda banjir atau diterpa angin yang kuat. Demikian pula jika membangun di atas tanah tanpa dasar. Sifat tanah juga mudah tergerus air, sehingga jika rumah dibangun tanpa fondasi batu, rumah itu akan runtuh di saat banjir.

b. Membangun rumah di atas pasir menunjukkan pekerjaan yang sembarangan, tidak mau repot mencari lokasi yang aman. Membangun rumah tanpa dasar menunjukkan tidak mau melakukan pekerjaan yang berat dan sukar. Pembangun rumah ini tidak memikirkan tujuan jangka panjang. Dia hanya berpikir pendek, menginginkan rumah segera jadi, segera bisa ditempati, menggunakan cara yang mudah, tidak mau bekerja keras dan tidak mau melakukan hal-hal yang sukar. Dia tidak memperhitungkan adanya musibah yang akan datang. Pada saat datang hujan dan banjir, rumah itupun akan roboh karena fondasinya tidak kokoh. Apa yang telah dikorbankannya pada akhirnya menjadi sia-sia.

c. Matius menyebut orang ini adalah orang yang bodoh. Kedua Injil menulis bahwa orang ini adalah orang yang berseru kepada Yesus, mendengar perkataan Yesus tapi tidak melakukannya. (Mat 7:26; Luk 6:46, 49).

d. Orang yang datang kepada Yesus tetapi tidak mau mendengarkan perkataan-Nya, apalagi melakukan-Nya, akan menghasilkan kehidupan yang lemah, tidak siap jika tiba-tiba datang persoalan berat, dan tidak mampu mengatasinya. Hasilnya adalah kehancuran.

• Perbedaan kedua rumah itu terletak pada dasarnya. Dilihat dari luar mungkin tampak sama baik dan indah, namun berbeda dalam hal kekuatan dan kualitasnya. Ini hanya bisa dilihat jika kita menyelidiki dengan membongkar lantainya, atau setelah rumah itu roboh.


E. APLIKASI

1. Hujan, angin dan banjir

a. Kita, orang Kristen, sering menghadapi berbagai masalah yang berat, yang datang dari luar. Masalah keluarga, ekonomi, tekanan-tekanan dari masyarakat non Kristen, godaan iblis, dan lain sebagainya.

b. Masalah kadang-kadang datang secara tiba-tiba atau di luar rencana kita, bahkan di luar kemampuan kita dapat memikirkannya.

c. Kita harus selalu siap menghadapi berbagai masalah yang datang.

2. Pembangun yang bijaksana

a. Membangun rumah diartikan sebagai membangun kehidupan. Setiap orang percaya yang mengalami lahir baru maka ia mulai membangun kehidupan yang baru (2 Kor 5:17).

b. Supaya kehidupan ini kuat maka harus dibangun di atas dasar yang kokoh. Yesus menyebut dasar ini adalah batu karang. Apa yang diwakili oleh batu karang? Paulus menyatakan bahwa batu karang yang menjadi landasan bangunan kehidupan ini adalah Kristus. Jika kita membangun kehidupan di atas Kristus, kita akan memiliki kehidupan yang kokoh, dan kita akan aman serta selamat. Apa arti membangun di atas Kristus? Artinya, seluruh kehidupan kita bergantung sepenuhnya kepada Kristus. Seluruh bangunan kehidupan kita bertumpu sepenuhnya kepada Kristus sebagai landasan hidup kita. Rumah yang kita bangunpun seharusnya menggunakan bahan yang terbaik, seperti emas dan perak. Kita harus memberikan yang terbaik dari diri kita di dalam membangun kehidupan kita. Kristus akan menopang kita dalam menghadapi berbagai persoalan kehidupan dan memampukan kita melewati ujian sehingga kita tetap kokoh dan memperoleh keselamatan kekal (1 Kor 3:10-14).

c. Lukas menulis tentang ‘menggali dalam-dalam’. Hal ini bukan saja hanya diartikan sebagai bekerja keras, namun juga dapat diartikan ‘menggali sampai ke dalam Kristus’. Seharusnya kita membangun hubungan yang dalam dengan Kristus.

d. Hidup kita setiap hari harus bergerak ke arah Kristus. Jika kita telah membangun hubungan yang kokoh dengan Tuhan, rumah kita bukan sekedar berdiri di atas batu, tetapi ia tertanam di batu itu. Paulus menyebutnya sebagai “berakar di dalam Kristus”. Tuhan menginginkan kita memiliki hubungan yang kuat terikat dengan Kristus, seperti akar yang mencengkeram. Tuhan ingin kita bertambah teguh di dalam iman kepada Kristus dan hati kita melimpah dengan ucapan syukur. (Kol 2:6-7).

e. Kita harus menjadi orang Kristen yang memandang jauh ke depan, bahwa hidup bukan hanya untuk sesaat di dunia ini saja, tetapi sampai kepada kehidupan kekal. Menjadi orang Kristen tidak cukup hanya mendengarkan firman-Nya saja tetapi harus menjadikan firman itu hidup dalam diri kita dengan mempraktekkannya dalam kehidupan sehari-hari.

f. Kita perlu merenungkan hal-hal yang kita lakukan setiap hari:
• Berapa banyak waktu yang kita gunakan untuk merenungkan firman Allah?
• Berapa banyak waktu yang kita gunakan untuk mengenal Allah?
• Sudahkah kita melakukan kehendak Allah?
• Sudahkah kita benar-benar hidup di dalam Kristus?
• Sudahkah kita mengandalkan Kristus sepenuhnya untuk menopang kehidupan kita?

3. Pembangun yang bodoh

a. Orang yang bodoh membangun kehidupannya di atas ‘dunia’, misalnya: harta, kekuasaan, kekasih, kehormatan, dll. Semua hal dunia ini sifatnya tidak tetap, seperti pasir, yang mudah bergeser. Bagaimana jika datang persoalan? Kedua Injil dengan jelas menuliskan, hasilnya adalah kehancuran. Jika kita mengandalkan ‘dunia’ ini sebagai landasan kehidupan kita, maka yang akan kita dapat adalah kehidupan yang lemah, mudah terseret arus yang jahat, dan pada akhirnya hidup kita menjadi hancur.

b. Orang ini membangun kehidupannya dengan asal-asalan karena ia berpikir hidup hanya untuk hari ini saja. Dia hanya memikirkan tujuan jangka pendek dan tidak ingin bersusah payah membangun hubungan yang dalam dengan Kristus. Bagaimana dengan kita? Apakah kita termasuk jenis orang yang berkata, “Marilah kita makan dan minum sebab besok kita mati. Hari inilah milik kita jadi mari kita nikmati selagi sempat?”. Jika ya, maka kita akan menjadi orang yang lemah imannya tidak akan siap jika tiba-tiba datang persoalan yang berat. Pastilah hidup kita akan hancur. Meskipun kita tetap memperoleh keselamatan karena kita percaya kepada Yesus, tetapi seperti di dalam api (1 Kor 3:15). Dalam buku Tafsiran Alkitab Masa Kini ditulis, bahwa meskipun dia selamat tetapi upahnya tidak akan sama besarnya dengan orang yang memberikan apa yang terbaik dari dirinya di dalam membangun kehidupan bersama Kristus.

c. Orang yang rumahnya tersapu banjir akan sangat menyesal. Jika kita tidak ingin menyesal maka kita tidak boleh berbuat seperti pembangun yang bodoh ini. Ketika kita selamat dari banjir, hendaknya kita bukan sekedar selamat saja, yaitu tidak memiliki apa-apa lagi selain hanya tangan kosong. Kita akan tetap selamat namun dengan menyesali kelalaian kita yang tidak membangun untuk masa depan. Mari kita pikirkan hal ini, bagaimana jika kita selamat dari banjir dan harus menghadap Allah dengan tangan hampa? Sama halnya dengan orang yang berseru kepada Tuhan tetapi tidak melakukan kehendak Bapa di sorga (Mat 7:21). Dan hasilnya adalah, Tuhan tidak mengenal kita dan mengusir kita dari hadapan-Nya, karena kita tidak pernah mau berusaha membangun hubungan yang dalam dengan Kristus (Mat 7:23).

d. Kita sering mengatakan bahwa kita percaya kepada Kristus. Tetapi sudahkah kita melakukan firman-Nya? Berbuat tidak semudah mengatakannya. Mungkin harus kita akui bahwa sangat sulit untuk mempraktekkan firman Tuhan dalam kehidupan kita sehari-hari. Namun jika kita benar-benar mengandalkan Kristus sebagai landasan hidup kita dan kita setiap hari mau berusaha keras membangun hubungan yang dalam dengan Kristus, maka Dia akan menolong kita untuk dapat melakukan kehendak-Nya. Niscaya kita akan mampu menahan badai kehidupan yang menerpa kita dan menerima upah yang indah karena kita berhasil melewati ujian.


REFERENSI

______________, Alkitab, LAI, Jakarta, 2002.
_____________, Tafsiran Alkitab Masa Kini 3: Matius – Wahyu, Yayasan Komunikasi Bina Kasih OMF, Jakarta, Cet. 14, 2006.
______________, Ensiklopedi Alkitab Masa Kini-jilid 1, Yayasan Komunikasi Bina Kasih/OMF, cet.7, 2002.
Bevere, John, Dasar yang Teguh, Artikel, Weekly Newsletter, Google Blog, 18 Juli 2009.
Blomberg, Craig L., Interpreting the Parables, Intervarsity Press, Downers Grove, Illinois, 1990
Budiono, Paulus, Berseru Nama Tuhan dan Melakukan Firman-Nya adalah Dasar yang Teguh, Artikel, Google Blog, 21 Juni 2009.
Chang, Eric, Dua Macam Dasar, Catatan Khotbah, Google Blog, Montreal, 22 Mei 1977.
Jaffray, R. A., Dr., Perumpamaan Tuhan Yesus-jilid 1, Yayasan Kalam Hidup, Bandung, cet.8, 2000.
Kistemaker, Simon J., Perumpamaan-Perumpamaan Yesus, Literatur SAAT, Malang, Cet. 3, 2007.







Sabtu, 30 Oktober 2010

KALEB: ORANG YANG TEGUH MEMPERTAHANKAN PRINSIP

KALEB: ORANG YANG TEGUH MEMPERTAHANKAN PRINSIP
Oleh: Niken Nababan

RIWAYAT HIDUP KALEB

Kaleb hidup pada masa Keluaran, kira-kira 400-450 tahun setelah Yakub dan putra-putranya pergi ke Mesir untuk menyelamatkan diri dari bahaya kelaparan di Kanaan. Selama periode ini, melalui Musa, Allah membebaskan umat Israel dari perbudakan di Mesir dan memimpin mereka melewati padang gurun untuk memiliki tanah Kanaan, tanah yang telah dijanjikan Allah kepada Abraham dan keturunannya berabad-abad sebelumnya. Kita mengenal Kaleb untuk pertama kalinya ketika bangsa Israel sampai di perbatasan Kanaan. Riwayat hidup Kaleb ditulis di kitab Bilangan 13, Bilangan 14, Bilangan 32, Ulangan 1, Yosua 14-15. Kaleb adalah orang Kenas, putra ketiga Hezron, anak Peres, adik bungsu Yerahmeel (1 Taw 2:9). Kaleb adalah pemimpin Yehuda, merupakan salah satu dari dua belas pengintai yang diutus Musa untuk mengintai tanah Kanaan. Waktu itu Kaleb berumur 40 tahun. Diceritakan di Bilangan 13:17-33, saat itu bangsa Israel berkemah di padang gurun Paran, Musa mengutus dua belas pengintai pergi ke tanah Kanaan, -yang jauhnya kira-kira 120 km dari padang gurun Paran-, untuk menyelidiki segala sesuatu tentang Kanaan, yaitu keadaan tanahnya, penduduknya dan bentuk kotanya. Pada masa itu sedang musim panen anggur kira-kira akhir bulan Juli. Mereka pulang dari tugas pengintaian dengan membawa setandan buah anggur, delima dan ara, sebagai bukti bahwa Kanaan adalah negeri yang subur dan makmur. Kota-kotanya besar, berkubu/berbenteng, dengan luas antara 2,5ha - 10 ha. Penduduknya terdiri dari campuran berbagai suku, yaitu suku keturunan Enak, Amalek, Het, Yebus, Amori, dan Kanaan. Orang-orang Enak berperawakan tinggi, kuat dan raksasa. Sekembalinya dari Kanaan, mereka memberikan laporan yang sama dengan respon yang berbeda mengenai Kanaan.

Laporan pertama, sepuluh pengintai mengatakan bahwa Kanaan memang negeri yang berlimpah susu dan madunya, dan respon mereka, "Tetapi orangnya besar-besar dan suka memakan orang. Kita tidak dapat maju. Kita tidak mungkin mengalahkan mereka!" (Bil 13:31-33)

Laporan kedua, Kaleb dan Yosua mengatakan hal yang sama, yaitu Kanaan yang berlimpah susu dan madunya, serta dihuni oleh orang Enak yang besar-besar dan kuat, tetapi respon Kaleb, "Kita akan maju dan menduduki negeri itu, sebab kita pasti akan mengalahkannya"(Bilangan 14:30). Dengan sikap imannya ini Kaleb menjadi salah satu yang diijinkan Tuhan masuk Kanaan Tuhan menjanjikan bahwa Kaleb dan anak-anaknya akan melihat dan mendapatkan negeri yang dijanjikan Allah (Ulangan 1:34-36).

Akhirnya pada umur 85 tahun Kaleb memperoleh tanah pegunungan yang dijanjikan Tuhan, yaitu Hebron, menjadi tanah milik pusakanya (Yosua 14:6-15). Bahkan Kaleb juga mendapatkan tanah lainnya yaitu Kiryat-Arba dan Debir/Kiryat-Sefer yang direbut oleh Otniel yang kemudian menjadi menantunya (Yosua 15:13-17).

KETELADANAN HIDUP KALEB

Kaleb adalah tokoh yang layak untuk dipelajari karena banyak sifat dan sikap positif yang pantas untuk kita teladani.

1. Iman yang teguh kepada Tuhan.

Keteguhan iman Kaleb terlihat dari sikap dan kata-katanya. la mengoyakkan pakaiannya sebagai tanda tunduk dan takut kepada Tuhan dan berkata, "Jika Tuhan berkenan kepada kita, maka la akan membawa kita masuk ke negeri itu .... " (Bilangan 14:6-9). Iman inilah yang memampukan Kaleb bersikap optimis dan berani mengambil sikap yang berbeda dengan sepuluh pengintai lainnya meskipun nyawanya terancam (Bilangan 14:10). Yaitu bahwa Allah yang mengutus mereka, Allah yang mereka sembah, Allah yang membebaskan mereka dati Mesir, pasti sanggup menolong mereka menghancurkan orang-orang Enak dan merebut tanah Kanaan yang sudah dijanjikan Allah. Inilah iman yang murni, iman yang tidak mempertanyakan ini dan itu, akan tetapi dengan penuh keyakinan percaya bahwa Tuhan yang memberikan tugas pasti sanggup menolong mereka menyelesaikan tugas tersebut. Sungguh suatu keteladanan iman yang tak tergoyahkan bagaimanapun sulit rintangan yang dihadapi.

2. Optimis atau berpikir positif.

Sikap ini ditunjukkan di Bilangan 13:30, di mana dia mengatakan, "Kita akan maju dan menduduki negeri itu, sebab kita pasti akan mengalahkan mereka". Sebagai contoh, jika kita melihat gelas yang berisi air setengahnya, pendapat apa yang muncul? Orang yang punya pola pikir positif atau optimis akan mengatakan sebagai gelas setengah penuh, sebaliknya orang yang punya pola pikir negatif atau pesimis akan melihatnya setengah kosong. Dua belas orang mengarah pada satu tempat yang sama selama 40 hari, kesimpulan akhir yang didapat berbeda bahkan bertolak belakang. Sayangnya suara terbanyak yang pesimislah yang didengar, akibatnya adalah sebuah keputusan fatal, yang membuat mereka harus berputar-putar di padang gurun selama 40 tahun sebelum akhirnya bisa memasuki Kanaan. Sikap optimis Kaleb menimbulkan akibat yang sangat baik bagi dirinya. Sikap optimis memberikan kekuatan dan motivasi untuk mencapai tujuan.

3. Berani mempertahankan prinsip kebenaran.

Iman yang dimiliki Kaleb mampu mengalahkan ketakutannya pada penduduk Kanaan yang berperawakan raksasa. Kaleb juga berani melawan bangsa Israel yang mengancam hendak melontarinya dengan batu. Meskipun nyawanya terancam, Kaleb berani melawan pendapat mayoritas dan dengan sekuat tenaga mempertahankan pendapatnya karena dia yakin akan kebenaran Allah dan perlindungan Allah kepadanya.

4. Tidak bersungut-sungut atau mengeluh.

Setelah mendengar laporan dari pengintai, bangsa Israel bersungut-sungut dan mengeluh berkepanjangan, bahkan menyalahkan Tuhan. Tetapi Kaleb tidak mengeluh karena ia dapat merasakan kasih Tuhan yang selalu menyertai umat semenjak keluar dari Mesir. Kaleb tahu bahwa segala penderitaan yang dialami bangsa Israel disebabkan mereka selalu berontak pada Tuhan sehingga membuat Tuhan murka. Kaleb tahu bahwa jika umat tidak berontak pada Tuhan maka Tuhan akan berkenan dan membawa mereka masuk ke Kanaan. Semua ini juga didasari oleh irnan Kaleb.

5. Mempunyai roh yang berbeda (Bilangan 14:24).

Kata 'roh' dalam bahasa aslinya Ibrani menggunakan kata 'ruwach' yang memiliki banyak definisi. Dalam konteks ayat ini, kata 'roh' dapat didefinisikan sebagai kepribadian dan karakter seorang Kaleb yang berbeda dengan orang lain. Terjemahan NIV menyebutnya 'different spirit' yang dapat diartikan Kaleb mempunyai semangat yang berbeda. Life Application Bible (The Living Bible) menterjemahkan sebagai 'different kind' yang dapat diartikan bahwa Kaleb mempunyai kebaikan hati yang berbeda dari orang lain.

6. Mengikut Tuhan dengan sepenuhnya (Bilangan 14:24).

Kaleb memiliki kesetiaan dalam mengikut Tuhan. NIV menterjemahkan sebagai, 'he follows Lord wholeheartedly' yang diartikan sebagai: mengikut Tuhan dengan sepenuh hati, tulus ikhlas dan sungguh-sungguh. Bayangkan ketika diri kita sedang jatuh cinta pada seseorang, maka kehidupan kita dipenuhi oleh sebuah energi yang sangat luar biasa untuk menyenangkan orang yang kita cintai tanpa mengharapkan balasan. Apalagi ketika orang yang kita cintai menyambut cinta kita. Seperti itulah kira-kira kesungguhan Kaleb dalam mengikut Tuhannya. Cintanya pada Tuhan membuatnya mempunyai loyalitas yang tinggi.

7. Mempunyai sifat melindungi dan peduli pada bangsanya (Bilangan 13:30; 14:1-9).

Sifat ini ditunjukkan saat Kaleb secara spontan mencoba menentramkan hati bangsa Israel yang bergejolak dan gundah karena mendengar laporan buruk dari sepuluh pengintai. Kaleb tidak mau bangsanya terus memberontak kepada Allah dan mendapat hukuman Allah. Kaleb ingin bangsanya bersama-sama dengan dia memiliki tanah perjanjian. Dia tidak memikirkan keselamatannya sendiri tetapi juga memikirkan bangsanya untuk berjuang bersama-sama menuju ke arah yang lebih baik seperti yang dijanjikan Tuhan kepada bangsa Israel. Dalam peristiwa ini sifat kepemimpinannya juga terlihat menonjol dibanding para pengintai lainnya.

8. Tegas dan teguh pada komitmen.

Kaleb mempunyai sifat tegas dan teguh pada komitmennya untuk mengikut Tuhan dengan sepenuh hati. Dia telah berkomitmen untuk menjalankan tugas yang diberikan kepadanya dan dia mau menjalankan tugas itu sampai selesai. Kaleb percaya bahwa Allah akan memenuhi janji-Nya kepada bangsa Israel.

9. Mental pemenang dan semangat yang tinggi.

Kaleb mempunyai mental pemenang. Mental ini dibangun oleh sikap optimisnya yang didasari oleh irnan yang kokoh. Keyakinan Kaleb bahwa bangsa Israel akan bisa mengalahkan orang-orang perkasa dan merebut tanah Kanaan, menunjukkan bahwa Kaleb punya mental pemenang atau juara sebelum maju berperang. Meskipun harus berjuang selama puluhan tahun untuk memasuki Kanaan, mentalnya tetap kuat. Saat ia berusia 85 tahun, kekuatan dan semangatnya masih sarna seperti saat ia berusia 40 tahun. Tidak ada kata menyerah dalam hidupnya. Semua ini karena pemeliharaan Tuhan dalam hidupnya.

HAL-HAL NEGATIF DALAM KEHIDUPAN KALEB

Sepanjang yang ditulis dalam Alkitab, tidak ditemukan adanya hal-hal negatif dalam hidup Kaleb. Kaleb hidup dengan benar dan taat kepada Tuhan.


PRINSIP ATAU PELAJARAN YANG BISA DIAMBIL DARI TOKOH KALEB

1. Iman yang teguh memampukan kita menghadapi berbagai masalah kehidupan.

Iman Kaleb kepada Tuhan telah memampukan Kaleb untuk melawan pendapat mayoritas. Yaitu bahwa Allah yang mengutus mereka, Allah yang mereka sembah, Allah yang membebaskan mereka dari Mesir, sanggup menolong mereka menghancurkan orang-orang Enak dan merebut tanah Kanaan yang sudah dijanjikan itu. Inilah iman yang murni, iman yang tidak mempertanyakan ini dan itu, akan tetapi dengan penuh keyakinan percaya bahwa Tuhan yang memberikan tugas sanggup menolong mereka menyelesaikan tugas yang diberikan, bagaimanapun sulitnya 'badai' yang ada di Kanaan, dan Allah akan memberikan tanah yang sudah dijanjikan itu. Sungguh suatu teladan dari iman yang tak tergoyahkan. Hal ini mengajarkan pada kita bahwa di dalam menghadapi situasi negara kita saat ini yang serba sulit, di mana orang-orang saling menyikut dan menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuannya, kita seharusnya meniru keteguhan iman Kaleb. Jangan patah semangat, jangan takut, tetapi tetap berusaha di dalam iman kepada Allah bahwa Allah akan memenuhi janji-Nya untuk menyediakan segala keperluan kita, menopang kita dalam menghadapi badai hidup, dan akan memberikan mahkota kehidupan kepada barang siapa yang tahan uji.

2. Tuhan memelihara kehidupan orang yang setia mengikut Tuhan dengan sepenuh hati.

Iman Kaleb adalah iman yang hidup, yang dinamis, yang dia nyatakan dalam kehidupannya, yaitu mengikut Tuhan dengan sepenuhnya. Kaleb memiliki kesetiaan yang besar dalam mengikut Tuhan sehingga dirinya memperoleh banyak berkat dari Allah dan Allah berkenan memelihara hidupnya dan seluruh keturunannya sampai akhir hidupnya dan Allah memberikan apa yang sudah dijanjikan-Nya. Jika kita ingin menikmati janji Allah, yaitu kehidupan yang dipelihara Allah dalam kasih setia-Nya dan dipenuhi suka cita sorgawi, maka kita harus setia mengikut Tuhan walaupun harus menghadapi berbagai kesulitan. Kita tidak perlu menghitung berapa lama harus beIjuang, tetapi seumur hidup kita hendaknya setia kepada Allah. Kita jangan memandang beratnya tantangan hidup dengan ukuran manusia, sebaliknya kita juga jangan hanya memandang berkat yang akan diperoleh, tetapi memandang Tuhan dan segala sesuatu dengan ukuran Tuhan, maka Tuhan akan memberikan lebih dari pada yang dapat kita pikirkan atau bayangkan sesuai dengan keperluan kita.

3. Tuhan menyertai orang yang teguh pada komitmen dan mempertahankan prinsip yang sesuai dengan kebenaran firman Tuhan.

Pelajaran lain yang kita dapat adalah dalam hal teguh pada komitmen dan berani mempertahankan pendapat yang benar menurut firman Tuhan meskipun kita termasuk dalam kelompok minoritas. Pendapat mayoritas tidak selalu benar, tetapi pendapat minoritaspun belum tentu benar. Yang menjadi ukuran pendapat kita benar atau tidak adalah frrman Tuhan. Jika pendapat kita benar menurut firman Tuhan, maka kita harus bersikap seperti Kaleb yang teguh pada komitmennya mengerjakan tugas yang diberikan kepadanya dan berani melawan pendapat mayoritas. Betapapun sulitnya kita harus percaya bahwa Allah akan menyertai dan menolong kita menghadapi setiap masalah.

4. Dekat dengan Tuhan membuat kita mempunyai visi hidup yang benar.

Kedekatan hubungan Kaleb dengan Tuhan membuat Kaleb dimampukan untuk memiliki visi hidup yang datangnya dari Allah. Jika kita dekat dengan Tuhan maka Tuhan akan senantiasa menolong kita untuk mampu menentukan tujuan hidup yang benar.

5. Bersikap optimis memotivasi kita untuk terus maju dan tidak mudah menyerah.

Dalam memandang hidup ini kita juga perlu meniru sifat Kaleb yang selalu bersikap optimis atau berpikir positif. Kita jangan hanya memandang masalah yang kita hadapi ataupun berita-berita negatif yang kita lihat dan kita dengar. Berita ini sering hanya akan membawa kita pada kekecewaan, kesedihan, keputus-asaan, depresi dan melemahkan kita. Kita harus belajar untuk selalu mengingat dan melihat anugrah Tuhan yang sudah diberikan kepada kita, serta membiasakan diri untuk membuka mata dan telinga selebar-lebarnya bagi hal-hal positif, hal-hal yang membangun dan semua berita baik. Sikap ini akan membawa kita untuk bergerak maju dan memotivasi kita untuk terus berjuang mencapai tujuan hidup kita. Sikap optimis ini juga akan membangun sikap selalu mengucap syukur dan melakukan segala pekerjaaan kita dengan tidak bersungut-sungut atau mengeluh.

6. Kita harus memberi dampak positif bagi orang lain.

Sikap-sikap Kaleb dalam menjalani kehidupannya berdampak besar bagi seluruh¬ keluarga dan keturunannya. Bukan hanya Kaleb yang dapat menikmati tanah perjanjian, tetapi seluruh keturunannya juga. Sebaliknya sikap yang diambil oleh sepuluh pengintai membawa dampak negatif yang sangat besar pula bagi seluruh keluarga dan keturunannya. Yang mendapat hukuman Tuhan bukan hanya sepuluh pengintai itu tetapi juga seluruh keturunannya. Maka kita harus selalu memohon hikmat Allah di dalam bersikap ataupun mengambil keputusan karena segala perbuatan kita dapat berdampak bagi orang lain. Kita harus dapat memberi dampak positif bagi orang lain sebagaimana yang dikehendaki Allah bahwa setiap orang Kristen harus menjadi garam dan terang dunia bagi orang lain di manapun berada.

7. Budaya yang tidak perlu ditiru.

Meskipun tidak ada hal negatif yang ditemukan dalam diri Kaleb sesuai konteks zamannya, namun ada satu hal yang tidak harus kita tiru, yaitu ketika Kaleb memberikan anak perempuannya untuk dijadikan istri oleh siapa saja yang dapat merebut tanah Debir/Kiryat-Sefer. Pada zamannya hal itu adalah biasa, tetapi untuk konteks zaman sekarang, mungkin banyak budaya masyarakat yang tidak dapat lagi menerima hal itu. Tetapi jika ada bangsa tertentu yang masih mempunyai budaya seperti itu dan mereka menjalankannya dengan damai sejahtera, maka kita harus menghargainya juga. Saya pribadi memiliki prinsip bahwa anak adalah manusia yang harus dihargai dan dikasihi sebagaimana Tuhan mengasihinya. Sebagai orang tua sebaiknya kita tidak menjadikan anak sebagai barang hadiah untuk dipertandingkan, atau untuk ditukarkan dengan harta dunia. Anak harus menemukan pasangan hidupnya di dalam perjuangan dan pergumulan doanya sendiri bersama Tuhan, yang kita dukung dengan penuh kasih. Prinsip yang harus kita pegang teguh adalah sungguh-sungguh mengarahkan anak-anak kita untuk mendapatkan pasangan hidup yang seiman (2 Kor. 6:14).


Buku Referensi:

1. “Alkitab”, Lembaga Alkitab Indonesia (LAI), Jakarta, 2005.
2. “New International Version Holy Bible”, The Zondervan Corporation, Grand Rapids, Michigan, U.S.A, Revised August, 1983.
3. Marilyn Kunz, “Pola Hidup Ilahi”, Perkantas, Jakarta, 1989.
4. “Life Application Bible The Living Bible”, Tyndale House Publishers, Inc. Youth For Christ/USA, Wheaton, Illinois, 1986.
5. “Tafsir Alkitab Masa Kini”, Yayasan Komunikasi Bina Kasih/OMF, Jakarta, 2000.
6. “Ensiklopedi Alkitab Masa Kini”, Yayasan Komunikasi Bina Kasih/OMF, Jakarta, 2002.
7. Donald C. Stamps, M.A., M.Div. dan J. Wesley Adam, Ph.D., “Alkitab Penuntun Hidup Berkelimpahan”, diterjemahkan dari Full Life Study Bible oleh Anthony E. Sorbo dan Clara Sorbo, Penerbit Gandum Mas, Jakarta, 2000.